Hari pertama masuk sekolah bukan hanya milik para murid. Hari tersebut juga jadi momen bersejarah nan penting yang turut melibatkan orangtua. Jadi tidak cuma sang anak yang deg-degan menantikan datangnya waktu itu.
Tugas pertama orangtua biasanya dilakukan sehari sebelumnya. Orangtua melihat kembali apakah seragam sang anak telah disetrika rapi, muat di badan anak, dan telah terpasang badge sesuai jenjang pendidikan.
Sepatu tersemir dan kaus kaki tidak bolong serta telah ada sepasang menjadi aspek berikutnya yang dipantau orangtua. Pengecekan yang demikian akan menentukan tampilan anak. Meski terlihat sepele, ini ada manfaatnya. Anak lebih tenang dan riang menghadapi kelas baru dengan tampilan yang nyaman.
Lalu, orangtua akan bergerilya ke kamar anak. Isi tas si anak dilongok. Apakah peralatan tulis telah terangkut dan tidak lupa dinamai supaya tidak tertukar dengan milik kawan. Orangtua harus memastikan apakah perlengkapan sekolah sang anak sudah lengkap.Setelah dinyatakan beres, tugas lebih krusial telah menyambut orangtua di keesokan hari.
Membangunkan sang buah hati supaya tidak terlambat berangkat sudah menghadang pada pagi hari. Pasalnya, sang anak mungkin saja masih terbawa ritme tidur saat musim liburan. Lalu, kegiatan berikutnya adalah menyiapkan sarapan dan bekal supaya perut sang anak tidak kosong. Karena untuk mencerna pengetahuan dibutuhkan amunisi tenaga yang umumnya diperoleh dari makanan. Dan tibalah saatnya para orangtua bersiap untuk mengantar anaknya menyongsong masa depan yang cerah lewat pendidikan yang lebih tinggi.
Sedangkan sang anak sendiri umumnya dilanda kecemasan lantaran mesti menempati kelas baru dan tentu dengan suasana baru. Kehadiran teman dan guru yang baru tak dipungkiri ikut menambah perasaan tersebut. Namun, sebenarnya hal ini bisa diatasi seiring dengan waktu dan bertambahnya umur sang anak.
Sehingga untuk bocah yang baru akan menginjak bangku Taman Kanak-Kanak biasanya akan ditemani oleh pengantar baik orangtua ataupun sang pengasuh selama pembelajaran di kelas. Dan ini biasanya diperbolehkan oleh guru. Pasalnya, anak merasa aman dan nyaman berada di lingkungan asing ketika ada orang telah ia kenal.
Keluarnya izin tersebut merupakan sebuah pengecualian untuk hari pertama. Kebijakan ini pun tidak berlangsung terus- terusan. Pada hari-hari mendatang, orangtua cuma diperkenankan menunggu di area luar kelas. Supaya sang anak mandiri dan berani bersosialisasi dengan orang baru. Selain itu, untuk mengajarkan anak tidak ketergantungan dengan orang dekatnya.
Sementara bagi murid SD, kemampuan untuk mengakrabkan diri dengan teman sebaya atau orang baru makin terasah. Bekal soal pengetahuan adaptasi yang diberikan guru semasa TK akan diterapkan para murid SD. Dengan demikian, pengantar biasanya langsung pulang ketika sang anak telah sampai di gerbang sekolah.
Anak SD tidak terlalu malu-malu untuk sekadar menyapa duluan temannya. Saat sesi jabat tangan dan mengenal teman beserta guru juga lebih terarah meski para murid tetap heboh dan aktif.
Apalagi banyak teman lama sewaktu TK yang juga bersekolah di SD yang sama. Ditambah pasti juga ada teman-teman dari lingkungan sekeliling rumah. Ini makin memudahkan anak-anak membaur dengan kawan-kawan lama atau baru.
Menyenangkan jika mengingat kembali masa-masa menyandang status sebagai siswa sekolah. Kegiatan rutin seperti upacara pada hari Senin saat SD tentu membekas di benak para orang dewasa. Sebab, tak jarang ada yang datang terlambat lalu terpaksa tidak mengikuti upacara. Menunggu di luar gerbang yang terkunci hingga mendapatkan hukuman (distrap), disuruh lari keliling lapangan.
Yang paling menjengkelkan lagi adalah saat sudah datang pagi tapi lupa membawa topi atau dasi. Namun tidak usah khawatir sebab ada teman yang pribadinya bertipe antisipasi. Mereka golongan orang yang membawa topi atau dasi dobel bahkan punya lebih dari dua yang disimpan di laci meja. Lalu kita diperbolehkan meminjam. Kita pun jadi meniru kebiasaan tersebut. Kalau lagi apes tak ada kawan yang bisa dipinjami, kita mesti mengikhlaskan uang saku terpotong untuk membeli topi atau dasi baru.
Benar-benar pengalaman seru sekaligus berharga. Sayangnya, ada kenangan lucu dan mengasyikan semasa SD yang justru membentuk moral yang salah saat dewasa kelak. Pikiran generasi mudah sudah tercederai saat SD.
Apakah Anda (khususnya perempuan) pernah mengalami kejadian ini saat SD, ketika tengah asyik berjalan lalu tiba-tiba ada teman yang menyingkap rok Anda dari depan atau belakang? Lalu dengan tanpa bersalahnya, kawan itu meneriaki Anda supaya seisi kelas tahu. Tanpa dipancing, tawa pun menggelegar memenuhi seisi ruangan.
Tak hanya itu, ada teman cowok yang usil menaruh rautan pensil di sepatu lalu sengaja mengarahkan kakinya di bawah Anda. Maka ketahuanlah warna celan dalam yang Anda pakai. Sang teman pun terbahak puas dan menganggap kejadian itu lucu.
Karena tidak memakai celana rangkap (celana pendek penengah antara celana dalam dan rok), para murid perempuan harus kena batunya. Rasa malu pasti menjangkit seketika. Trauma bisa jadi timbul. Supaya tidak jadi korban lagi, para murid perempuan selalu bercelana rangkap.
Ini adalah contoh kasus yang menggambarkan betapa biasnya pemahaman yang mengakar sejak dini. Peristiwa remeh yang dianggap lucu tersebut justru sebenarnya mencederai pemikiran kita.
Inisiasi untuk melecehkan perempuan rupanya telah muncul sedari kita masih berseragam putih merah. Anak cowok yang jahil tersebut biasanya hanya diganjar hukuman untuk menyapu kelas. Sedangkan anak perempuan tersebut malu karena ditertawai dan diledek seisi kelas. Dan soal warna celana dalamnya akan menyebar dan terdengar hingga ke seluruh kelas. Sehingga, sosoknya secara tidak langsung bakal tersorot.
Ini merugikan perempuan. Perempuan seolah tidak bebas berpakaian. Mentang-mentang tidak memakai celana rangkap, lalu boleh diintip celananya?! Menyebalkan.
Anak perempuan ogah memakai rok pendek. Ia jadi tak punya kebebasan atas tubuhnya. Pakaian yang sebaiknya membelit tubuhnya merupakan kesepakatan masyarakat. Konstruksi semacam ini menjerumuskan pada sebuah standar penilaian yang merugikan perempuan.
Perempuan yang tidak mematuhi aturan lantas dianggap perempuan tak baik-baik. Padahal, apa yang dikenakan seseorang bukan tolok ukur untuk mendefinisikan dia baik atau buruk. Sebab, ada selera yang memengaruhi seseorang berbusana.
Oleh karena itu, jangan mudah percaya. Penampilan bisa menipu. Sehingga, perempuan yang gemar memakai rok mini belum tentu sebinal dan senakal seperti anggapan yang telanjur salah kaprah di masyarakat.
Jika pakaian mini dilarang diperjualbelikan, ini sama halnya dengan membunuh selera fesyen seseorang. Para desainer bisa berontak. Industri garmen kehilangan pasarnya. Yang mesti diikat adalah nafsu melecehkan, bukan pembatasan jenis pakaian bagi perempuan.
Dan jika baju bisa mencerminkan watak dan kepribadian, mudah sekali untuk mengelabuinya. Tinggal pakai baju yang dianggap sopan maka kita akan dilabeli sebagai orang yang sopan, tanpa memandang kiprah kita yang sesungguhnya.
Trik inilah yang diterapkan di luaran sana. Ketika ada sosok rapi dan necis terciduk berbuat korupsi, masyarakat tidak percaya. Pasalnya, tokoh tersebut dikenal santun dan bijaksana karena selalu berpenampilan menarik berkat baju-baju trendinya. Tuduhan korupsi yang dialamatkan kepadanya serasa tidak mungkin. Lalu, bagi para orangtua, mulailah untuk mendidik anaknya untuk menghormati perempuan.
Oleh: Shela Kusumaningtyas, seorang yang gemar membaca, menulis, berenang, dan jalan-jalan. Menulis menjadi sarana saya untuk mengabadikan berbagai hal. Menulis juga melatih saya untuk mengerti arti konsistensi dan pantang menyerah.









Leave a Comment