Surah ini awalnya diturunkan ketika perang terkahir yang diikuti oleh Nabi saw, yaitu perang Tabūk melawan Pasukan Romawi yang terjadi pada tahun 9 Hijriah saat musim panas, kemudian berlanjut hingga pasca perang. Riwayat Ibnu ʻAbbās menjelaskan, permulaan surah ini turun pasca penaklukan kota Makkah (Fatḥu Makkah). Ketika itu Nabi saw memerintahkan Ali bin Abū Ṭālib untuk membacakannya pada kaum Musyrik ketika musim haji. Menurut riwayat Ibnu Kaṡīr, permulaan surah ini turun ketika Nabi Muhammad kembali dari perang Tabūk. Mayoritas ulama mengelompokkan surah ini dalam surah madaniyah karena turun di Madinah secara sekaligus seperti halnya surah al-Anʻām. Namun sebagian ulama mengecualikan beberapa ayat yang tidak turun di Madinah yakni ayat 113, 128, 129. Menurut ulama Kufah, surah ini berjumlah 129 ayat, sedangkan mayoritas ulama berpendapat bahwa surah ini memiliki 130 ayat. Pendapat lain mengatakan surah ini berjumlah 127 ayat. Sehingga surah ini dimasukkan golongan jenis surah al-Miꞌīn.
Surah al-Taubah merupakan surah terakhir yang ayat-ayatnya turun secara penuh dan bersamaan dalam satu surah. Sebagaimana termuat dalam riwayat sahih Bukhāri dan Muslim;
حدثني عبد الله بن رجاء حدثنا إسرائيل عن أبي إسحاق عن البراء رضي الله عنه)) آخِرُ سُوْرَةٍ نُزِلَتْ كَامِلَةً بَرَاءَةٌ وَآخِرُ سُوْرَةٍ نُزِلَتْ خَاتِمَةُ سُوْرَةِ النِّسَاءِ ﴿يَسْتَفْتُوْنَكَ قُلِ اللهُ يُفْتِيْكُمْ فِي الكَلَالَةِ﴾))
Sedangkan redaksi dalam Ṣaḥīḥ Muslim adalah;
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِىُّ أَخْبَرَنَا عِيسَى – وَهُوَ ابْنُ يُونُسَ – حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ أَبِى إِسْحَاقَ عَنِ الْبَرَاءِ )) أَنَّ آخِرَ سُورَةٍ أُنْزِلَتْ تَامَّةً سُورَةُ التَّوْبَةِ وَأَنَّ آخِرَ آيَةٍ أُنْزِلَتْ آيَةُ الْكَلاَلَةِ.((
Surah terkahir yang turun langsung secara lengkap satu surah adalah surah Barāꞌah (al-Taubah) dan surah terakhir yang turun sebagai penutup adalah ayat terkahir surah al-Nisāꞌ.
Dalam sejarah penulisan al-Quran yang diketuai oleh sahabat sekretaris wahyu, Zaid bin Ṡābit, dua ayat terkahir dari surah al-Taubah menjadi ayat terakhir yang ditemukan oleh para panitia pengumpulan al-Qurꞌān dalam proyek penulisan al-Qurꞌān kala itu, yaitu ayat ke 128-129. Sebagaimana riwayat yang tertulis dalam Ṣaḥīḥ Bukhārī;
حدثنا يحيى بن بكير حدثنا الليث عن يونس عن ابن شهاب أن ابن السباق قال إن زيد بن ثابت قال : أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُوْ بَكْرٍ رضي الله عنه قَالَ ((إِنَّكَ كُنْتَ تَكْتُبُ الوَحْيَ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَاتَّبِعِ القُرْآنَ)) فَتَتَبَّعْتُ حَتَّى وَجَدْتُ آخِرَ سُوْرَةِ التَّوْبَةِ آيَتَيْنِ مَعَ أَبِي خُزَيْمَةَ الأَنْصَارِي لَمْ أَجِدْهُمَا مَعَ أَحَدٍ غَيْرَهُ { لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ } . إلى آخره
Zaid bin Ṡābit bercerita, “Abū Bakar ra pernah berkata padaku; jika engkau menulis wahyu bagi Rasulullah saw maka carilah al-Qurꞌān dengan teliti. Aku pun mencarinya sampai aku menemukan dua ayat terkahir surah al-Taubah pada Khuzaimah al-Anṣārī yang tidak kutemukan pada sahabat lainnya, yakni laqod jāꞌakum Rasūlun min Anfusikum ʻAzīzun ʻAlaihi Mā ʻanittum dst. HR. al-Bukhari









Leave a Comment