Memajukan Kecerdasan Intelektual di Zaman Milenial

Harakatuna

12/08/2018

5
Min Read

On This Post

Judul : Muslim Milenial

Penulis : Forum Alumni Muslim Exchange Program (MEP)

Penerbit : Mizan, Bandung

Cetakan : I, Mei 2018

Tebal : 288 Halaman

ISBN : 978-602-441-063-6

 

Oleh : M Ivan Aulia Rokhman

Di Zaman Milenial, kini para masyarakat memiliki smartphone sebagai kebutuhan sehari-hari seiring dengan arah digitalisasi. Bahkan media sosial pun menjadi banyak digunakan oleh masyarakat zaman now. Selain digital yang dipegang bahkan media online bisa dibaca dimana saja dan kapan saja. Seiring dengan teknologi makin maju membuat seseorang tertarik dengan konten yang bermuatan hal yang positif. Terutama dakwah dalam berbagai kajian di Masjid maupun acara tertentu.

Belakangan ini terorisme melanda Surabaya, dan kota lainnya yang terkena bom. Ulah negara ini makin hancur pada tahun politik membuat masyarakat pun ketakutan. Bayangkan pelaku bom meledak adalah keluarga yang tergabung dalam jamaah Ansharut Daulah yang dipelopori oleh Aman Abdurrahman. Sejak tahun 2016 bom telah meledak di Sarinah karena terorisme yang sengaja merusak negara tanah air kita. Untung nya UU Anti Terorisme sudah disahkan oleh pemerintah dan siap memberantas terorisme.

Masih banyak lagi kejadian yang melanda generasi Milenial oleh masyarakat muslim. Salah satunya lewat buku Muslim Milenial karya Sahabat Forum Alumni MEP (Muslim Exchange Program). Buku ini membahas seputar pengalaman di sana memiliki kontribusi yang dapat memajukan kreatifitas zaman Keislaman di masa sekarang. Selain itu sebuah kisah yang menambah kecerdasan secara intelektual maupun arah kekinian.

Buku yang ditulis oleh berbagai kalangan berpengalaman di luar negeri dengan kontribusi di bidang tertentu. Hal ini karena dibantu dengan kecerdasan supaya kemajuan zaman tumbuh pesat. Sebagai generasi muda Muslim berperan untuk menumbuhkan kreativitas di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pada generasi milenial.

Seperti kelahiran media daring (online) dengan jejaring media sosial yang tumbuh, tidak hanya menginterupsi kehadiran media cetak, juga memunculkan pengetahuan-pengetahuan baru di luar institusi riset dan lembaga kampus. Kehadiran mereka tak hanya menantang, juga menggerogoti media cetak dan institusi riset melalui kanal pengetahuan, baik buku maupun jurnal (hal 48).

Media Daring dan Matinya Otoritas Pengetahuan? Karya Wahyudi Akmaliah mencoba paparkan dengan lahirnya sosial media yang menjadi kebutuhan masyarakat zaman now. lahirlah sebuah sosial media sebagai gaya hidup masa kini juga menyalurkan aspirasi lewat status tulisan. Media sosial lahir tokoh pelopor Facebook Mark Zuckerberg ini bertujuan untuk menjamu virus terkenal pada zaman sekarang. Itu sebabnya media sosial sebagai wadah untuk menyalurkan ide lewat tulisan dan semacam dokumentasi dapat memberikan edukasi bagi masyarakat.

Generasi Milenial adalah generasi produktif yang melek teknologi informasi. Generasi ini mengalami dua masa hidup yang cukup bertolak belakang. semasa kecil, generasi ini relatif mengalami kondisi sosial yang bersifat tradisional meski teknologi informasi sudah mulai berkembang, seperti televisi, majalah populer, dan komputer. Generasi ini masih sempat mengalami asyiknya permainan tradisional di masa kecil mereka; bersosialisasi dengan tetangga dan teman sebaya, serba aktivitas-aktvitas lain yang melahirkan interaksi sosial yang seru dan akrab (hal 42).

Esai Millenials’ Parenting, Tantangan Pengasuhan di Era Digital karya Ikfina Maufuriyah mengajak generasi Milenial kepada masyarakat untuk selalu mengonsumsi internet yang sebaik mungkin. Jangan sampai menyebar kasus hoaks yang bisa memalingkan pasal dan dipenjarakan. Sebab generasi sekarang makin maraknya dengan selfie dan semacam hp android membuat seseorang makin ketagihan. Tidak ada seorang pun yang mengancam generasi bangsa jika perkembangan IPTEK makin mengembang tanpa beban sedikit pun.

Islam melarang perilaku yang sangat berlebihan, baik itu atau boros atau terlalu royal dalam mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tak diperlukan, maupun terlalu erat memegang uang atau pelit. Islam menganjurkan penggunaannya dengan cara yang baik, yakni ditengah antara boros dan pelit, yakni dermawan dan bukan boros; serta ekonomis dan bukan pelit (hal 101).

Kutipan ini sangat berguna bagi seseorang untuk membuahkan kebaikan tanpa terjerumus sikap berlebihan seorang muslim. Jangan terkecok dengan pesta euforia. Sudah jelas bila ada kegiatan yang melalaikan ibadah maka amal akan lenyap seketika. Makanya gunakan uang sebagai amal terbaik dengan berbagi sedekah kepada anak yatim agar pahala semakin berlimpah.

Inovasi pembelajaran di pondok pesantren telah bergerak sedemikian cepat seiring dengan perubahan zaman. Para santri zaman Milenial ini tak lagi bergelut melulu dengan kitab kuning klasik dan kajian-kajian keislaman tradisional. Mereka juga melangkah maju dengan mengikuti metode dan materi pembelajaran ajaran yang tidak terbayangkan sebelumnya akan dilakukan oleh para santri dan dunia pesantren.

Jika pada masa lalu para santri identik dengan belajar ilmu-ilmu keislaman saja, maka pada perkembangan selanjutnya mereka juga mulai mengenal pembelajaran ilmu-ilmu yang dikategorikan sebagai ilmu sekuler: matematika, ilmu pengetahuan alam (IPA), biologi, dan lain-lain. Pada masa sekarang, mereka melangkah lagi dengan mempelajari materi dan menggunakan metode pembelajaran yang sangat kekinian dan tidak kalah dengan kolega mereka di luar pesantren (hal 141).

Pondok pesantren masih menggunakan cara manual. Tidak boleh menggunakan handphone saat mondok. Apapun ilmu agama dan umum tetap diberikan untuk kemaslahatan umat. Jika suatu saat dunia pesantren akan melek IPTEK untuk kemajuan kecerdasan seorang muslim. Kesimpulan dalam buku ini adalah kecerdasan dalam berilmu tentu membawakan masa depan cerah gemilang demi menggapai sukses yang dicapai. Generasi Milenial pandai bergaul dengan media sosial yang mengandung nilai positif.

*M Ivan Aulia Rokhman, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Dr Soetomo Surabaya. Lahir di Jember, 21 April 1996. Lelaki berkebutuhan khusus ini meraih anugerah “Resensi / Kritik Karya Terpuji” pada Pena Awards FLP Sedunia. Saat ini menjabat di Devisi Kaderisasi FLP Surabaya dan Anggota UKKI Unitomo.

Leave a Comment

Related Post