Media Sosial Kampus Islam dan Konten Intoleran

Rio F. Rachman

17/03/2021

4
Min Read
Media Sosial

On This Post

Persoalan intoleransi maupun radikalisme di media sosial adalah imbas kemajuan teknologi informasi dan komunikasi di era media baru (Ahmad Zamzamy, Menyoal Radikalisme di Media Digital, 2019). Ada beragam provokasi, penggalangan massa kontraproduktif, ujaran kebencian, fitnah, maupun ghibah yang meluncur di dunia maya berbalut religiusitas.

Dalam sejumlah kesempatan, agama menjadi sumbu utama perdebatan sehubungan dengan intolerasi dan radikalisme di media sosial (Nihayaty & Rohmy, Pemanfaatan Media Sosial Komunitas Untuk Menghadapi Konten Islam Ekstrem di Internet, 2020).  Tentu saja, semua pihak mesti urun partisipasi untuk memerangi problem intoleransi maupun radikalisme di media sosial.

Artikel ini, mengupas sekelumit peran perguruan tinggi Islam untuk menghadapi gempuran konten negatif semacam itu. Spesifiknya, tentang bagaimana peran media sosial kampus Islam.

Berdasarkan data Dirjen Pendidikan Tinggi Islam yang diakses pada 8 Maret 2021, terdapat 58 perguruan tinggi Islam negeri dan 829 perguruan tinggi Islam swasta di Indonesia. Artinya, ada total 887 kampus berbasis Islam di negeri ini.

Dengan kata lain, ada 887 website potensial untuk memproduksi konten positif. Di samping itu, setidaknya ada masing-masing 887 akun Facebook, Instagram, Twitter, dan YouTube, yang juga bisa kita manfaatkan. Yang perlu kita gelorakan adalah produktivitas membuat konten dan penyebarannya.

Di aspek penyebaran, potensi kampus-kampus Islam tak kalah banyak. Sebab, tiap institusi pasti memiliki civitas akademika, baik dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa, yang sebagian besar tentu punya akun media sosial maupun aplikasi obrolan seperti WhatsApp dan Telegram.

Maksudnya, asalkan konten sudah ada, penyebarannya bisa dilakukan oleh seluruh akun media sosial resmi kampus, maupun akun-akun media sosial dan aplikasi obrolan civitas akademika. Antara lain, melalui fitur status atau semacamnya yang ada di masing-masing platform. Terlebih, tiap kampus umumnya punya basis-basis alumni yang relatif tersebar di sejumlah daerah. Jadi, modal Sumber Daya Manusia untuk ikut menyebarkan konten relatif sudah memadai.

Tantangan utama dari program pembuatan dan penyebaran konten positif guna menggerus eksistensi unggahan negatif yang intoleran, radikal, fitnah, dan ghibah berbasis agama, adalah produktifitas dan konsistensi (Achmad Farid, Optimalisasi Media Sosial Pesantren untuk Membendung Konten Negatif di Dunia Maya, 2019).

Apabila tiap kampus sudah punya etos kerja dan kegigihan serta rutin memproduksi konten dan menyebarkannya, tentu dunia maya di Indonesia akan terbanjiri dengan hal-hal yang menarik, informatif, edukatif, bahkan bernilai dakwah. Baik dalam bentuk teks, foto, meme, maupun video.

Konten yang dimaksud bisa secara spesifik berbicara tentang pentingnya toleransi, kebersamaan, ataupun saling menghormati. Bisa pula mengenai hal-hal yang menarik dan atraktif semacam tips dan trik belajar bahasa asing. Intinya, topik konten positif bsia beraneka rupa. Terpenting, dapat bernegasi jelas dengan pesan-pesan negatif atau ujaran kebencian.

Mengingat, kabar atau artikel yang informatif, edukatif, dan menarik, juga merupakan pesan-pesan yang juga muncul dari spirit keislaman. Yang perlu kita garisbawahi, banyak entitas yang sifatnya umum, sejatinya juga Islami. Karena ayat-ayat Allahu ta’ala tersebar di penjuru jagat dan bisa pihak mana pun nikmati, tanpa memandang dalil atau kepercayaan agama tertentu.

Analoginya, bila dua puluh persen saja dari jumlah kampus Islam di Indonesia yang memproduksi konten tersebut, berarti ada tak kurang 177 konten Islami. Sebanyak 177 konten itu disebarkan oleh masing-masing akun media sosial resmi kampus tersebut. Juga, oleh segenap civitas akademika beserta para alumni.

Bayangkan, kalau minimal 1.000 akun civitas akademika dan alumni dari masing-masing kampus yang ikut menyebarkan. Artinya, ada 177.000 persebaran dalam satu hari. Angka yang cukup fantastis, bukan?

Memproduksi dan menjadi sentral penyebaran konten adalah bagian dari tugas kehumasan. Meski demikian, tidak harus bagian atau divisi humas yang mengerjakannya. Semua bagian atau divisi kampus bisa berbagi tugas.

Sebagai contoh, tugas kehumasan di sebuah pemerintah daerah, umumnya dijalankan oleh bagian humas dan dinas komunikasi dan informatika. Di kampus, tugas kehumasan bisa dijalankan oleh bagian atau divisi humas dan bagian atau divisi lain secara sinergis. Mungkin juga melibatkan eksponen mahasiswa.

Fakta membuktikan kalau keberadaan media sosial di Indonesia memiliki posisi tawar dalam konstelasi sosial. Beberapa tahun silam, misalnya, terdapat upaya penggalangan dukungan dalam fenomena Cicak versus Buaya maupun Koin untuk Prita (Merlyna Lim, Many Clicks but Little Sticks: Social Media Activism in Indonesia, 2013).

Media sosial telah menjadi salah satu sentra aktivis kemasyarakatan. Apabila konten Islam yang ramah tidak membanjiri kanal-kanal dunia maya, bukan tidak mungkin konten Islam yang memenuhi beranda internet adalah yang bermuatan eksklusivitas kontraproduktif.

Harus kita pahami bahwa potensi media sosial kampus Islam untuk menyebarkan kebaikan relatif besar dan strategis. Maka itu, kampus Islam mesti menguatkan peran mengisi media sosial dengan konten bernuansa rahmatan lil ‘alamin.

Kreativitas kampus Islam untuk mengemas produksi konten juga harus teruji. Hal semacam ini bisa masuk dalam lingkup upaya berlomba-lomba untuk kebaikan. Menariknya, apabila konten menjadi viral, kampus bisa sekaligus promosi.

Walau sebaiknya, dalam menjalankan program yang berangkat dari semangat dakwah seperti ini, profit kapital bukanlah sasaran utama. Tapi paling tidak, pandangan soal kemungkinan melakukan promosi melalui konten positif yang kreatif bisa menjadi salah satu pemacu semangat pula.

Terlebih, semakin viral konten dalam sebuah website, dapat pula menaikkan ranking website tersebut. Dengan kata lain, peringkat kampus tersebut juga bisa meningkat, paling tidak di versi parameter perankingan internasional webometrics.

16 responses to “Media Sosial Kampus Islam dan Konten Intoleran”

  1. M. Nafis Karim Avatar
    M. Nafis Karim

    Humas di perguruan tinggi Islam bisa memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, telegram, YouTube dan lain sebagainya untuk membuat suatu konten yang positif, terutama yang berbau islami. Mengingat sekarang yang viral di dunia Maya konten-konten yang cenderung negatif. Apabila humas di perguruan tinggi Islam maupun devisi yang lain mempunyai etos kerja yang tinggi dan konsisten tentu saja bukan hal yang mustahil dunia Maya dibanjiri dengan konten-konten yang positif apalagi dalam nuansa yang islami, dikarenakan setiap kampus pasti mempunyai alumni dan mahasiswa yang dapat dalam membantu menyebarkan konten tersebut. Apalagi bila konten yang dibuat kreatif tentu konten tersebut akan banyak peminatnya.

  2. Miftahus Sholichah Avatar

    Peran humas dalam perguruan tinggi islam adalah mengelola media sosial yang biasanya digunakan, mengisinya dengan konten kreatif yang bernilai positif.
    Para devisi humas harus memiliki semangat kerja yang tinggi untuk membuat ide ide kreatif untuk mengisi media sosial, karna untuk menjadikan media sosial dikenal oleh publik haruslah bersifat Istiqomah.
    Jika devisi humas berhasil membuat konten yang bernilai positif maka akan berdampak pada ke religian yang semakin berkembang, sehingga dalam dunia Islam, Islam mampu bersaing karna secara tidak langsung telah membantu untuk mengajarkan keislaman.

  3. Miftahus Sholichah Avatar

    Salah satu tugas Humas adalah sebagai pengelola media. Seorang humas haruslah memiliki semangat yang tinggi untuk mengembangkan media sosial yang dikelolah. Butuh ide ide cemerlang untuk mengembangkan konten agar dapat lebih menarik bagi konsumen. Butuh ke kreatifan untuk mengembangkan konten agar memiliki daya jual tinggi.

  4. Ahmad Suyuto Avatar
    Ahmad Suyuto

    Humas di perguruan tinggi Islam dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana informasi bagi masyarakat di luat maupun mahasiswa di perguruan tinggi terbut, contoh media sosial yang di manfaatkan oleh seorang humas seperti Facebook, Twitter, Instagram, telegram, YouTube dan lain sebagainya untuk membuat suatu konten yang positif, terutama yang berbau islami. Mengingat sekarang yang viral di dunia Maya konten-konten yang cenderung negatif. Apabila humas di perguruan tinggi Islam maupun devisi yang lain mempunyai etos kerja yang tinggi dan konsisten tentu saja bukan hal yang mustahil di dunia Maya. Dia akan dibanjiri oleh konten-konten yang positif apalagi dalam nuansa yang islami, dikarenakan setiap kampus pasti mempunyai alumni pesantren dan mahasiswa yang dapat membantu menyebarkan konten tersebut. Apalagi bila konten yang dibuat sekreatif mungkin dan dengan sebuah lelucon yang menarik perhatian orang-orang maupun remaj dan anak-anak tentu konten tersebut akan banyak di minati

  5. M Khoirul amin Avatar
    M Khoirul amin

    M Khoirul Amin
    Salah satu peran dari Humas yang ada di perguruan tinggi yaitu mengeksplor konten yang terkait dengan hal yang ada di lembaga maupun dengan karya humas, yang di jembatan oleh media massa seperti Facebook,Twitter,instagram,YouTube, daln lain. Yang berisi tentang gambar-gambar atau hasil konten yang ada di dalam perguruan tinggi yang berbasis keislaman yang pastinya positif dan inovatif untuk di konsumsi bagi masyarakat.
    Para anggota Humas harus pandai dalam mengeksploitasi konten yang kreatif dan produktif sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat. Peran Humas sangat penting dalam kemajuan lembaga tinggi kampus sehingga anggota di tuntut untuk menjadi tombak ujung dalam kemajuan lembaga.

  6. Taufik Hidayat Avatar
    Taufik Hidayat

    Humas di perguruan tinggi Islam dapat memanfaatkan media sosial sebagai penyebar informasi, contoh media sosial yang digubakan oleh seorang humas seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube untuk membuat suatu konten yang positif dan untuk menggunakan internet di era digital ini humas harus semangat dan konsisten dalam membuat konten yang positif supaya media” sosial ini bayak muncul konten” yang positif, karena konten” negatif sering kita temui di media sosial oleh karena itu tugas humas harus spam media” dengan konten” positif.

  7. Intan Balqis Humairoh Avatar
    Intan Balqis Humairoh

    Humas di perguruan tinggi islam bisa menggunakan media sosial sebagai jembatan atau medium untuk menyebarkan informasi tentang perguruan tinggi islam tersebut kepada khalayak. Humas juga dapat membuat konten” islami dan konten yang positif yang bisa disebar lewat media sosial, contoh media sosial yang dapat digunakan : facebook, Instragam, youtube dan juga twitter, humas juga harus konsisten dalam pembuatan konten” positif tersebut

  8. Inayah Alfi Hasanah Avatar
    Inayah Alfi Hasanah

    Mengatur sistem produksi konten yang postif dan menyaring konten negatif, sehingga dalam hal ini peran Humas adalah memilih dan memilah konten yang telah dibuat oleh editor dengan tujuan konten yang akan di posting adalah konten positif, supaya dapat diambil manfaat oleh konsumen di luar, terutama orang² awam pada ilmu agama.
    Bisa juga Humas berperan sebagai pengelola yang update atau melihat di zaman ini maraknya tik-tok maka Humas memberikan masukan bahwa membuat akun tik-tok dan membuat konten positif via tik-tok akan lebih banyak peminat, disebabkan tik-tok di zaman ini sedang marak²nya dan mayoritas peminatnya adalah kaum pemuda, sehingga Humas Perguruan Tinggi Islam dapat melakukan pendekatan melalui aplikasi tik-tok dengan mahasiswa yang lain.

  9. NUR ATIKOH HOIRIYAH Avatar
    NUR ATIKOH HOIRIYAH

    Media Sosial yang dapat dimanfaatkan oleh Hubungan Masyarakat (HUMAS) pada Perguruan Tinggi Islam yaitu, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Telegram, YouTube, Blogspot dan juga yang lainnya untuk memproduksi sebuah konten yang positif, dan juga bersifat atau bernuansa islami. Karena dapat dilihat pada zaman sekarang ini, yg banyak mendunia adalah sebuah konten-konten yang menjuru pada hal-hal negatif saja. Oleh karena itu, HUMAS di Perguruan Tinggi Islam harus selalu bisa konsisten dalam syiar digitalnya, memproduksi karya-karya baik, positif dan juga bernuansa Islami tentunya yang juga akan berefek positif bagi dunia digital. Yang mana Kampus yg baik pasti mempunyai mahasiswa dan juga lulusan yang juga produktif, yang selalu bisa menjunjung nama baik Kampus di manapun dan kapanpun.

  10. Yenis Mei Aisyah Avatar
    Yenis Mei Aisyah

    Humas diperguruan tinggi Islam dapat menggunakan media sosial sebagai alat untuk menyebar luaskan dan mempromosikan perguruan tinggi tersebut agar banyak peminat dan banyak yg suka.
    Humas juga bisa membuat konten konten yang bermanfaat agar berguna juga bagi viewers atau followers. Dengan konten yg edukatif, menarik dan inovatif, maka viewers juga akan selalu tertarik untuk melihat.
    Tidak hanya membuat konten, humas juga dapat membuat iklan iklan yg bisa disebarkan di media sosial.
    Dengan menggunakan media sosial FB, Instagram, YouTube dan atau tiktok, maka humas perguruan tinggi akan semakin mudah untuk mempromosikan perguruan dan juga berhasil memperoleh viewers atau followers yg banyak, dan perguruan tsb pun semakin maju dan berkembang.

  11. Kharisma Dian Noviana Avatar
    Kharisma Dian Noviana

    Peran humas atau pengelola media di kampus islam untuk memproduksi konten positif di internet adalah harus mempunyai kinerja dan ide-ide yang kreatif dan inovatif untuk bisa mengemas konten yang positif, selain itu juga harus konten yang religius mengingat saat ini banyak konten negatif yang sedang viral di medsos, oleh karna itu kampus islam harus konsisten dalam membuat konten positif. Maka itu dari itu , kampus Islam mesti menguatkan peran membuat media sosial dengan konten bernuansa religius. Bisa menggunakan website, facebook dan lainnya. Dengan naiknya ranking website, maka citra kampus juga bagus.

  12. Kharisma Dian Noviana Avatar
    Kharisma Dian Noviana

    Peran humas atau pengelola media di kampus islam untuk memproduksi konten positif di internet adalah harus mempunyai kinerja dan ide-ide yang kreatif dan inovatif untuk bisa mengemas konten yang positif, selain itu juga harus konten yang religius mengingat saat ini banyak konten negatif yang sedang viral di medsos, oleh karna itu kampus islam harus konsisten dalam membuat konten positif.

  13. Rizanul Hasan S.M Avatar
    Rizanul Hasan S.M

    Humas berperan dalam melihat kemajuan zaman yang mana nantinya dapat dijadikan konten positif dan menyaring sisi negatif, humas dapat menggunakan media-media sosial seperti instagram, youtube, twitter dan media lain.

  14. Kharisma Dian Noviana Avatar
    Kharisma Dian Noviana

    Peran humas atau pengelola media di kampus islam untuk memproduksi konten positif di internet adalah harus mempunyai kinerja dan ide-ide yang kreatif dan inovatif untuk bisa mengemas konten yang positif, selain itu juga harus konten yang religius mengingat saat ini banyak konten negatif yang sedang viral di medsos, oleh karna itu kampus islam harus konsisten dalam membuat konten positif. Untuk sekarang ini sudah banyak media yang dijadikan wadah bagi orang-orang yang mempunyai kreatifitas atau konten kreator untuk membuat konten yang menarik. Bisa menggunakan website, facebook dan lainnya. Dengan begitu meningkatnya peminat website atau media resmi kampus , maka citra kampus juga bagus.

  15. Muhammad David Firmansyah Avatar
    Muhammad David Firmansyah

    Humasy media sosial tidak hanya melakukan produktivitas konten yang positif, tetapi juga harus menyaring dan mengelola konten yang akan diproduksi. Yang menjadi kendala sekarang ini adalah ketika konten-konten yang memiliki kepentingan yang buruk dan semakin terselubung karena mengatasnamakan agama. Kualifikasi tentunya sangat penting bagi humasy media sosial, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti doktrinasi terhadap audiens terkait konten yang ingin merusak keutuhan dalam negeri.

  16. Ardilatul Munawaroh Avatar
    Ardilatul Munawaroh

    Peran humas dalam perguruan tinggi islam adalah mengelola media sosial yang biasanya digunakan, mengisinya dengan konten kreatif yang bernilai positif.
    Para devisi humas harus memiliki semangat kerja yang tinggi untuk membuat ide ide kreatif untuk mengisi media sosial, karna untuk menjadikan media sosial dikenal oleh publik haruslah bersifat Istiqomah.
    Humas juga dapat membuat konten” islami dan konten yang positif yang bisa disebar lewat media sosial, contoh media sosial yang dapat digunakan : facebook, Instragam, youtube dan juga twitter, humas juga harus konsisten dalam pembuatan konten” positif tersebut.
    HUMAS di Perguruan Tinggi Islam harus selalu bisa konsisten dalam syiar digitalnya, memproduksi karya-karya baik, positif dan juga bernuansa Islami tentunya yang juga akan berefek positif bagi dunia digital. Yang mana Kampus yg baik pasti mempunyai mahasiswa dan juga lulusan yang juga produktif, yang selalu bisa menjunjung nama baik Kampus di manapun dan kapanpun.

Leave a Reply to Inayah Alfi Hasanah Cancel reply

Related Post