Diceritakan pada zaman Bani Israel tersebutlah seorang saleh yang mempunyai seorang isteri salehah pula. Dalam kesehariannya sang isteri sibuk menenun kapas untuk dijadikan kain sehingga bisa dijual oleh suaminya ke pasar. Biasanya setiap satu buah hasil tenunan ia hargai satu dirham. Hasil satu dirham yang didapatkan dari penjualan separuhnya ia gunakan mencukupi kebutuhan keluarga. Sementara setengah lainnya untuk membeli kapas baru sebagai bahan produksi tenunan sang isteri.
Pada suatu ketika setelah menjual kain tenunannya, ia menjumpai dua orang bertengkar hebat di pasar. Caci maki, ujaran kasar sahut menyahur keluar dari mulut keduanya. Hingga mencuri perhatian orang sekelilingnya. Laki-laki saleh ini mendekati mereka menanyakan duduk masalah perselisihan antara mereka berdua. Ternyata pertengkaran itu bermula dari permasalahan hutang. Tidak berpikir panjang seorang saleh pun menengahi, “Sudah, jangan bertengkar lagi. Ini hutang bapak ini saya bayarkan ke anda”, sambil menyerahkan satu dirham hasil penjualan satu potong kain hari itu. Ia pun pulang ke rumah tanpa membawa uang sepersen pun.
Sesampai di rumah sang isteri bertanya, “Mas tidak seperti biasanya membawa kapas dan makanan, mengapa hari engkau pulang tidak membawa apa-apa?”, tanya isteri curiga. Sang suami pun menceritakan apa yang terjadi pada hari itu. Menariknya sang isteri tidak marah, malah memuji sikap sang suami dan mendoakan keberkahan baginya. Tak kehilangan akal sang isteri mengumpulkan sisa-sisa kapas yang berterbangan di sudut-sudut rumah dari hasil produksi beberapa hari sebelumnya. Hingga terkumpullah kapas dan ditenun sampai menjadi kain yang siap jual.
Keesokan harinya sang suami pergi membawa dagangan kain yang berbahan dari sisa-sisa kapas tersebut. Namun sayangnya tidak ada satupun yang mau membelinya. Sehingga ia harus pulang dengan langkah gontai dan muka diselimuti dengan rasa kesedihan. Sebelum sampai rumah ia disapa oleh tukang ikan yang sedang menjual seekor ikan sisa jualannya namun tidak laku-laku karena bau amisnya yang menyengat. “Pak, mengapa engkau terlihat sedih sekali?”, tanya tukang ikan.
“Daganganku tidak laku, pak”, jawab tukang kain saleh.
“Ya sudah, saya beli kain bapak dengan ikan saya ini”, tukang ikan menawarkan. Akhirnya kain dibarter dengan seekor ikan yang sangat amis menyengat.
Setiba di rumah, ikan diberikan kepada sang isteri untuk dijadikan menu makanan hari itu. Ketika perut ikan dibelah untuk dibersihkan kotorannya, ternyata ada sebutir mutiara. Sepasang suami isteri saleh itu pun terkaget-kaget. Mereka pun memutuskan untuk menjual mutiara tersebut. Pada akhirnya mutiara itu dibeli oleh seseorang seharga 120 ribu dirham.
Tak lama setelah menjual mutiara itu, mereka berdua didatangi oleh pengemis. Karena kesalehan dan kedermawanan mereka berdua, pengemis itu diberikan separuh dari penjualan mutiara tersebut. Mereka pun berpisah dengan pengemis tersebut. Selang beberapa waktu pengemis datang kembali dan menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya bukan pengemis. Melainkan seorang malaikat yang diutus oleh Allah swt dari langit ketujuh untuk menguji rasa syukur kalian dalam keadaan sulit maupun lapang. “Kalian lulus ujian. Aku kembalikan apa yang kalian beri sebagai imbalan dari mendamaikan dua orang yang berselisih. Surga adalah balasan untuk kalian berdua”, tukas malaikat kepada keluarga saleh itu. [Ali Fitriana Rahmat]









Leave a Comment