Dunia, utamanya umat Islam, patut berbangga karena mempunyai ilmuwan dan pemikir sekaliber Syaikh Imam Al-Ghazali. Ulama yang telah menorehkan pemikirannya kedalam 220 kitab lebih ini tidak hanya menarik untuk dikaji pemikirannya, melainkan juga diteladani dalam kehidupan sehari-hari.
Karya-karya beliau tersebar seantero dunia, yang meliputi berbagai disiplin ilmu; mulai fikih, tasawuf, teologi, hingga filsafat. Tak ayal, umat Islam memberikan gelar Al-Ghazali sebagai hujjatul Islam (bijak dalam berhujjah).
Saat ini, kita menemui berbagai macam manusia. Ada yang pintar, tinggi, ganteng, “dekil”, santun, norak, dan masih banyak lainnya. Dari berbagai macam bentuk dan sifat manusia ini, jika digolongkan ada yang masuk pada golongan kaya, miskin, dan lain sebagainya.
Berbicara mengenai manusia, Imam AL-Ghazali membaginya menjadi empat golongan. Apa saja itu? Baik. Mari kita simak uraian di bawah ini:
Pertama, Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang Tahu (berilmu), dan dia Tahu kalau dirinya Tahu). Tanpa bermaksud menghujat yang lain, manusia jenis atau golongan ini merupakan golongan manusia yang paling baik. Sebab, orang yang tahu bahwa dirinya mengetahui merupakan perilaku orang pintar, memiliki kemapanan ilmu. Dan dia mengetahui bahwa ilmu yang didapat harus benar-benar dimanfaatkan untuk umat.
Jika menyebut suatu golongan yang terdapat dalam masyarakat Indonesia, makia ulama dan para kyai termasuk golongan ini. Tentu ulama di sini bukan sekedar orang yang memakai sorban dan memiliki jenggot. Sekali lagi, bukan! Akan tetapi benar-benar ulama, yang memiliki kedalaman pengetahuan (ilmu) dan ilmu ini benar-benar menjadikannya dekat dan takut kepada Allah serta mengajarkan kebaikan, menentang permusuhan.
Terhadap golongan pertama ini, kita harus mengikuti, menghormati,dan meneladaninya dalam kehidupan sosial, politik, agama dan lainnya.
Kedua, Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang Tahu (berilmu), tapi dia Tidak Tahu kalau dirinya Tahu).
Golongan kedua ini sering kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat. Bahwa orang ini sebenarnya memiliki potensi atau kemapanan ilmu, akan tetapi tidak menyadari atau mengoptimalkannya untuk keperluan umat. Sehingga, orang pada golongan ini dianalogikan bak “macan tidur”.
Ketiga, Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (orang yang tidak tahu dan mengetahui bahwa ia tidak tahu).
Secara singkat dan sederhana, golongan manusia ketiga ini adalah mereka yang sedang dalam proses mencari ilmu. Artinya, mencari ilmu orang disini lebih kepada berangkat dari sesuatu yang tidak diketahui akan tetapi ia berusaha keras untuk mengetahuinya.
Menurut Imam Ghazali, jenis manusia ini masih tergolong baik. Sebab, ini jenis manusia yang bisa menyadari kekurangannnya. Jadi, golongan ini bisa dikatakan belum memiliki kapasitas ilmu yang memadai, akan tetapi dia tahu dan menyadari fakta tersebut sehingga ia berusaha keras untuk belajar dan mengejar ketertinggalan.
Keempat, Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (orang yang tidak tahu dan tidak mengetahui bahwa ia tidak tahu).
Alfandi dalam Ihya ‘Ulumuddin; Filsafat Ilmu dan Kesucian Hati di Bidang Insan dan Lisan, mengatakan bahwa jenis manusia keempat ini paling buruk, jika tidak mau menggunakan kata “bodoh”. Celakanya, model manusia seperti ini susah diingatkan, ngeyelan, selalu merasa tahu, memiliki ilmu, berhak menjawab semua persoalan, padahal ia tidak mengetahui apa-apa. Sehingga, kita dapat mengatakan kepada manusia golongan terakhir ini bahwa apa yang ia ucapkan lebih banyak menyesatkan karena tidak memiliki landasan keilmuan yang jelas dan mapan.
Mengakhiri uraian singkat ini, kita harus benar-benar mengukur diri kita sendiri; dimana atau termasuk golongan berapakah kita. Intropeksi diri merupakan cara terbaik. Jika kita masuk dalam golongan keempat, maka segeralah sadar dan memperbaiki diri agar bisa menjadi golongan ketiga. Akan jauh lebih baik lagi bisa meningkat ke golongan kedua, bahkan pertama. Semoga! [n].









Leave a Comment