5700 KM Menuju Surga (Bagian XXII)

Harakatuna

17/06/2018

5
Min Read

On This Post

VONIS MATI DOKTER

Di sebuah kota yang berjarak sekira 10 KM dari gunung Nebo, Madaba, Senad mengistirahatkan badan sesudah perjalanan panjang yang dilaluinya selama di Yordania. Mendengar nama gunung Nebo, Senad teringat akan kisah Nabi Musa ketika terakhir kali melihat Tanah Perjanjian sebelum beliau wafat sekira abad 4 Masehi.

Di atas gunung yang sangat bersejarah ini juga terdapat sebuah gereja yang dibangun pada abad ke empat masehi yang di dindingnya terdapat banyak lukisan mozaik yang indah. Tidak jauh dari gereja sebuah monumen berbentuk tongkat yang dililit oleh ular sebagai lambang dari kisah tongkat nabi Musa. Bahkan di salah satu sisi lereng gunung ini juga terdapat mata air yang diyakini sebagai mata air nabi Musa.

Monumen Tongkat Terlilit Ular

Kota kecil yang sangat bersejrah itu dipijak Senad, pada hari Rabu tanggal 27 Juni 2012, di kota yang berpenduduk sekitar 50 ribu jiwa ini Senad beristirahat di rumah salah seorang warga yang mempunyai kisah kehidupan yang sangat menarik.

Kota yang pernah dikunjungi oleh paus sebanyak dua kali ini telah mengantarkan Senad bertemua dengan seorang laki-laki yang mempunyai lima orang anak. Isterinya menceritakan cerita yang sangat menakjubkan yakni ketika ia pernah mengidap penyakit kanker ganas dan menurut vonis dokter dia akan meninggal.

Ia kemudian meninggalkan segala pikiran negatif mengenai penyakitnya dan mengembalikan semuanya kepada Allah. Dia meminta ampun kepada Allah dan memohon agar penyakitnya disembuhkan. Selama berbulan-bulan dia melakukan itu sampai akhirnya Allah menyembuhkan penyakitnya dan kanker itu benar-benar bersih dari tubuh anaknya.***

ARAB SAUDI : COBAAN TERBERAT PERJALANANKU

AWAL RAMADHAN YANG MEMILUKAN

Kamis tanggal 19 Juli 2012 menjadi hari yang paling indah dalam hidup Senad ketika pada akhirnya ia berhasil melewati padang pasir tandus dengan suhu udara rata-rata 50 derajat celsius. Panasnya yang menyengat  seakan-akan membuat kulit terkelupas. Terik matahari setiap hari yang membakar seluruh tubuh, terlebih ketika dia melewati gurun pasir sudah tidak dirasakannyalagi . Hanya kebahagiaan yang ada di dalam hatinya. Di samping karena besok, hari jumat, merupakan awal bulan suci Ramadhan, bulan suci yang begitu dinantinya.

Semua negara telah dilewati dan impiannya untuk bisa menunaikan ibadah haji sebentar lagi akan terwujud, pikirnya di dalam hati. Hatinya berdebar-debar diliputi kebahagiaan. Setiap saat ia mensyukuri segala karunia dan nikmat Allah yang diberikan kepadanya.

Pemberitaan mengenai dirinya di berbagai media semoga memudahkannya untuk mendapatkan visa Arab Saudi dan memasuki negara itu. Setidaknya, dia berpikir akan dipermudah untuk mendapatkan visa dari kerajaan yang kaya raya itu.

Mabruk Ya Senad, congratulation,” ujar Fahd A el Zeid, menyambut Senad dengan sambutan yang hangat dan penuh kekeluargaan. Senad begitu bahagia dia berpikir bahwa sebentar lagi pasti akan bisa memasuki kerajaan Arab Saudi.

“Tidak ada dalam sejarah orang yang mampu berjalan kaki sekian lama untuk menunaikan ibadah haji. Saya akan langsung menge-fax dokumen-dokumen Anda ke Riyadh tuan Senad. Menurut informasi Pangeran Riyadh mengatakan bahwa visa sudah akan disetujui sebentar lagi, dan Anda akan didukung dengan segala cara oleh Arab Saudi. Datanglah tiga hari lagi ke sini untuk mengambil visa Anda, tuan Senad.” Jelas Fahd A el Zeid panjang lebar kepada Senad. Senad begitu bahagia. Allah memudahkan semua pikirnya. Ia mengucapkan terimakasih atas bantuan dan sambutan hangat yang diberikan kepadanya untuk kemudian ia pun undur diri menunggu visa yang dijanjikan Fahd A el Zeid.

Panas gurun pasir benar-benar menyiksa Senad, terlebih saat itu adalah hari pertama di bulan Ramadhan. Perjumpaannya kembali dengan Ramadhan dalam kondisi ‘susah’ seperti ini membuat hatinya begitu sentimentil. Tiba-tiba ia membayangkan kampung halamannya Banovici,  di mana ia bersama orang-orang yang dicintainya hidup bersama. Senad begitu merindukan mereka.“Apa kabar Aqueena? Andai engkau tau apa yang sedang dialami suamimu mungkin engkau akan menangis tiada henti?” gumannya di dalam hati. “Apa kabar anak-anakku? Abi begitu merindukan kalian? Doakan abi semoga cepat kembali dengan selamat?” renungnya kembali.

Satu persatu kelebatan wajah itu tiba-tiba muncul di pelupuk mata dan begitu kuat menguasai pikirannya. Senad merasakan matanya menghangat dan hatinya seakan telah gerimis. Ia bergegas bangkit, ia harus menunaikan ibadah pikirnya, menyambut malam pertama di bulan Ramadhan. Ia bergabung bersama penduduk di masjid yang kelak menjadi tempat ia memenuhi semua kebutuhannya berkaitan dengan air.

Malam itu Senad menghabiskan waktu dengan menunaikan ibadah taraweh dan membaca ayat suci al-Qur’an semalaman. Sesudah itu ia bermalam di tendanya. Ia hanya sendiri. Tak ada seorang pun manusia yang melintasi tenda kecil tempat ia selama ini menginap. Dunia seakan tenggelam dalam kebisuan bersama kesendiriannya. Bahkan, suara binatang pun tak terdengar oleh telinganya. Hanya desiran angin dan serpihan debu-debu yang diterbangkan angin. Yah, hanya itu yang selalu ia dengar. Tak ada yang lain.

Menyambut awal Ramadhan malam itu, tidak ada menu sahur yang bisa dimakan oleh Senad. Ia hanya memegang beberapa puluh dolar yang ia tidak bisa belanjakan karena tidak ada toko atau pun pedagang makanan yang dekat. Baginya kesusahan itu sudah sangat biasa. Malam itu ia hanya mempunyai butiran-butiran cokelat kecil yang dibawanya ke mana-mana dan seteguk air putih yang selama ini menghilangkan lapar dan dahaga. Ia sudah sangat terbiasa tidak menyentuh makanan. Perutnya sudah sangat terbiasa merasakan rasa lapar, dan kerongkonganya seakan sudah sangat bersahabat dengan rasa haus. Baginya, butiran cokelat kecil dan air putih itu sudah cukup menjadi menu sahur di bulan yang penuh berkah dan begitu ia cintai.

Usai menunaikan ibadah sahur, Senad kembali membaca al-Qur’an sambil menunggu waktu subuh datang. Desiran angin gurun sesekali menerpa mukanya. Ia membungkus lehernya dengan sorban berwarna merah. Tubuhnya kini makin terlihat kurus dan kering. Pipinya makin tirus dan matanya sedikit cekung. Perjalanan selama berbulan-bulan tanpa persediaan makanan dan minuman yang cukup membuat berat tubuhnya menurun drastis. Hanya kebaikan orang yang ditemuinya di jalan dan mereka yang mengetahui perjalanan haji yang dilakukan oleh Senad yang membuat Senad masih bisa merasakan suapan makanan dan dinginya air kulkas.

Ketika tengah asyik membaca al-Qur’an tiba-tiba ia berhenti membaca ayat-ayat suci itu, pikirannya terbang jauh ke Banovici, mengenang malam-malam Ramadhan yang khusyuk dan membahagiakan, akankah ia bisa kembali lagi ke sana? Akankah ia akan selamat dalam perjalanan pulang dan sampai ke rumah sederhana yang penuh dengan kebahagiaan. Hatinya tiba-tiba diterkam kerinduan yang menyayat di tengah kesendirannya di gurun pasir yang tandus itu. ***

Ikuti penulis di:

Wattpad:birulaut_78

Instagram: mujahidin_nur

Leave a Comment

Related Post