Harakatuna.com. Sudan — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan keras terkait memburuknya krisis kemanusiaan di Sudan, di mana kelaparan ekstrem dan penyakit menular kian meluas akibat konflik bersenjata yang tak kunjung reda. Sedikitnya 25 juta warga kini terancam kerawanan pangan akut, sementara hampir 100 ribu kasus kolera telah tercatat sejak pertengahan tahun lalu.
Dalam laporan terbarunya, WHO menyatakan bahwa pertempuran antara militer Sudan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) telah memecah belah negara itu ke dalam wilayah-wilayah kendali yang saling bersaing. Situasi ini memaksa jutaan warga sipil mengungsi dan mempersulit distribusi bantuan kemanusiaan.
“Kekerasan yang terus berlangsung telah mendorong sistem kesehatan Sudan ke ambang kehancuran, memperburuk krisis yang sudah ditandai oleh kelaparan, penyakit, dan keputusasaan,” ungkap Ilham Nour, Pejabat Senior Darurat WHO, dalam pernyataan resminya.
Nour menambahkan bahwa kelaparan yang meluas semakin memperberat beban penyakit, terutama di kalangan kelompok rentan seperti anak-anak. WHO memperkirakan sekitar 770 ribu anak di bawah usia lima tahun berisiko mengalami gizi buruk akut parah pada tahun ini.
Sementara itu, situasi juga memburuk di wilayah perbatasan Sudan. Di kamp pengungsi Darfur yang terletak di wilayah timur Chad, wabah kolera dilaporkan menyebar cepat. Menurut data dari Badan Pengungsi PBB (UNHCR), di permukiman pengungsi Dougui saja telah terjadi 264 kasus kolera dan 12 kematian.
“Untuk mencegah meluasnya wabah, UNHCR memutuskan untuk menangguhkan pemindahan pengungsi dari perbatasan Sudan,” ujar Patrice Ahouansou, Koordinator Situasi UNHCR, dalam konferensi pers di Jenewa.
Ahouansou menekankan bahwa penanganan darurat harus segera dilakukan, termasuk peningkatan akses terhadap layanan kesehatan, air bersih, sanitasi, dan relokasi pengungsi dari daerah berisiko tinggi. Ia memperingatkan bahwa tanpa langkah cepat, jumlah korban bisa terus bertambah.
Konflik di Sudan meletus sejak April 2023, dan hingga kini telah menewaskan lebih dari 14.000 orang serta menyebabkan 10 juta warga mengungsi baik di dalam negeri maupun ke negara-negara tetangga. PBB menyebut krisis ini sebagai salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia saat ini.








Leave a Comment