Harakatuna.com. Washington – Pejabat Irak mengonfirmasi bahwa wakil khalifah ISIS, Abdallah Makki Muslih al-Rufay’i, tewas dalam serangan udara yang menargetkan lokasinya di gurun Anbar, Irak, pada Kamis, 13 Maret 2025. Serangan ini, yang digambarkan sebagai bagian dari operasi yang didukung oleh Amerika Serikat, menandai keberhasilan besar dalam upaya melawan kelompok teroris tersebut.
Perdana Menteri Irak, Mohammed Shia al-Sudani, mengungkapkan kabar tersebut melalui unggahan di media sosial pada Jumat (14/3). Dalam cuitannya, al-Sudani menyebut bahwa dinas intelijen Irak berhasil “melenyapkan” al-Rufay’i, yang merupakan salah satu pemimpin senior ISIS. Meskipun al-Sudani tidak menjelaskan secara rinci waktu atau cara kematian al-Rufay’i, ia menyebut peristiwa tersebut sebagai “pencapaian keamanan yang signifikan” bagi negara tersebut.
Beberapa jam setelah pengumuman dari al-Sudani, pasukan khusus Irak memberikan klarifikasi lebih lanjut melalui media sosial. Mereka menyatakan bahwa serangan udara yang menewaskan al-Rufay’i terjadi pada Kamis dan berhasil menargetkan lokasinya di gurun Anbar. Serangan ini merupakan hasil dari upaya selama dua tahun yang bertujuan untuk melacak keberadaan al-Rufay’i, dengan terobosan besar terjadi dalam enam bulan terakhir.
Selain menewaskan al-Rufay’i, pejabat Irak juga mengonfirmasi penangkapan tujuh anggota ISIS lainnya dalam operasi lanjutan di Anbar, termasuk dua wanita. Informasi yang diperoleh dari lokasi serangan udara ini kemudian mengarah pada penangkapan lima orang lainnya di Kota Irbil, Irak utara.
Abdallah Makki Muslih al-Rufay’i, yang juga dikenal dengan nama Abu Khadija, adalah sosok penting dalam struktur organisasi ISIS. Menurut pejabat Irak, al-Rufay’i menjabat sebagai pejabat tinggi ISIS yang mengawasi operasi kelompok tersebut di Irak dan Suriah. Laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menunjukkan bahwa al-Rufay’i terlibat dalam menjalankan operasi ISIS di berbagai negara di Timur Tengah, termasuk Irak, Suriah, dan Turki. Laporan lain juga mengidentifikasi al-Rufay’i sebagai anggota komite delegasi ISIS, yang dianggap sebagai badan eksekutif paling berpengaruh dalam kelompok teror tersebut.
Hingga saat ini, pejabat AS belum memberikan komentar terkait klaim yang disampaikan oleh Irak mengenai tewasnya al-Rufay’i. Beberapa perkiraan intelijen menyebutkan bahwa jumlah kombatan ISIS di Irak dan Suriah berkisar antara 1.500 hingga 3.000 orang, dengan mayoritas operasinya berada di Suriah.
Pada Juli 2024, pejabat militer AS telah memperingatkan adanya potensi kebangkitan ISIS di wilayah tersebut. Mereka menyebutkan bahwa kelompok teror tersebut diperkirakan akan meningkatkan jumlah serangannya hingga dua kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Baru-baru ini, pada Desember 2024, pasukan AS juga melancarkan serangkaian serangan udara terhadap ISIS di Suriah, yang menargetkan posisi-posisi yang ditinggalkan oleh pasukan antiteror yang setia kepada mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Meskipun Irak dan Suriah tetap menjadi pusat ideologi ISIS, terdapat kesepakatan yang berkembang di kalangan para pejabat intelijen dan pakar bahwa kelompok teror tersebut tidak lagi menganggap Timur Tengah sebagai basis operasi globalnya. Beberapa pejabat, termasuk dari AS, berkeyakinan bahwa saat ini ISIS dipimpin oleh Abdul Qadir Mumin, yang bermarkas di Somalia. Mumin sebelumnya dikenal sebagai emir afiliasi ISIS di Somalia, IS-Somalia.
Dengan tewasnya al-Rufay’i, satu lagi pukulan besar diterima oleh ISIS, namun para pejabat tetap memperingatkan bahwa ancaman dari kelompok teror tersebut belum sepenuhnya hilang, terutama dengan adanya potensi kebangkitan dan pergerakan mereka ke wilayah-wilayah lain.








Leave a Comment