Harakatuna.com – Baru saja menonton video Heri Pras, ustaz karbitan Wahabi, tentang Palestina. Ia mengkritik Palestina karena selalu menggelorakan perang, sekaligus memuji Israel sebagai korban dari teroris Hamas. Innalillah. Dia buta-tuli mata hatinya, sebagaimana ustaz Wahabi lain seperti Firanda, Bajrey, dan para kampret lainnya. Alih-alih bersimpati untuk Palestina, para Wahabi itu memilih pro-Wahabi semberi terus menjejali umat dengan manhaj salafnya yang palsu.
Padahal dunia sudah memprotes genosida di Gaza. Anak-anak Palestina digiling bom, dan perempuan Gaza ditarik dari reruntuhan dalam keadaan hancur tubuh dan terputus nyawanya. Namun Wahabi bergeming, tak ada raut kemanusiaan di wajahnya, hanya kebencian dan roh iblis yang menguasai badannya: mengklaim ahli sunnah yang paling murni, rajin mencaci kaum Syiah, dan suka menuduh sesat orang lain.
Pengasong Wahabisme, baik di Arab Saudi, di Timur Tengah secara keseluruhan, maupun di Indonesia, semuanya sama. Kebisuan mereka bukan tanpa alasan: karena sebagian dari mereka berdiri di sisi penjagal, bukan yang dijagal. Orang-orang munafik itu berkomplot dengan orang-orang yang memusuhi Islam. Jadi, selain mengeksploitasi Islam lewat pemalsuan manhaj salaf, menjadi aktor terorisme, mereka juga bergaul dengan para kuffar.
Wahabi Global dan Abraham Accords
Arab Saudi bukanlah simbol perlawanan dunia Islam. Justru dalam banyak momen, mereka bersekutu dengan AS dan merintis Abraham Accords yang membuka jalan pengakuan terhadap Israel. Saat Trump menyebut Saudi, Qatar, dan UEA kembali ‘mencintai AS’, tak terdengar satu pun bantahan dari Riyadh. Pertanyaannya: apakah mereka masih punya nyali membela Palestina, atau memang sejak awal tak pernah peduli?
HTS, kelompok radikal Wahabi yang kini memimpin Suriah pasca-Assad, justru menjalin kesepakatan dengan Trump. Ini telah disebutkan dalam dua editorial sebelumnya. Demi pencabutan sanksi, mereka siap berdamai dengan Israel dan menerima Abraham Accords. Kelompok yang dulu berkoar membela umat, kini menjilat tangan pembantai umat, yaitu para Zionis. Mereka lantang caci-maki Syiah, tapi bungkam atas Gaza.
Di Indonesia, wajah kemunafikan terlihat gamblang. Di saat genosida Gaza terjadi, ustaz-ustaz Wahabi Indonesia sibuk mencaci tahlilan dan maulidan, ketimbang mengutuk pembantaian di Rafah. Tidak ada satu pun aksi besar yang digalang mereka untuk Palestina. Di mana suara mereka saat satu perempuan dibunuh setiap jam di Gaza? Di mana semangat jihad mereka saat Zionis membantai umat Islam setiap waktu?
Seluruh Muslim mesti tahu siapa mereka. Wahabi punya hubungan kultural-ideologis dengan Saudi dan itu tak dapat dibantah. Ada yang mengelola yayasan dakwah dengan dana Timur Tengah, ada pula yang memiliki kanal YouTube berisi ujaran sektarian tapi tanpa satu pun kritik pada Israel. Bukankah ini cerminan keberpihakan mereka? Keberpihakan pada Zionis di kalangan Wahabi adalah konsekuensi dari kemunafikannya sendiri. Wapadai mereka!
Adalah ironis bahwa sebagian dari mereka rajin memfatwakan jihad saat berbeda pilihan politik di Indonesia. Tapi ketika tentara Zionis benar-benar membantai ribuan anak, mereka justru mengajak “tenang, tidak usah ikut campur.” Apakah ini ajaran Rasulullah atau fatwa dari kedutaan?
Wahabi: Pengklaim Salaf Palsu yang Pro-Zionis
Di balik jubah kesucian yang mereka kenakan, Wahabi telah lama menjadi pengkhianat paling munafik dalam tubuh umat Islam. Mereka mengaku sebagai penerus murni generasi salaf: generasi awal Islam yang dikenal dengan kesalehan, kejujuran, dan keberanian moral. Namun, di hadapan penderitaan rakyat Gaza, wajah asli mereka terbongkar: tidak lebih dari kaki tangan kekuasaan yang tunduk pada agenda Zionis dan imperialisme Barat.
Wahabi adalah kelompok Islam yang hampir selalu diam, atau bahkan permisif, terhadap agresi Zionis. Mereka akan cepat marah dan berkampanye besar-besaran ketika sebuah masjid di Jawa menyelenggarakan maulid Nabi, atau saat seorang Muslim berziarah ke makam ulama. Tapi ketika perempuan Gaza dibantai jet F-16 Israel, dan ketika anak-anak Palestina digiling roket tanpa jeda, mereka memilih membahas soal ‘kewajiban menaati ulil amri’, selama ulil amri itu adalah raja pro-Barat seperti Muhammad bin Salman.
Mengapa mereka diam? Karena Wahabi lahir dari laboratorium politik kekuasaan kolonial. Kemunculan Wahabi di abad ke-18 didasari restu kolonial Inggris untuk memecah-belah dunia Islam dan melemahkan Turki Utsmani. Aliansi Muhammad bin Abdul Wahhab dan keluarga Saud waktu itu adalah aliansi darah dan senjata yang telah membentuk fondasi persekutuan jangka panjang dengan Barat.
Aliansi itu kini mencapai bentuk paling terang-terangan. Ketika Trump berkunjung ke Riyadh dan mengklaim telah mengembalikan loyalitas Saudi dari China ke Amerika, para pemimpin Wahabi tidak berkata sepatah pun. Tak ada bantahan, tak ada klarifikasi. Justru yang terjadi adalah pelukan akrab dan tawa di atas jasad-jasad rakyat Gaza. Trump menyebut Saudi, Qatar, dan UEA sebagai negara ‘terkuat dan terkaya’ yang kini kembali ‘mencintai Amerika’.
Di saat yang sama, Israel memulai babak baru pembantaian di Gaza dengan operasi Gideon’s Chariots. Dan dari kalangan Wahabi? Tidak ada suara. Tidak ada kutukan. Tidak ada panggilan jihad. Yang ada justru narasi ‘taat kepada penguasa’ dan ‘jangan campuri urusan politik internasional’; dua dalih klasik yang membenarkan kemunafikan dan ketundukan mereka kepada kekuatan Zionis.
Lalu bagaimana dengan Wahabi di Indonesia? Tidak ada bedanya. Ketika warga Gaza dibantai secara sistematis, sebagian tokoh Wahabi di Indonesia justru sibuk menyerang sesama Muslim yang berbeda mazhab. Mereka terus memproduksi konten yang memecah-belah umat, tetapi tak satu pun khotbah mereka mengutuk Israel atau mengecam genosida di Gaza. Sebab, mereka adalah perpanjangan lidah dari gurunya di Timur Tengah—dan para gurunya kini duduk bersama Zionis dan AS di meja perundingan.
Dengan kata lain, Wahabi bukanlah pembela tauhid. Itu dusta. Mereka adalah penipu umat agar jinak di bawah kekuasaan yang zalim. Mereka bukan warisan salaf, melainkan karikatur palsu yang menjual agama untuk penguasa. Dalam kamus mereka, membela Palestina bukan kewajiban, karena yang wajib hanyalah ketaatan mutlak pada penguasa, termasuk penguasa yang mencium ketiak para Zionis.
Sejarah akan mencatat: saat umat Islam dibantai, Wahabi memilih diam. Dan Anda, di Indonesia, tengah diracuni pikirannya oleh mereka? Waspada!
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…








Leave a Comment