Ustaz Digital dan Dakwah Hijrah: Menyapa Spiritualitas Anak Muda di Era Medsos

Salma Laila Ansori

03/11/2025

5
Min Read
Dakwah

On This Post

Harakatuna.com – Di era digital saat ini, semakin banyak orang yang memanfaatkan medsos sebagai sarana dakwah. Platfrom YouTube, TikTok, dan Instagram menjadi ruang baru bagi para dai untuk berinovasi dalam menyampaikan dakwahnya. Ragam gaya dakwah pun mulai bermunculan, ada yang berfokus pada pembahasan fikih, akidah, tauhid, tafsir, ataupun sekadar memberikan nasihat.

Bahasa yang digunakan pun harus sesuai dengan generasi muda, santai, lucu, namun tetap penuh dengan makna. Salah satu sosok yang menarik perhatian anak muda zaman sekarang adalah Husain Basyaiban, atau yang lebih dikenal dengan Lora Kadam Sidik. Ia dikenal dengan gaya dakwahnya yang santai, menggunakan teknik story telling yang membuat audiens mudah memahami apa yang disampaikan.

Anak muda zaman sekarang menghadapi tantangan besar dalam hal kedekatan dengan agama. Banyak di antara mereka yang beranggapan bahwa agama itu kaku, keras, dan mengekang. Pandangan ini sering kali muncul karena pengalaman mereka mendengar ceramah yang disampaikan dengan nada tegas, penuh ancaman, dan menggunakan bahasa yang terlalu formal, sehingga sulit dipahami oleh generasi muda.

Akibatnya, sebagian anak muda merasa sungkan untuk datang ke pengajian. Ada yang malu, ada yang merasa tidak pantas, dan ada pula yang sekadar malas karena merasa dakwah tidak relevan dengan kehidupan mereka.

Kehadiran dakwah digital mengubah situasi ini. Melalui medsos, para dai dapat menyampaikan pesan keagamaan dengan cara yang lebih tenang, lembut, dan mudah dipahami. Bahasa yang digunakan terasa dekat dengan keseharian anak muda, tidak monoton, dan dikemas dengan cara yang menarik.

Hal itu membuat mereka merasa lebih nyaman untuk belajar agama, bahkan dari rumah atau saat senggang. Dakwah digital memberikan ruang bagi anak muda untuk mengenal agama tanpa tekanan, dan secara perlahan menumbuhkan semangat untuk berubah dan berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

Fenomena dakwah digital yang dilakukan Lora Kadam Sidik, dapat kita lihat melalui kacamata Max Weber. Weber pernah mengatakan bahwa agama tidak hanya sebagai urusan pribadi, melainkan juga sebagai kekuatan sosial untuk membentuk cara manusia ini bertindak dan berinteraksi. Menurutnya setiap ibadah, nasihat, ajakan kebaikan selalu mempunyai makna bagi orang lain (Putra, 2020).

Tindakan tersebut sangat terlihat jelas, ketika Kadam Sidik menyebarkan Islam lewat TikTok, Youtube, Instagram, ia sedang mempraktikan bentuk baru dari Tindakan sosial keagamaan di dunia maya.

Weber juga menjelaskan konsep rasonalisasi agama, di mana spiritualitas disampaikan dengan cara yang lebih sederhana, logis, dan menggunakan Bahasa yang mudah dipahami. Selain itu, Weber juga memperkenalkan istilah otoritas karismatik untuk menggambarkna figur yang dipercaya karena kepribadiannya. Dalam berdakwah, Kadam Sidik juga menerapkan hal yang sama, ia berdakwah dengan gaya yang santai, sehingga pesan agama yang disampaikan terasa dekat dan relevan dengan keseharian anak muda.

Pandangan Emile Durkheim juga relevan untuk memahami fenomena ini. Ia menjelaskan bahwa agama memiliki fungsi sosial yang memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas di tengah masyarakat (Putri, 2023). Dalam konteks dakwah digital, medsos telah menjadi ruang baru terbentuknya solidaritas tersebut. Anak muda yang mengikuti dan mendengarkan kajian secara daring merasa menjadi bagian dari komunitas spiritual yang saling mendukung dengan melalui kolom komentar, siaran langsung, dan interaksi virtual.

Berdasarkan laporan dari We Are Social dan Meltwater yang ditulis oleh Maheswara di blog Dataloka, jumlah pengguna TikTok di Indonesia pada Oktober 2025 mencapai 180,11 juta pengguna aktif. Angka ini menunjukkan betapa besar pengaruh medsos bagi masyarakat Indonesia, terutama generasi yang menghabiskan lebih banyak waktu di platfrom tersebut. TikTok tidak lagi sekadar untuk ruang hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk berbagi ilmu, dan menyebarkan dakwah.

Kadam Sidik mulai aktif berdakwah di TikTok sekitar tahun 2021. Melalui akun pribadinya @Kadamsidik00, ia membagikan konten-konten keislaman, mulai dari berdakwah, memberikan nasihat ringan, pembahasan fikih dan akidah, hingga refleksi kehidupan sehari-hari. Menariknya, ia juga sering membagikan postingan tentang kegiatan belajarnya, seperti mengkaji kitab bersama syekhnya, mengikuti kuliah, atau membaca kitab dan buku buku keislaman. Konten semacam ini memberikan motivasi kepada generasi muda untuk terus semangat belajar, dan memperbaiki diri sedikit demi sedikit.

Selain berdakwah di Tiktok, Kadam Sidik juga melanjutkan dakwahnya di aplikasi Roblox yang tengah ramai di kalangan muda. Menurut Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam laporan berjudul “Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet 2025”, yang dikutip oleh Yuudha Pratomo, tercatat sekitar 2,07 persen pengguna internet di Indonesia aktif bermain Roblox yang mayoritas dari kalangan generasi muda.

Melihat fenomena tersebut, Kadam Sidik tidak tinggal diam. Ia mengikuti tren tersebut dengan cara yang unik: berdakwah melalui Roblox. Dalam beberapa kesempatan, ia bergabung dalam permainan mengajak para pemain untuk mengikuti kajian di dalam dunia virtual itu. Dakwahnya di Roblox bukan mengubah permainan menjadi pengajian formal, tetapi menyisipkan ajaran keislaman untuk menumbuhkan kesadaran spiritual diruang yang akrab bagi anak muda.

Langkah ini menujukkan bahwa dakwah bisa dilakukan dimana saja, bahkan ditempat yang tidak terduga. Bagi sebagian orang, Roblox hanyalah permainan, dan hiburan biasa, tapi bagi Kadam Sidik, melalui Roblox menjadi pintu untuk masuk menuju hati generasi muda. Dengan cara ini, dakwah tidak lagi di atas mimbar dan masjid saja, tetapi juga bisa hidup, bergerak, dan beradaptasi mengikuti arus zaman tanpa kehilangan ruhnya.

Dari hasil Analisa ini dapat diambil kesimpulan bahwa fenomena dakwah digital yang dilakukan oleh Kadam Sidik menunjukkan bahwa dakwah Islam dapat dilakukan dengan mengikuti zaman. Melalui media sosial dan platfrom digital seperti Tiktok, Youtube, Instagram, bahkan game Roblox sekalipun, ajaran keislaman dapat tersampaikan dengan cara yang lebih santai, mudah dipahami, dan menyenangkan.

Menurut pandangan Max Weber dan Emile Durkheim, fenomena tersebut merupakan bentuk nyata dari agama sebagai kekuatan sosial. Melalui pendekatan ini, dakwah digital mencoba menyebarkan ilmu dan menumbuhkan semangat hijrah di kalangan anak muda.

Referensi

Putri, Indah Suzana Aulia. (2022). Agama dalam Perspektif Émile Durkheim. Jurnal Dekonstruksi, Vol. 7, No. 1. STF Driyarkara.
DOI: https://doi.org/10.54154/dekonstruksi.v7i01.102

Putra, Ahmad. (2020). Konsep Agama dalam Perspektif Max Weber. Al-Adyan: Journal of Religious Studies, Vol. 1, No. 1, Juni 2020. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pratomo, Yudha. (2025, 13 Agustus). Roblox Disorot, Berapa Jumlah Pemainnya di Indonesia? Kompas.com. https://tekno.kompas.com/read/2025/08/12/19140027/roblox-disorot-berapa-jumlah-pemainnya-di-indonesia.

Maheswara, R. 2025. “Indonesia Masih Jadi Negara Pengguna TikTok Terbanyak di Dunia pada Oktober 2025.” Dataloka, 23 Oktober 2025. Diakses dari: https://dataloka.id/humaniora/5190/indonesia-masih-jadi-negara-pengguna-tiktok-terbanyak-di-dunia-pada-oktober-2025/.

Leave a Comment

Related Post