Harakatuna.com. Washington, D.C. — Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mendesak pemerintah Cina untuk menggunakan pengaruhnya terhadap Iran guna mencegah penutupan Selat Hormuz, menyusul serangan militer AS terhadap situs nuklir utama Iran pada Minggu (22/6) malam.
Pernyataan ini disampaikan Rubio setelah media pemerintah Iran, Press TV, melaporkan bahwa parlemen Republik Islam tersebut telah menyetujui langkah untuk menutup Selat Hormuz. Selat strategis yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman itu merupakan jalur utama bagi sekitar 20 persen lalu lintas minyak dan gas dunia.
“Saya mendorong pemerintah Cina di Beijing untuk menghubungi Iran mengenai hal itu, karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk kebutuhan minyak mereka,” ujar Rubio, yang juga menjabat sebagai penasihat keamanan nasional, dikutip dalam konferensi pers pada Senin (24/6).
Rubio memperingatkan bahwa penutupan selat tersebut akan menjadi langkah fatal bagi Iran. “Jika mereka melakukan itu, itu akan menjadi kesalahan besar lainnya. Itu sama saja dengan bunuh diri secara ekonomi bagi mereka jika melakukannya. Dan kami memiliki opsi untuk mengatasinya, tetapi negara-negara lain juga harus mempertimbangkannya. Itu akan merugikan ekonomi negara-negara lain jauh lebih parah daripada ekonomi kami,” katanya.
Ketegangan meningkat setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap tiga lokasi nuklir utama di Iran, menggunakan kombinasi 14 bom penghancur bunker, lebih dari dua lusin rudal Tomahawk, serta dukungan dari sekitar 125 pesawat tempur.
Serangan ini dipandang sebagai respons terhadap eskalasi konflik regional, terutama setelah Israel mulai melakukan serangan terhadap wilayah Iran sejak 13 Juni. Menurut laporan dari kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Washington, sedikitnya 950 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 3.450 orang terluka akibat serangan Israel.
Iran, melalui perwakilan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Hossein Shariatmadari, menyerukan tindakan balasan terhadap AS dan sekutunya. Salah satu langkah yang diusulkan adalah penutupan Selat Hormuz bagi kapal-kapal dari Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Prancis.
Rubio memperingatkan bahwa jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz, tindakan itu akan dianggap sebagai eskalasi besar yang akan memicu reaksi serius dari Washington dan komunitas internasional. “Itu akan menjadi eskalasi besar-besaran yang tidak akan kami biarkan begitu saja,” ujarnya.
Posisi Strategis Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang memisahkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Selat ini menjadi satu-satunya akses laut dari Teluk Persia ke lautan terbuka dan dianggap sebagai salah satu titik chokepoint paling strategis di dunia. Setiap hari, sekitar 20 juta barel minyak—setara dengan seperlima konsumsi minyak dunia—melewati wilayah ini.
Negara-negara produsen minyak utama di kawasan, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait, sangat bergantung pada selat ini untuk mengekspor komoditas mereka ke pasar global. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan sekitar Selat Hormuz kerap menjadi lokasi insiden dan ketegangan geopolitik.
Menanggapi situasi ini, Rubio menegaskan bahwa Iran harus menahan diri dan menghindari langkah provokatif lebih lanjut. Ia memperingatkan, “Jika Iran membalas secara militer, itu akan menjadi kesalahan terburuk yang pernah mereka buat.”








Leave a Comment