Harakatuna.com – Kunjungan Paus Fransiskus kemarin diikuti oleh tertangkapnya sejumlah teroris yang diduga hendak melakukan penyerangan. Masyarakat pun teralihkan perhatiannya dengan berita terkait, dan menganggap bahwa kelompok jihadis merupakan momok terbesar toleransi di tanah air. Namun, sadarkah mereka, bahwa di samping kaum jihadis, kaum HTI juga memiliki potensi ancaman yang tak kalah besar?
Beberapa jam setelah Paus Fransiskus pulang dari Indonesia dan masyarakat mengelu-elukan kesederhanaannya, ada seorang ustaz yang bikin cuitan di X, mengatakan bahwa Paus tidak lebih layak untuk dikagumi daripada Nabi Muhammad ihwal kesederhaan. Siapa ustaz tersebut? Setelah diselisik, ternyata ia simpatisan HTI. Narasi-narasinya selalu provokatif dan bernuansa khilafahisasi. Tampaknya, ia agen khilafahisasi HTI.
Penting dicatat, propaganda HTI di kalangan generasi muda memang merupakan ancaman serius yang meniscayakan strategi cerdas dan efektif. HTI, melalui agen-agennya, menggunakan berbagai pendekatan untuk menarik perhatian anak muda, baik melalui medsos, komunitas daring, maupun kegiatan-kegiatan yang tampak akademis dan religius. Banyak yang sudah terjebak dengan propaganda tersebut dan menjadi agen khilafah.
Mengingat generasi muda adalah aset bangsa yang menentukan masa depan Indonesia, melindungi mereka dari pengaruh khilafahisasi merupakan sesuatu yang sangat krusial. Caranya? Jadikan mereka agen kontra-narasi. Sebab, propaganda HTI memanfaatkan rasa ketidakpuasan dan keresahan generasi muda, seperti krisis identitas, alienasi sosial, dan ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi-politik.
Dengan menjadi agen kontra-narasi, generasi muda akan berada di front terdepan untuk mendepak upaya khilafahisasi—propaganda yang dianggap jalan keluar dari segala permasalahan. Dengan keterampilan komunikasi yang kuat, para agen kontra-narasi akan menjawab semua kebingungan generasi muda, membujuk mereka untuk menolak HTI dan khilafah palsu yang hendak menghancurkan negara-bangsa.
Agen Kontra-Narasi: Membangun Kesadaran
Untuk menghadapi propaganda HTI terutama di kalangan generasi muda, perlu dibangun strategi komunikasi positif dan inovatif, yakni bahasa ‘ala anak muda’ yang mereka pahami, media yang mereka gunakan, sebagai pendekatan menarik minat mereka. Kampanye edukasi melalui medsos harus diarusutamakan, mengingat platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube tengah menjadi hive generasi muda itu sendiri.
Konten-konten edukatif yang dikemas dalam bentuk video pendek, infografis, meme, atau cerita interaktif dapat menjadi alat efektif untuk menyampaikan pesan-pesan anti-khilafah HTI. Lantas, siapa yang bisa melakukan upaya tandingan tersebut? Tidak lain adalah generasi muda juga yang jadi agen kontra-narasi tadi. Generasi muda harus dihadapi oleh generasi muda, sehingga efektivitasnya dapat diukur dengan jelas.
Para agen kontra-narasi juga penting untuk menekankan narasi kebangsaan yang mengangkat keberagaman, toleransi, dan hubulwatan sebagai nilai-nilai utama yang mesti dijaga. Konten-konten semacam itu diproyeksikan mampu menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas kebangsaan, memperlihatkan kekayaan budaya NKRI, dan menghilangkan stereotipe atas umat di luar Islam. Sedemikian beratkah tugas agen kontra-narasi?
Memang iya. Tetapi, dengan cara itulah, generasi muda akan memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan bangsa. Berat bukan berarti sulit jika dilakukan dengan militan, sebagaimana militannya agen-agen khilafahisasi HTI selama ini. Pada intinya, tugas agen kontra-narasi yang notabene dari kalangan generasi muda ialah membangun kesadaran sesama generasi muda untuk kemaslahatan NKRI di masa depan.
Sebagai digital native, generasi muda yang menjadi agen kontra-narasi lebih punya ketersambungan emosional dengan sepantaran mereka. Karena itulah, upaya mencegat khilafahisasi generasi muda ialah dengan cara menjadikan mereka agen kontra-narasi. HTI dan propaganda khilafahisasinya sudah terlalu canggih untuk diatasi oleh generasi-generasi usia lanjut, sekalipun duduk di pemerintahan. Mereka sudah ketinggalan zaman.
Peran Pendidikan Nonformal
Selain strategi digital, peran pendidikan nonformal sebagai agen kontra-narasi juga mesti dioptimalkan. Organisasi kepemudaan, komunitas lokal, serta lembaga pendidikan nonformal bisa memainkan peran vital dalam menyebarkan narasi alternatif yang moderat. Diskusi kelompok, lokakarya, dan kegiatan sosial edukatif-kritis dapat menjadi alat ampuh dalam menangkal ideologi transnasional yang dipropagandakan.
Tak kalah penting juga untuk memperkuat keterampilan literasi media di kalangan pemuda agar mereka mampu memfiltrasi informasi, terutama dari sumber yang tidak jelas kredibilitasnya. Dengan pendekatan yang lebih berbasis komunitas, generasi muda akan merasa lebih terkoneksi dengan apa pun yang diajarkan, juga lebih bisa resisten pada propaganda khilafah yang mencederai nilai-nilai kebangsaan.
Lalu, apakah pendidikan formal dianggap tidak efektif sebagai agen kontra-narasi? Jelas tidak demikian. Pendidikan formal telah memainkan perannya selama ini, namun sifatnya formalistis dan jarang sekali melibatkan relasi emosional. Pendidikan nonformal lebih potensial ihwal narasi persuasif mencegah khilafahisasi. Anak muda, bagaimana pun, hanya bisa ‘nyambung’ jika dengan sesama anak muda.
Pada saat yang sama, untuk melawan propaganda HTI secara efektif, semua elemen masyarakat wajib hukumnya bekerja sama—mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, hingga media massa. Ekosistem yang mendukung narasi kebangsaan berkelanjutan itu tidak dapat ditawar. Hanya dengan itu, generasi muda akan tercegat dari pengaruh ideologi transnasional yang selalu merongrong nasionalisme.
Saatnya semua pihak, terutama generasi muda, bergerak bersama membangun kontra-narasi yang kuat, positif, dan persisten untuk mencegat khilafahisasi. Dengan cara tersebut, masa depan Indonesia akan aman dari ancaman ideologi yang tidak sejalan dengan spirit kebangsaan. Saatnya generasi muda ambil bagian sebagai agen kontra-narasi, yang bergerak tidak karena pragmatisme melainkan militansi atas negara tercinta: NKRI.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…








Leave a Comment