UNRWA: Mekanisme Distribusi Bantuan Israel di Gaza Telah Menjadi “Perangkap Maut”

Ahmad Fairozi, M.Hum.

02/06/2025

2
Min Read
UNRWA: Mekanisme Distribusi Bantuan Israel di Gaza Telah Menjadi “Perangkap Maut”

On This Post

Harakatuna.com. Gaza – Mekanisme distribusi bantuan yang diterapkan oleh Israel di Jalur Gaza menuai kecaman keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyusul jatuhnya puluhan korban jiwa di tengah upaya masyarakat sipil untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan.

Menurut laporan dari Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), distribusi bantuan yang seharusnya menyelamatkan nyawa justru berubah menjadi ancaman mematikan bagi warga sipil yang kelaparan, terutama di wilayah selatan Gaza. “Distribusi bantuan telah menjadi perangkap maut,” tegas Philippe Lazzarini, Komisaris Jenderal UNRWA, dalam pernyataan resminya pada Minggu (1/6).

Pernyataan tersebut menyusul insiden penembakan oleh pasukan Israel terhadap kerumunan warga Palestina di dekat titik distribusi bantuan di kota Rafah, yang mengakibatkan sedikitnya 49 orang syahid dan lebih dari 305 lainnya terluka, menurut data dari Kementerian Kesehatan Gaza.

Media Israel sebelumnya melaporkan bahwa Israel membangun empat titik distribusi bantuan di Gaza bagian selatan dan tengah. Namun, di balik itu, tersirat agenda militer untuk mendorong warga sipil meninggalkan wilayah utara. Menurut Radio Angkatan Darat Israel, strategi tersebut bertujuan menjadikan Gaza utara sebagai “daerah yang benar-benar kosong.”

Lazzarini menyebut pendekatan ini sebagai “sistem yang memalukan” dan menambahkan, “Sistem ini telah memaksa ribuan orang yang kelaparan dan putus asa berjalan kaki puluhan kilometer ke wilayah yang hampir seluruhnya hancur akibat pemboman.”

UNRWA menegaskan bahwa distribusi bantuan harus dilakukan dalam skala besar dan dengan jaminan keamanan. “Di Gaza, hal ini hanya dapat dicapai melalui PBB, termasuk UNRWA,” ujar Lazzarini.

Ia pun menyerukan kepada Israel untuk mencabut blokade di Jalur Gaza dan memberikan akses kemanusiaan yang aman dan tanpa hambatan bagi badan-badan PBB dan lembaga bantuan lainnya. “Ini adalah satu-satunya cara untuk mencegah kelaparan massal, termasuk di antara 1 juta anak-anak,” imbuhnya.

Sejak 27 Mei, saat mekanisme distribusi bantuan versi Israel diberlakukan, berbagai insiden kekerasan telah terjadi di sekitar lokasi distribusi. Menurut kantor media pemerintah Gaza, korban tewas dan luka terus bertambah dari hari ke hari.

Situasi semakin memburuk sejak Israel menutup seluruh penyeberangan perbatasan sejak 2 Maret, menghentikan masuknya makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan bantuan penting lainnya bagi sekitar 2,4 juta penduduk Jalur Gaza.

Leave a Comment

Related Post