Trump Cabut Sanksi Suriah, Dinilai Sebagai Langkah Perlawanan Halus Terhadap Israel

Ahmad Fairozi, M.Hum.

17/05/2025

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Riyadh – Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencabut sanksi terhadap Suriah menuai berbagai tanggapan, termasuk dari mantan diplomat Inggris untuk Suriah, Peter Ford, yang menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk penegasan independensi Washington dari pengaruh Israel di kawasan.

Dalam pernyataannya pada Jumat (16/5), Ford menyebut langkah Trump itu bukan semata-mata kebijakan luar negeri biasa, melainkan sinyal politik yang kuat. “Pengumuman tersebut terjadi di saat Trump tampak ingin menunjukkan independensi dari Benjamin Netanyahu,” kata Ford, merujuk pada pemimpin otoritas Israel yang selama ini menentang pelonggaran terhadap Suriah.

Menurut Ford, Suriah adalah satu-satunya negara Arab yang masih berpotensi menahan ambisi regional Israel. “Oleh karena itu, keterbukaan Trump terhadap Suriah adalah tindakan perlawanan terhadap Israel,” lanjutnya.

Trump menyampaikan keputusan pencabutan sanksi itu dalam Forum Investasi AS-Arab Saudi di Riyadh pada Selasa lalu. Dalam forum tersebut, ia didampingi oleh Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), yang kehadirannya dinilai Ford sebagai isyarat penting. “Ini menunjukkan bahwa Trump kini lebih mendengarkan MBS daripada Netanyahu,” kata Ford.

Ia juga menyebut bahwa keterbukaan terhadap Suriah menandakan penguatan kembali hubungan AS dan Arab Saudi yang sempat merenggang di bawah kepemimpinan Presiden Joe Biden. Ford juga memprediksi bahwa pendekatan baru ini membuka kemungkinan bagi AS untuk menjadikan Damaskus sebagai sekutu strategis, serupa dengan Yordania.

“Israel harus mempertimbangkan kembali pendekatannya terhadap Suriah. Jika Suriah menjadi mitra AS, maka Israel mungkin harus mengakhiri serangannya dan bahkan mempertimbangkan pengembalian wilayah yang mereka caplok,” ujar mantan duta besar tersebut.

Trump sendiri memperkuat sinyal rekonsiliasi dengan Suriah dalam pertemuan tertutup yang berlangsung Rabu, sehari setelah pengumuman pencabutan sanksi. Dalam pertemuan tersebut, ia bertemu dengan Presiden Suriah Ahmed Al-Sharaa, bersama MBS dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Pertemuan itu membahas upaya bersama dalam memerangi kelompok teroris, khususnya ISIS. Trump juga disebut mendorong Al-Sharaa untuk mempertimbangkan dukungan terhadap Perjanjian Abraham—sebuah inisiatif normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel.

Setelah pertemuan, Trump memuji Al-Sharaa sebagai “pemimpin muda yang menarik, tangguh, dan memiliki latar belakang yang kuat.” Hal ini semakin memperkuat sinyal bahwa Washington mulai membuka pintu bagi pemulihan hubungan bilateral dengan Damaskus.

Namun, Ford menekankan bahwa pemulihan hubungan tersebut tetap harus memperhitungkan penempatan pasukan AS di Suriah. “Penarikan tentara AS adalah langkah logis. Ini dapat menjadi jembatan antara AS dan Iran, terutama menjelang fase krusial dalam negosiasi nuklir mereka,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Iran kemungkinan besar akan mencermati perkembangan ini dengan serius. “Ini bisa menjadi bahan pertimbangan penting bagi Iran dalam menentukan sikapnya terhadap AS,” pungkas Ford.

Leave a Comment

Related Post