Toxic Masculinity dan Radikalisme: Benarkah Teroris Kebanyakan Laki-Laki Muda?

Hilal Mulki Putra

07/04/2025

4
Min Read
toxic masculinity

On This Post

Harakatuna.com – Jika kita melihat foto-foto pelaku terorisme yang tersebar di media, dari bom Bali hingga serangan Paris, ada satu pola yang terus berulang: sebagian besar pelakunya adalah laki-laki muda. Data Institute for Economics and Peace (2023) menunjukkan bahwa 92% pelaku aksi terorisme global dalam sepuluh tahun terakhir adalah pria berusia 18-35 tahun. Fakta ini memunculkan pertanyaan penting: apa hubungan antara konsep maskulinitas, krisis identitas, dan kerentanan terhadap radikalisme?  

Studi dari Universitas Cambridge (2022) terhadap 500 mantan anggota ISIS mengungkap tematan mengejutkan: 68% mengaku bergabung karena ingin membuktikan “kejantanan”, sementara 41% merasa tidak dihargai sebagai lelaki di masyarakat sebelum terlibat terorisme. Kasus Ahmad S (25 tahun), mantan simpatisan JAD di Jawa Tengah, memperkuat temuan ini. 

Ia mengaku direkrut dengan iming-iming pembuktian diri sebagai lelaki sejati. “Saya diajak ikut latihan perang. Kata mereka, lelaki sejati harus berani angkat senjata,” ujarnya. Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana toxic masculinity atau konsep sempit tentang kejantanan yang menekankan kekerasan, dominasi, dan penekanan emosi – menjadi pupuk subur bagi radikalisme.  

Kelompok ekstremis dengan cerdik memanfaatkan krisis identitas yang dialami banyak pemuda. Mereka menawarkan narasi simplistis tentang kejantanan yang disandingkan dengan jihad. Konsep ‘lelaki sejati’ versi mereka mengharuskan sikap keras, dominasi mutlak, dan penolakan terhadap segala bentuk kelemahan. Ironisnya, tafsir sempit itu dibungkus dengan dalil agama. 

Ayat seperti QS. An-Nisa’: 84 yang memerintahkan perang, diambil secara literal tanpa mempertimbangkan konteks historis dan prinsip dasar Islam tentang rahmatan lil ‘alamin. Padahal, Syekh Abdul Qadir alJailani dalam “Futuh al-Ghaib” justru menekankan kelembutan hati sebagai tanda kekuatan iman sejati.  

Toxic Masculinity dan Kaitannya dengan Radikalisme

Toxic masculinity adalah sebuah konsep yang menggambarkan ekspektasi sosial beracun tentang bagaimana seharusnya seorang pria bersikap ternyata memiliki kaitan erat dengan penyebaran paham radikal. Dalam banyak kasus, narasi radikalisme justru memanfaatkan stereotipe maskulinitas beracun seperti “pria harus keras, dominan, dan agresif” untuk merekrut anggota baru, terutama di kalangan pemuda.  

Fenomena ini terlihat jelas dalam propaganda kelompok ekstremis yang kerap menggambarkan kekerasan sebagai simbol keberanian dan kekuatan. Mereka menargetkan anak muda yang merasa teralienasi atau tidak dihargai, lalu menawarkan identitas “pejuang” yang dianggap lebih maskulin dan heroik. Padahal, konsep ini bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang sebenarnya menekankan kasih sayang, kebijaksanaan, dan kedamaian.  

Ironisnya, toxic masculinity juga menjadi pintu masuk bagi radikalisme dalam lingkup keluarga. Banyak kasus menunjukkan bahwa tekanan untuk menjadi “pemimpin otoriter” dalam rumah tangga dapat memicu intoleransi dan sikap keras terhadap perbedaan. Jika tidak diatasi, pola pikir ini dapat berkembang menjadi radikalisme yang mengancam harmoni sosial.  

Doktrin Sesat

Profil pelaku terorisme muda umumnya memiliki tiga karakteristik utama. Pertama, krisis ekonomi. Banyak berasal dari kelas menengah bawah yang frustasi dengan kegagalan mendapatkan pekerjaan layak. Ali Imron, pelaku bom Bali 2002, adalah contoh nyata seorang pengangguran sarjana sebelum direkrut jaringan teroris. Kedua, krisis romansa. 

Penelitian King’s College London (2021) menunjukkan 55% teroris Eropa memiliki riwayat penolakan cinta. Dr. Siti Nurhayati, psikolog terorisme UI, menjelaskan “Mereka diajak membenci perempuan ‘kafir’ yang menolak mereka sebagai bentuk kompensasi psikologis.” Ketiga, kebutuhan akan ‘brotherhood’ atau ikatan persaudaraan yang tidak mereka dapatkan di keluarga atau masyarakat luas.  

Rudi (nama samaran), mantan anggota JAD, bercerita tentang pengalaman direkrutnya: “Saya diajak saat demo 2019. Mereka bilang, ‘Kamu lelaki kok cuma bisa teriak-teriak demo? Ayo bikin perubahan nyata.'” Kalimat sederhana ini menyentuh luka terdalam banyak pemuda: perasaan tidak berdaya dan keinginan untuk diakui. Kelompok radikal menawarkan solusi instan untuk kompleks inferioritas ini dengan memberinya identitas baru sebagai pejuang agama.

Pendidikan Gender adalah Kunci

Lalu bagaimana memutus siklus ini? Pendidikan gender yang sehat menjadi kunci. Pondok Pesantren Darussalam di Gresik telah memulai terobosan dengan program Laki-Laki Beradab yang mengajarkan konsep maskulinitas berbasis akhlak Qur’ani. Kegiatan seperti merawat bayi, memasak, dan mengelola emosi diintegrasikan dalam kurikulum. Hasilnya? Lima tahun terakhir, tidak ada satupun santri mereka yang terpapar radikalisme.  

Di tingkat keluarga, orang tua perlu membangun komunikasi terbuka dengan anak lelaki tentang ekspresi emosi yang sehat. “Anak laki-laki juga butuh menangis, butuh pelukan, dan butuh didengar,” tegas Buya Husein Muhammad, pengasuh Pesantren Darul Tauhid Arjawinangun. Pendekatan keagamaan yang menekankan kasih sayang daripada kekerasan harus menjadi mainstream.  

Masyarakat pun perlu berhenti melanggengkan stereotipe berbahaya seperti laki-laki tidak boleh cengeng atau lelaki sejati harus keras. Sebaliknya, kita perlu menormalisasi keragaman ekspresi maskulinitas. Seperti dikatakan KH. Imam Nakha’i, “Kekuatan sejati justru terletak pada kemampuan mengendalikan diri, bukan mengendalikan orang lain.”  

Pada akhirnya, memerangi terorisme tidak cukup dengan pendekatan keamanan semata. Kita harus berani membongkar akar kulturalnya konsep maskulinitas beracun yang membuat pemuda rentan dijaring radikalisme. Dengan mendefinisikan ulang makna kejantanan yang lebih inklusif dan manusiawi, kita bisa memutus siklus kekerasan yang telah merenggut terlalu banyak korban. Seperti pesan bijak Nabi Muhammad SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.” Bukankah demikian definisi sejati dari kejantanan?

Leave a Comment

Related Post