Tobat dari Masa Lalu, Eks Napiter Asal Poso Kini Hidup Damai dengan Bertani dan Berjualan Madu

Ahmad Fairozi, M.Hum.

22/06/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Poso – Fahran bin Hamli Pariwusu, mantan narapidana kasus terorisme asal Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, kini menjalani kehidupan baru yang jauh dari kekerasan. Setelah menyelesaikan masa hukuman, ia memutuskan untuk kembali ke tengah masyarakat dan membangun masa depan yang lebih baik bersama keluarganya.

Pria yang sempat terseret dalam aktivitas terorisme itu ditangkap pada Mei 2022 karena keterlibatannya dalam kegiatan baiat kepada kelompok radikal ISIS atau Daulah Islamiyah. Ia dijatuhi hukuman dua tahun enam bulan dan menjalani masa tahanan di Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, Jawa Barat. Fahran dinyatakan bebas pada 17 Agustus 2024.

Kini, Fahran memilih menjalani hidup secara mandiri dengan berjualan madu lokal berlabel “HUFAZAH”, produk yang diperolehnya dari jaringan pertemanan sesama eks narapidana terorisme yang dulu sama-sama menjalani hukuman di Lapas Gunung Sindur. Selain berdagang, ia juga aktif membantu kedua orang tuanya mengelola kebun kelapa dan menanam tanaman nilam di kampung halamannya.

“Saya tidak ingin lagi terlibat dalam tindakan terorisme. Pengalaman kemarin menyadarkan saya bahwa semua itu hanya membawa kerugian, bukan hanya untuk diri saya, tapi juga untuk keluarga,” ujar Fahran saat ditemui di kediamannya.

Keputusan Fahran untuk berubah juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Ia tercatat sebagai salah satu peserta dalam program Pro-Posoku angkatan ke-3 tahun 2024/2025, sebuah inisiatif pendekatan psikososial yang bertujuan untuk memperkuat kapasitas eks napiter dan keluarga mereka di Kabupaten Poso. Program ini dijalankan oleh Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil (LPMS) bekerja sama dengan The Habibie Center (THC), serta didukung oleh Sasakawa Peace Foundation (SPF).

Melalui program tersebut, Fahran dan para peserta lainnya mendapatkan pelatihan serta pendampingan untuk membangun kehidupan yang produktif dan damai di tengah masyarakat. “Sekarang saya ingin berusaha mandiri, meskipun sementara ini masih banyak bergantung pada bantuan orang tua. Saya ingin berubah dan memperbaiki semuanya,” ungkapnya dengan nada penuh penyesalan.

Langkah Fahran menjadi contoh nyata bahwa perubahan adalah mungkin bagi siapa saja yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri. Ia berharap kisah hidupnya bisa menjadi pelajaran bagi orang lain agar tidak terjerumus dalam paham kekerasan yang hanya membawa kehancuran.

Leave a Comment

Related Post