Tiga Tingkatan Seorang Hamba dalam Beragama

Harakatuna

22/07/2025

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Setiap manusia memiliki preferensi sendiri dalam menjalankan agamanya. Sebagian orang menjalankan kewajiban beragama hanya karena merupakan suatu kewajiban. Sedangkan sebagian yang lain menjalankan urusan agamanya semata-mata mengharap ridla Allah swt. Imam Nawawi dalam Maraqil ‘Ubudiyah menjelaskan tingkatan-tingkatan manusia dalam beragama. Dalam urusan agama, manusia terbagi menjadi tiga tingkatan. Pertama disebut salim (orang yang selamat), yaitu orang yang hanya menunaikan ibadah-ibadah fardu atau wajib dan meninggalkan maksiat. Kedua, rabih (orang yang beruntung) yaitu orang yang sukarela melakukan ibadah-ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah swt dan amalan-amalan sunah. Ketiga, khasir (orang yang rugi) yaitu orang yang lalai atau bermalas-malasan dalam menunaikan kewajiban-kewajiban agama.

Jika seseorang tidak mampu untuk menjadi orang yang beruntung, maka ia sangat dianjurkan untuk berusaha untuk menjadi orang yang selamat. Hal ini bertujuan untuk terhindar menjadi orang yang merugi. Namun demikian, ibadah kepada Allah swt bukan semata-mata hanya untuk mendapatkan surga, karena ibadah yang banyak tidak menjamin seseorang masuk surga. Tujuan utama ibadah adalah sebagai bentuk penghambaan kepada Allah swt dan mengharapkan ridlaNya.

Dalam suatu kisah disebutkan bahwa ada seorang laki-laki Bani Israil yang menyembah Allah swt selama 70 tahun. Lalu Allah swt mengutus malaikat untuk menyampaikan bahwa dengan ibadahnya itu, ia belum layak untuk masuk surga. Ketika mendengar hal itu, laki-laki tersebut berkata “kami diciptakan untuk beribadah, maka sudah sepatutnya kami beribadah kepadaNya.” Ketika malaikat kembali dan menyampaikan hal tersebut kepada Allah swt, Allah berfirman:

إِذْ هُوَ لَمْ يُعْرِضْ عَنْ عِبَادَتِنَا فَنَحْنُ مَعَ الْكَرَمِ لَا نُعْرِضُ عَنْهُ، اشْهَدُوا يَا مَلَائِكَتِي أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُ

Artinya: “Karena ia tidak berpaling dari ibadah kepada-Ku, maka Kami dengan kemurahan-Ku, tidak akan berpaling darinya. Saksikanlah wahai para malaikat-Ku, bahwa Aku telah mengampuninya.”

Kisah ini memberikan hikmah tentang pentingnya membangun kesadaran bahwa ibadah bukanlah transaksi antara hamba dan Tuhan, melainkan wujud cinta, tunduk, dan penghambaan. Ibadah seorang hamba dinilai dari keikhlasannya bukan dari kuantitas ibadahnya. Kisah ini selaras dengan firman Allah swt dalam Q.S. al-Fatir:

ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَاۚ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚوَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ ۚوَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُۗ

Artinya: “Kemudian, kitab suci itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu, di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Itulah (dianugerahkannya kitab suci adalah) karunia yang besar.” Q.S. al-Fatir (35): 32.

Menurut Abu Bakar al-Waraq dzalimun li nafsihi adalah orang yang lalai dan bermaksiat, orang yang muqtasidin adalah orang yang bertaubat, sedangkan as-sabiqin adalah orang yang taqarrub kepada Allah swt. Al-Zajjaj dalam Ma’ani al-Qur’an wa I’rabuhu menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan luasnya ampunan Allah swt kepada seluruh golongan kaum beriman baik mereka yang bersikap pertengahan (muqtasid) maupun yang masih berbuat dosa (zalimun li nafsihi), selama mereka benar-benar beriman. Di samping itu, pada ayat selanjutnya Allah swt juga menjanjikan surga kepada tiga golongan tersebut:

جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا يُحَلَّوْنَ فِيْهَا مِنْ اَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَّلُؤْلُؤًا ۚوَلِبَاسُهُمْ فِيْهَا حَرِيْرٌ

Artinya: “(Balasan mereka di akhirat adalah) surga ‘Adn yang mereka masuki. Di dalamnya mereka dihiasi gelang-gelang dari emas dan mutiara. Pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.” Q.S. al-Fatir (35): 33.

Dengan demikian, Allah swt menilai ibadah dan amal perbuatan berdasarkan ketulusan dan keimanan. Sekecil apa pun iman yang dimiliki seseorang, rahmat Allah swt sangat luas. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk berputus asa dari rahmat-Nya. Wallahu a’lam.

Oleh: Qurrotul Ayuni.

Leave a Comment

Related Post