Terorisme Berkurang, Digitalisasi Perlu Diperkuat untuk Lawan Ancaman Radikalisasi Daring

Ahmad Fairozi, M.Hum.

16/04/2025

3
Min Read
Terorisme Berkurang, Digitalisasi Perlu Diperkuat untuk Lawan Ancaman Radikalisasi Daring Ahmad Fairozi BNPT

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta – Indonesia patut berbangga karena tidak mencatatkan satu pun serangan teror dalam dua tahun terakhir. Namun, aparat keamanan mengingatkan bahwa ancaman terorisme tetap ada dan terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Hal tersebut disampaikan dalam seminar Global Terrorism Index (GTI) 2025 yang berjudul “Findings and Lessons Learned for Indonesia” yang diadakan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada awal April di Jakarta.

Radikalisasi daring menjadi salah satu bentuk ancaman baru, menyusup melalui media sosial, gim online, dan konten-konten yang berbau konflik. Ancaman ini terutama mengincar generasi muda dan menjadi tantangan bagi orang tua, karena prosesnya berlangsung secara senyap.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam kesempatan itu menegaskan bahwa meski Indonesia tidak memiliki serangan teror baru, ancaman terorisme tetap nyata. Mereka menggarisbawahi bahwa terorisme modern tidak hanya bergantung pada bom atau senjata, tetapi juga penyalahgunaan teknologi digital. Upaya membangun literasi digital menjadi hal penting untuk melindungi individu dari ancaman radikalisasi.

“Jika kita melihat secara keseluruhan dari GTI 2025, Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara menunjukkan kemajuan. Tetapi yang harus kita waspadai adalah: alat-alat untuk melakukan teror ada di luar sana. Internet itu sangat kuat, dan mereka pasti akan memanfaatkannya,” ujar Andhika Chrisnayudhanto, Deputi Kerja Sama Internasional BNPT, dalam seminar tersebut.

Andhika menambahkan bahwa ruang digital kini menjadi saluran baru dalam penyebaran ideologi radikalis, terutama kepada generasi muda yang rentan menjadi pelaku tunggal atau lone wolf actors. “Jika melihat tren dari GTI 2025, ancaman terorisme itu masih nyata dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Di negara-negara Barat, misalnya, aksi teror terbaru banyak dilakukan oleh pelaku tunggal yang cenderung muda dan memiliki rentang ideologi yang luas. Mereka sulit untuk dimonitor,” tuturnya.

Pendapat ini diperkuat oleh Steve Killelea, pendiri Institute for Economics and Peace (IEP), yang menyatakan bahwa lone wolf actors menjadi tren global terorisme, termasuk di Indonesia. Sekitar 92 persen kematian akibat serangan teror berasal dari aktor tunggal.

“Kami melihat media sosial, khususnya grup percakapan tertutup dan bahkan gim online, telah menjadi ruang rekrutmen baru yang sulit diawasi. Proses radikalisasi kini lebih cepat, yang sebelumnya memakan waktu hingga 16 bulan, kini hanya butuh beberapa minggu,” jelas Killelea.

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri juga menyoroti meningkatnya potensi serangan oleh pelaku tunggal, terutama yang dipicu oleh kemarahan mendalam terhadap tayangan konflik kemanusiaan, seperti di Timur Tengah. AKBP Mayndra Eka Wardhana, Kasubdit Kontra Naratif Direktorat Pencegahan Densus 88, menyatakan, “Jika seseorang memiliki niat tetapi tidak ada kesempatan, itu belum tentu menjadi kejahatan. Namun, dengan adanya tayangan yang sangat tidak manusiawi, kemarahan dapat muncul, ditambah dengan provokasi dan hoaks, yang dapat melahirkan teror.”

Ia menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam melakukan asesmen, terutama orang tua dan komunitas. “Radikalisasi biasanya membuat seseorang berbeda dari komunitasnya. Orang tua harus memberikan kontrol kepada anak-anak mereka, dan komunitas lokal juga harus berperan. Masyarakat sendiri adalah pagar pertahanan pertama,” ungkapnya.

Meskipun Indonesia tidak mencatatkan serangan teror sejak 2023, laporan GTI 2025 menempatkan Indonesia di peringkat ke-30, turun dua tingkat dari tahun sebelumnya, dan masuk dalam kategori ancaman menengah. Penurunan ini disebabkan karena laporan tahun ini juga memasukkan serangan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua ke dalam indikator penilaian.

BNPT menilai bahwa meskipun persepsi tentang situasi terorisme di Indonesia relatif membaik, digitalisasi menuntut pendekatan baru dalam pencegahan terorisme, yang harus menjadi senjata utama dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Leave a Comment

Related Post