Harakatuna.com – Dalam sejarah perkembangan zaman Islam, Al-Qur’an telah banyak mengabarkan kisah-kisah terdahulu tentang apa saja yang dihadapi pada umat-umat sebelum umat Rasulullah. Salah satunya ialah shirah nabawiyah tentang Nabi Ibrahim A.S. Dalam Al-Qur’an, Allah memuliakan Nabi Ibrahim A.S sebagaimana Nabi Ibrahim sangat memuliakan Allah dengan membawa ajaran ketauhidannya.
Salah satu ayat favorit saya di Surah Al-Baqarah, ayat 126 tepatnya mengisahkan tentang bagaimana Nabi Ibrahim memohon kepada Allah sebuah kondisi negeri yang aman dan damai. Hal tersebut diabadikan dalam ayat yang berbunyi:
وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
Dalam penjelasan tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia), ayat tersebut memiliki makna bahwa doa Nabi Ibrahim a.s. dikabulkan Allah dengan menjadikan Mekah sebagai tanah suci yang aman. Beliau memohon agar kota itu terhindar dari bencana, pertumpahan darah, dan serangan musuh, serta diberikan rezeki berupa buah-buahan untuk penduduknya. Doa tersebut benar-benar terwujud, karena hingga kini berbagai macam hasil bumi dan buah-buahan dari seluruh dunia dapat ditemukan di Mekah. Walau doa beliau khusus untuk orang-orang beriman, Allah tetap melimpahkan rahmat-Nya kepada semua manusia, baik yang beriman maupun yang tidak.
Meneladani Perbuatan Nabi Ibrahim A.S
Saya meyakini, bahwa Al-Qur’an turun menjadi pedoman hidup umat manusia. Begitu pula dengan shirah nabawiyah yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, terutama surah Al-Baqarah ayat 126. Tentu, bukan tanpa alasan mengapa Nabi Ibrahim A.S memohon kedamaian dan keamanan untuk negeri.
Negeri yang aman, damai, dengan masyarakat yang sejahtera menjadi harapan bagi seluruh ummat. Dengan negeri yang aman, masyarakat dapat beribadah, bekerja, dan melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik. Bayangkan jika sebuah negara merupakan negara yang sedang berjuang untuk mendapatkan keamanan. tentulah, dalam sehari-hari, warga negaranya tidak dapat melakukan ibadah, bekerja, atau aktivitas lainnya dengan baik. Apalagi jika diperparah dengan kerusakan ekologis yang semakin membuat sumber daya alam menipis untuk menopang hidup.
Bisakah kita berefleksi dari Negara Palestina, hingga detik ini seluruh rakyat masih mengerahkan tenaga, waktu, dan pengorbanan yang tiada henti untuk mengembalikan dan mendapatkan keamanan negeri. Mari kita ingat kembali, bagaimana ganasnya Israel ketika melakukan genosida terhadap masyarakat Palestina. Sehingga, mereka hidup dalam kepayahan, kekurangan makanan, banyaknya wabah penyakit. Jangankan untuk beribadah, untuk makan, minum, dan mengakses sanitasi saja mereka sungguh kewalahan. Oleh karenanya, mereka selalu memperjuangkan keamanan negeri demi generasi sekarang, nanti, dan seterusnya.
Refleksi Kondisi Indonesia Saat Ini
Berkaca dari Indonesia akhir-akhir ini, secara tidak langsung kita mengalami hal yang dapat dikatakan serupa. Beberapa tahun terakhir, kita tidak menafikan banyak rakyat yang mengeluhkan sulitnya mencari pekerjaan, harga bahan pokok yang melambung tinggi, akses kesehatan dan pendidikan yang mahal. Banyak masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan dan seringkali menjadi korban yang rentan, terutama bagi anak-anak dan perempuan.
Beberapa hari terakhir, kita juga mendengar seorang pengemudi ojek daring yang sengaja dilindas oleh mobil barracuda milik aparat kepolisian. Padahal, beliau sedang mengantarkan pesanan makanan pelanggannya. Tentu kemudain hal tersebut mengiris hati masyarakat. Disisi yang lain, kita juga mendengar bahwa tunjangan dana kehidupan DPR sangat tinggi di tenagh lesunya ekonomi negara. Kabar-kabar tersebutlah yang juga mendefinisikan bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Oleh karenanya, salah satu ikhtiar yang dapat kita lakukan sebagai masyarakat ialah memohon doa keselamatan bagi saudara kita baik yang seiman atau kemanusiaan. Selainnya, memohon untuk menciptakan Indonesia sebagai negara yang aman dengan rakyat yang sejahtera. Dari Nabi Ibrahim A.S lah kita dapat belajar untuk meneladani sifat beliau dalam menghadapi peliknya kondisi suatu balad atau negara.
Mari kita biasakan memohon dalam setiap shalat, zikir, dan munajat agar Allah menjaga negeri dari kekacauan, ketidakadilan, serta penderitaan rakyatnya. Dengan doa yang terus dipanjatkan, kita memperkuat ikatan persaudaraan, membangun harapan, dan menanamkan keyakinan bahwa Allah selalu mendengar seruan hamba-Nya. Seperti Nabi Ibrahim yang berdoa untuk keselamatan tanah Haram, kita pun bisa meneladani beliau dengan senantiasa mendoakan Indonesia agar menjadi negeri yang damai, sejahtera, dan diridai Allah.
Oleh: Layyin Lala.








Leave a Comment