Harakatuna.com – Di media sosial, kita tidak henti-hentinya untuk berdebat dengan netizen yang menentang Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia. Beberapa waktu lalu ketika kunjungan 5 kader NU menemui Presiden Israel, seluruh media sosial ramai menghujat organisasi NU. Sekalipun PBNU sudah meminta maaf, seluruh postingan/berita terkait dengan kunjungan tersebut, terus mendapat kecaman dari netizen.
Lima dari tokoh yang hadir pada saat pertemuan tersebut, melalui postingan Instagram pribadinya, pun sudah melayangkan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi di Indonesia. Terkait dengan respon netizen pada setiap postingan tentang 5 kader NU yang melakukan kunjungan menemui Presiden Israel, tidak sedikit komentar melalui postingan Instagram menyerukan kembai pada khilafah.
Saya ikut nimbrung dengan perdebatan tersebut dengan mengatakan bahwa, khilafah tidak boleh tegak di Indonesia. Pun demikian pula pendukung khilafah tidak boleh hidup di Indonesia karena sudah tidak sepakat dengan Pancasila dan UUD 45. Buntut atas komentar tersebut semakin panjang dan semakin blunder. Rasanya tidak ada habisnya untuk berdebat dengan para aktivis khilafah yang sampai hari ini, masih eksis dalam penyebaran ideologi khilafah. Dalam hal gerakan, ideologisasi dan kaderisasi, aktivis khilafah secara terang-terangan melakukannya. Sebagai pembelajar, kita pun harus tegak memosisikan diri dalam menolak Pancasila, termasuk menolak segala jenis tipu daya, strategi yang dilakukan oleh para aktivis khilafah.
Dukungan Indonesia untuk Palestina
Dalam mendukung kemerdekaan Palestina, Indonesia berdiri tegak untuk senantiasa berada di posisi Palestina. Sejauh ini, ada beberapa alasan atas dukungan tersebut di antaranya: pertama, UUD 1945 sudah mengamanatkan kepada bangsa Indonesia untuk tegak lurus mendukung Palestina. Kedua, Palestina merupakan negara yang mendukung kemerdekaan Palestina dari kolonial Belanda. Ketiga, solidaritas terhadap Muslim Palestina yang menjadi sasaran pembantaian oleh Zionis-Israel. Keempat, solidaritas kemanusiaan untuk menentang genosida yang mencederai kemanusiaan untuk seluruh Palestina.
Dalam upaya mendukung Palestina, masyarakat Indonesia melakukan berbagai upaya mulai dari pemboikotan, aksi kemanusiaan, dukungan untuk pengiriman bantuan, hingga ada yang menjadi relawan ke Palestina untuk mendistribusikan bantuan yang sudah diberikan oleh masyarakat Indonesia. Selain dari dukungan tersebut, tentu empati kita sebagai manusia, khususnya umat Muslim turut merasakan kesedihan yang sangat mendalam terhadap penderitaan yang dialami oleh masyarakat Palestina. Itu semua sebenarnya merupakan implementasi dari amanat UUD 1945.
Sepatutnya kita sebagai masyarakat Indonesia perlu berbangga diri bahwa, negara kita memiliki landasan dasar untuk mendukung kemerdekaan Palestina, sekalipun tidak menerapkan khilafah seperti apa yang dikampanyekan oleh para aktivis khilafah. Jika dengan adanya kasus lima kader NU menemui Palestina dianggap sebuah kebodohan, justru landasan paling besar untuk kita tetap keukeuh dalam mendukung kemerdekaan Palestina adalah UUD 1945.
Sampai di sini, masihkah kita buta bahwa Indonesia ini adalah negara yang merdeka dan berdaulat? Pancasila dan UUD 1945 adalah bukti bahwa Indonesia adalah negara yang tidak tunduk terhadap kekuasaan asing yang liberal, sekuler dan kapitalis. Sistem politik yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia didasarkan pada prinsip kedaulatan rakyat. Prinsip ini yang perlu kita resapi agar tidak tunduk oleh tipu muslihat para aktivis khilafah yang selalu membawa nama Islam dalam strategi politik merebut kekuasaan pemerintah Indonesia yang resmi.
Sekalipun kita berdiri di tanah air Indonesia sebagai seorang Muslim, tidak bisa dipungkiri bahwa ada banyak kelompok yang mengatasnamakan Islam untuk kepentingan golongan/kelompoknya sendiri. Maka dari itu, mari menjadi Muslim yang mencintai Indonesia dan menolak segala jenis ajakan/kampanye yang datang dari aktivis khilafah. Wallahu A’lam.








Leave a Comment