Tak Hanya Membaca Buku, Menjadi Penulis Juga Harus Peka

Alfa Anisa

27/07/2024

3
Min Read
peka

On This Post

Harakatuna.com – Modal menjadi seorang penulis tidak hanya membaca buku saja, tetapi harus melatih kepekaan dengan membaca lingkungan sekitar. Terlebih lagi ketika mengingat surat pertama Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu surah Al-Alaq ayat 1-5.

Ketika itu Rasul sedang bertafakur di Gua Hira’, Malaikat Jibril datang sambil berkata ‘Bacalah!’ dan mengulanginya sampai tiga kali. Saat itu tak ada buku atau alat tulis yang dapat dibaca seperti zaman ini, lalu apa yang dimaksudkan dengan ‘membaca’ seperti dimaksudkan pada ayat Al-Qur’an yang pertama turun?

Membaca sebenarnya tak hanya berkaitan dengan buku saja, namun bisa diartikan secara lebih luas. Terutama seorang penulis harus memiliki pemahaman dalam konsep membaca ini sebagai bekal melatih menulis setiap hari.

Sebenarnya bekal menulis tidak hanya pandai dalam merangkai kata-kata atau kalimat menjadi sebuah tulisan yang bermakna, bagus, atau relate dengan pembaca. Namun, sebelum itu, hal dasar sebelum menulis yang harus dipelajari yaitu membaca, bukan hanya buku saja, tapi membaca lingkungan sekitar untuk melatih kepekaan.

Kepekaan dalam hal ini sebuah modal penting untuk melihat realita dengan membaca lingkungan sekitar dan memahami agar tulisan yang dihasilkan dapat menyentuh dan relate dengan kondisi pembaca. Karena tulisan yang dapat menyentuh perasaan pembaca biasanya paling terkenang dan bermakna, apalagi jika ternyata apa yang dituliskan sesuai dengan kondisi pembaca.

Berikut ini beberapa hal yang dapat melatih kepekaan penulis, selain memperbanyak membaca buku, entah sastra atau tulisan lain juga untuk menganalisis bagaimana penulis lain menggambarkan watak tokoh, mencari ide, hingga mengekspresikan perasaan:

Mengamati Lingkungan Sekitar

Cara pertama dalam melatih kepekaan seorang penulis adalah mengamati detail dan memperhatikan apa yang ada di lingkungan sekitar. Mulai dari detail kecil seperti aroma bunga, percakapan orang di halte, suara rintik hujan, ekspresi wajah, hingga bahasa tubuh seseorang.

Mengikuti Diskusi atau Forum Kepenulisan

Mengikuti diskusi apa pun atau gabung dengan komunitas kepenulisan dapat menambah teman baru yang bisa saling sharing pengalaman. Dengan adanya diskusi atau mendengarkan pengalaman penulis lain barangkali mendapatkan inspirasi dan ide baru untuk menulis.

Mencoba Hal Baru

Jika sedang burn out atau stuck ide, barangkali bisa mencoba hal baru mulai dari pergi ke tempat yang belum dikunjungi, menemui orang baru, mengikuti kegitan berbeda, hingga melakukan aktivitas yang belum pernah dilakukan.

Mungkin saja dengan keluar dari zona nyaman, dapat menemukan inspirasi karena semakin banyak pengalaman, juga dapat melatih kepekaan dalam menemukan ide baru yang tidak monoton.

Memahami Perasaan dan Sudut Pandang Orang Lain

Diawali dari melatih empati yang ada dalam diri dengan memahami perasaan serta mengamati reaksi orang terhadap sesuatu hal. Dengan memahami perasaan dan melihat sesuatu peristiwa dari sudut pandang orang lain juga dapat membantu melatih kepekaan menulis agar tulisannya makin bermakna.

Mencatat Pengalaman dan Perasaan

Pengalaman apa pun yang sudah dialami atau peristiwa yang pernah terjadi juga jadi saah satu cara melatih kepekaan dalam menulis. Sehingga mempersiapkan note, atau buku catatan setiap pergi kemana pun dapat menjadi solusi ketika ide datang tiba-tiba.

Meskipun kesimpulannya membaca yang dimaksud bukan sekadar membaca buku atau tulisan, tapi lebih ke arah membaca lingkungan sekitar, membaca perasaan orang dan lain-lain. Membaca dalam konteks yang lebih luas bisa dimaknai melatih kepekaan.

Apalagi kepekaan bukan saja tentang kemampuan pancaindra pada dunia sekitar, seperti warna, rasa, suara, dan lain-lain. Tapi lebih ke arah melibatkan hati atau batin dalam menyikapi sesuatu lingkungan sekitar. Membaca di sini bisa diartikan melatih kepekaan dalam diri.

Membaca untuk seorang penulis bisa juga diartikan membaca lingkungan sekitar, membaca apa-apa yang sedang terjadi lalu menuliskan ke dalam rangkaian kata. Memang tidak mudah, karena kita dituntut untuk memahami apa yang terjadi, apa yang dibutuhkan, imajinasi juga harus bermain agar bisa menyambungkan dengan realita.

Leave a Comment

Related Post