Tafsir Surat Asy-Syura Ayat 20: Konsekuensi Mengejar Harta Benda Dunia Daripada Akhirat

Ahmad Khalwani, M.Hum

10/08/2024

3
Min Read
mengejar harta benda dunia

On This Post

Harakatuna.com – Dalam kehidupan di dunia ini, pasti ada dua pilihan yaitu hitam dan putih, akan tetapi terkadang ada orang yang ingin mengaburkannya menjadi abu-abu. Dalam beragama, kita harus mempunyai tujuan hidup untuk mengejar pahala akhirat. Namun demikian karena pengalaman kehidupan di dunia, banyak orang yang terlena dari tujuan hidupnya dan malah mengejar kemewahan dunia. Dan berikut konsekuensi mengejar harta benda daripada akhirat.

Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang yang mengejar harta benda dunia maka ia akan diberikan sebagian apa yang dikejar. Sedangkan apabila ia mengejar akhirat maka ia akan diberikan penuh bahkan lebih-lebih.

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْاٰخِرَةِ نَزِدْ لَهٗ فِيْ حَرْثِهٖۚ وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۙ وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ 

Artinya: Siapa yang menghendaki panenan [balasan] baik di akhirat, akan Kami tambahkan panenan [balasan] itu baginya. Siapa yang menghendaki balasan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (balasan dunia). Tetapi dia tidak akan mendapat bagian sedikit pun di akhirat. (QS Asy-Syura: 20)

Abu Laits Al Samarqandi, dalam kitab Tafsir Bahrul Ulum, jilid III, halaman 241 terkait ayat ini menjelaskan bahwa orang yang beramal dan bekerja dengan tujuan memperoleh pahala akhirat, maka kelak akan mendapatkan pahala yang jauh lebih besar dari yang semestinya. Bahkan yang terpenting, karena ia bertujuan mendapatkan pahala akhirat, maka Allah akan memberikan kebaikan di dunia. Hal ini karena Allah ini menghargai niat tulus orang yang beribadah dan hanya mencari ridha Allah saja.

Sebaliknya, orang yang bekerja dan beramal hanya untuk harta benda dunia, maka seperti keterangan ayat di atas ia hanya mendapatkan sebagian dari yang diinginkan. Mereka juga tidak akan merasakan manisnya pahala di akhirat. Hal ini disebabkan karena ia menyimpang dari tujuan yang seharusnya yaitu beribadah kepada Allah.  

Sejatinya, ayat ini memberikan pemahaman yang jelas tentang pentingnya niat dalam beramal. Niat yang tulus untuk mencari ridha Allah akan membawa seseorang pada keberkahan baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, niat yang semata-mata untuk mengejar harta benda dunia saja maka akan membatasi seseorang dari mendapatkan pahala yang lebih besar.   

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad:

   مَنْ كانَتْ نِيَّتُهُ الآخِرَةَ جَمَعَ الله شَمْلَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُّنْيَا، فَرَّقَ الله عَلَيْهِ أمْرَهُ، وَجَعلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كَتَبَ الله لَهُ   

Artinya; “Siapa pun yang niatnya adalah akhirat, maka Allah akan mengumpulkan (kebaikan) untuknya, menjadikan kekayaan dalam hatinya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan barangsiapa yang niatnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di hadapan matanya, dan ia tidak akan mendapatkan dari dunia ini kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuknya.” (HR. Ibnu Majah)

Walhasil sesuai ayat di atas, tujuan dan niat kita dalam beribadah dan bekerja harus jelas dan putih. Yaitu beribadah untuk pahala akhirat, beribadah karena Allah. Jangan mempunyai tujuan hidup yang abu-abu yaitu ingin pahala dunia-akhirat atau tujuan yang hitam ingin mengejar harta benda saja. Orang-orang yang mempunyai tujuan hidup abu-abu dan hitam, maka akan mendapatkan sebagian saja dari yang dituju. Dan orang yang mempunyai tujuan putih akan mendapatkan pahala luar biasa di akhirat bahkan di dunia. Wallahu A’lam Bishowab.

Leave a Comment

Related Post