Harakatuna.com – Manusia merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan segala rahmat yang diberikan, mulai dari rezeki jasmani hingga rohaninya, dan Allah juga menjamin kehidupan manusia di dunia. Manusia diberikan karunia baik dari segi fisik maupun batin, dibanding makhluk Tuhan lainnya. Salah satu kelebihan yang diberikan oleh Allah Swt kepada hamba-Nya adalah kenikmatan.
Nikmat adalah salah satu anugerah Allah Swt yang tak terbatas, diberikan kepada semua makhluk-Nya. Setiap waktu baik detik, menit, jam, atau hari yang berlalu, manusia senantiasa merasakan nikmat dari-Nya, dan selalu ada nikmat baru yang menggantikan nikmat sebelumnya. Seperti halnya nafas yang selalu kita hirup tanpa harus memikirkannya berapa banyak kita menghirupnya, itu salah satu bentuk nikmat yang begitu mahal jika dihitung dengan angka.
Nikmat sendiri secara istilah diartikan dengan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia baik diminta atau tidak diminta sudah Allah sediakan baginya. Segala sesuatu itu Allah sediakan bagi manusia agar mereka dapat memanfaatkan dan menggunakannya kapan pun yang mereka inginkan dan kehendaki. Sehingga dapat dipahami bahwa nikmat adalah sebuah kemanfaatan yang diberikan oleh manusia melalui proses atau jalan yang baik (Hasan, 2013).
Dalam kehidupan ini, setiap manusia mengalami berbagai fase, baik itu kesenangan maupun kesulitan. Sering kali, kita memandang kenikmatan sebagai bentuk anugerah yang hanya membawa kebahagiaan dan kelapangan. Namun, di sisi lain ada yang mengatakan nikmat juga merupakan ujian. Bahkan, ujian dalam bentuk kenikmatan mungkin lebih sulit disadari daripada ujian dalam bentuk musibah.
Dalam ajaran Islam, nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. bukan hanya sekadar hadiah, tetapi juga merupakan cobaan bagi manusia. Ketika kita diberikan harta, kesehatan, ilmu, atau sesuatu yang berharga, pasti di balik semua itu ada pertanyaan yang harus kita jawab: Bagaimana kita memanfaatkan nikmat tersebut? Apakah kita menjadi lebih bersyukur, atau justru semakin lalai?
Selain itu, Allah juga mangatakan dalam al-Qur’an surah az-Zumar: 49 yang artinya “Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui,” (RI, 2016).
Kitab tafsir Ibnu Katsir terkait ayat di atas menjelaskan bahwa Allah Swt. berfirman seraya memberitahukan tentang manusia, bahwa dalam keadaan susah manusia itu merendahkan diri, kembali dan memohon kepada Allah. Tetapi apabila dia mendapat nikmat dari-Nya, maka dia lupa kepada Allah, melampaui batas, lalu dia berkata: (Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku) yaitu karena Allah mengetahui bahwa diriku layak untuk menerimanya, seandainya aku tidak mempunyai kedudukan di sisi Allah, maka Dia tidak akan memberiku nikmat ini (Katsir, 1999).
Sejalan dengan itu, nikmat yang diberikan Allah kepada kita adalah alat yang digunakan untuk menguji sejauh mana kita mampu menjaga amanah yang diberikan. Sebagian orang mampu bersabar dalam menghadapi kesulitan, tetapi tidak sedikit yang jatuh dalam kesombongan dan lupa diri ketika diberi kelapangan. Kenikmatan materi bisa membuat seseorang lupa daratan, merasa segala pencapaian berasal dari usaha diri sendiri tanpa mengingat bahwa semua itu sejatinya datang dari Tuhan.
Nikmat juga menguji seberapa besar rasa syukur kita. Syukur tidak hanya sebatas mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, tetapi juga menggunakannya dengan baik, dengan menjalankan segala yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Dalam hal ini, orang yang berhasil lulus dari ujian kenikmatan adalah mereka yang mampu menjadikan nikmat tersebut sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt (Valiza, 2023).
Di sisi lain, kenikmatan juga bisa menjadi pengingat bagi manusia untuk tetap rendah hati. Semakin banyak kenikmatan yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dilakukan. Hal ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara, dan nikmat bisa hilang kapan saja. Dengan demikian, kenikmatan tidak boleh membuat kita terlena sampai lupa diri atau jauh dari Sang Pencipta.
Maka, sebagai makhluk Tuhan yang baik kita senantiasa menjaga segala pemberian dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepada kita. Karena tak selamanya nikmat itu sesuatu yang menyenangkan, akan tetapi ada sesuatu yang terbesit di dalamnya. Semakin kita menyadari bahwa nikmat adalah amanah dan ujian, semakin kita bisa menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, rendah hati, dan dekat dengan Tuhan.
Nikmat NKRI-Kebhinekaan dan Cobaan Persatuan-Kesatuan
Indonesia, dengan segala keragamannya, adalah anugerah besar dari Allah Swt. yang patut kita syukuri. NKRI berdiri di atas fondasi kebhinekaan, yang mencakup keberagaman suku, agama, ras, dan golongan. Kebhinekaan merupakan wujud nyata dari salah satu bentuk nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah kepada bangsa Indonesia. Sebagai negara yang multikultural, Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk membangun masyarakat yang harmonis di tengah-tengah perbedaan. Namun, nikmat kebhinekaan ini juga bisa menjadi cobaan yang berat dalam menjaga persatuan dan kesatuan.
Mensyukuri kebhinekaan bukan hanya tentang merayakan perbedaan, tetapi juga memahami bahwa keberagaman ini adalah amanah yang harus dijaga. Dalam konteks Islam, syukur atas nikmat kebhinekaan bisa diwujudkan melalui tindakan yang konkret, seperti menjaga toleransi, menghormati perbedaan, dan memperkuat persatuan. Sebagaimana nikmat lainnya, kebhinekaan juga memiliki ujian tersendiri. Allah menguji sejauh mana bangsa ini mampu menjaga keutuhan dan kerukunan di tengah perbedaan. Ketika persatuan terancam oleh kepentingan kelompok atau ideologi yang ingin memecah-belah bangsa, itu adalah cobaan yang harus dihadapi dengan bijaksana.
Indonesia kerap mengalami tantangan yang menguji persatuan, seperti konflik SARA, radikalisme, serta polarisasi politik. Dalam perspektif Islam, cobaan seperti ini adalah ujian bagi kita untuk tetap berpegang pada rasa syukur atas nikmat persatuan. Ketika menghadapi konflik atau perpecahan, kita diajarkan untuk kembali mengingat bahwa kebersamaan dan keutuhan negara adalah karunia yang sangat berharga, yang tidak bisa dianggap remeh.
Syukur atas nikmat NKRI dan kebhinekaan harus diwujudkan melalui upaya untuk terus menjaga persatuan. Al-Qur’an mengingatkan kita agar tidak terlena dengan nikmat, melainkan menggunakannya untuk hal-hal yang baik. Dalam hal ini, bangsa Indonesia dihadapkan pada kewajiban untuk menjaga keberagaman sebagai modal kekuatan, bukan sebagai pemicu perpecahan. Jika tidak dijaga dengan baik, nikmat ini bisa berubah menjadi sumber konflik yang justru merugikan bangsa.
Melalui kebhinekaan, Allah Swt. memberikan peluang bagi bangsa Indonesia untuk membuktikan bahwa keberagaman bukanlah penghalang bagi persatuan. Dengan rasa syukur yang tulus, kita akan mampu menghadapi setiap cobaan yang datang dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk terus membangun NKRI yang lebih baik. Jadi, mensyukuri kebhinekaan dan persatuan Indonesia adalah tanggung jawab yang tak hanya bersifat spiritual, tetapi juga sosial.








Leave a Comment