Swa-Radikalisasi dan Proyek Dekonstruksi NKRI, Waspada!

Ahmad Khairi

08/08/2024

4
Min Read
swa-radikalisasi

On This Post

Harakatuna.com – Kalau kita ditanya: apa sesuatu yang paling meresahkan di bulan kemerdekaan ini? Barangkali, sebagian kalangan akan menjawab: ambruknya perekonomian dan krisis kesejahteraan masyarakat. Tentu, jawaban ini tidak keliru. Hari-hari ini banyak beredar berita meresahkan, seperti penggelontoran miliaran dana untuk sewa mobil di IKN. Banyak masyarakat menilai, para oligarki berpesta di atas kesengsaraan rakyat.

Namun tulisan ini tidak akan membahas tentang itu. Ada hal lain yang tak kalah genting untuk dikhawatirkan di era ini, yaitu swa-radikalisasi. Bagaimana tidak, terjadi penangkapan dua terduga teroris dalam dua hari berturut-turut. Itu menyiratkan situasi mengkhawatirkan bahwa Gen Z tengah menjadi target utama swa-radikalisasi (self-radicalization), sebagai bagian dari proyek merombak atau mendekonstruksi NKRI oleh para kaum radikal.

Ini konteksnya adalah HTI, karena militansinya sangat kuat. Dua kanal YouTube: Khilafah Channel dan Fokus Khilafah Channel, misalnya, menjadi akun propaganda radikal. Ironisnya, dakwah daring yang mereka gelar, yang jelas-jelas menjurus pada radikalisasi digital, tidak mengalami penertiban dari pemerintah. Tidak ada tindakan apa pun. Sepertinya pemerintah sedang sibuk menangani berbagai persoalan, terutama terkait IKN.

Padahal, delegitimasi pemerintah dan konstitusi NKRI terus berlangsung. Pada akhirnya, menghadapi kaum radikal menggiring kita pada pilihan rumit: memberantas mereka secara total dengan melarang dakwah digitalnya yang menjurus makar, atau kita terhanyut arus dan menjadi korban mereka. Tentu, kondisi semacam itu buruk sekali. Indoktrinasi yang masif akan menjerumuskan masyarakat pada swa-radikalisasi.

Persoalan ini cukup serius dan mesti segera mendapat perhatian. Untuk tujuan tersebut, deradikalisasi diri (self-deradicalization) dapat menjadi tawaran utama. Masifnya kajian positif tentang agama dan negara, atau testimoni radikalis-teroris yang insaf, mungkin akan menjadi jalan keluar bersama. Sebab, dekonstruksi NKRI tidak boleh dibiarkan, apalagi melalui radikalisasi mandiri yang memang tidak ada akhirnya.

Swa-Radikalisasi vs Swa-Deradikalisasi

Kapan kaum radikal berhenti jualan ideologinya dan menghasut rakyat dengan pemerintah dalam rangka mengganti sistem negara? Jawabannya adalah: ketika Daulah Islamiah benar-benar tegak di negeri ini. Para cendekiawan tanah air sudah banyak mengulas dalam literatur-literatur mereka tentang utopia menegakkan negara Islam. Sayangnya, gejala radikalisasi tetap merajalela bahkan ketika kelompok-kelompok radikal dibubarkan.

Menunggu radikalisasi berhenti sama nihilnya dengan mimpi menegakkan negara Islam itu sendiri. Tidak akan pernah terwujud. Ia tidak memiliki titik usai dan merupakan proyek tanpa akhir tentang dekonstruksi NKRI. Para aktivis daulah/khilafah bahkan tidak ragu menyeret agama ke wilayah profan, mengeksploitasinya karena kepentingan ideologis yang dipaksakan. Bagi mereka, yang penting NKRI harus dirombak.

Radikalisasi digital, misalnya, secara efektivitas tidak perlu dipertanyakan. Sesuatu yang diulang terus-menerus maka akan memengaruhi pola pikir seseorang. Paling tidak mindset keberagamaannya berubah secara otomatis, dari yang tidak radikal menjadi radikal, tanpa menyadari bahwa ia sudah radikal sehingga tidak mau dicap radikal. Itulah yang disebut swa-radikalisasi dan menjadi tantangan terkini.

Narasi radikal mendominasi publik yang berakibat pada keterpengaruhan masyarakat secara signifikan. Konsep moderasi sendiri semakin sulit diterapkan. Self-radicalization menjelma sebagai momok baru persoalan yang meniscayakan spirit persatuan dan kesatuan dalam kontra-radikalisasi. Karena itu, sebagai tandingan swa-radikalisasi, swa-deradikalisasi merupakan strategi baru yang mesti dilakukan untuk menyelamatkan NKRI.

Apakah swa-radikalisasi diri adalah ujung tombak dakwah radikalisasi? Jelas tidak. Klimaks radikalisme adalah terorisme. Namun swa-radikalisasi menjadi sangat meresahkan karena masyarakat bahkan tidak perlu mentor untuk menjadi teroris. Rutinitas mereka menyimak kanal YouTube, sebagai contoh, dapat mengantarkan mereka ke dalam jurang radikalisme-terorisme, anti-Pancasila, dan spirit mengancurkan NKRI. Ironi.

Swa-Deradikalisasi: Mungkinkah?

Hari ini, sekali lagi, radikalisme tak lagi memerlukan jaringan atau mentor tertentu. Proses radikalisasi dapat terjadi secara mandiri melalui berbagai platform internet. Spirit utamanya sama: mendekonstruksi NKRI. Seseorang yang semula hanya berselancar untuk memahami Islam lebih dalam, bisa menemukan konten yang justru mendorong pandangan radikal mereka. Mereka pun kerap tidak sadar telah terjerumus radikalisme.

Proses swa-radikalisasi tersebut jadi ironi menyedihkan. Internet yang semestinya menjadi sarana penguatan wawasan keislaman-kebangsaan, malah jadi medium diseminasi ideologi radikal-teror. Namun, di tengah kegelapan tersebut ada harapan besar. Jika radikalisasi bisa terjadi secara mandiri, mungkinkah deradikalisasi juga bisa dilakukan secara mandiri? Swa-deradikalisasi mungkin terdengar seperti mimpi, tetapi bukan berarti tidak mungkin.

Ada beberapa strategi untuk mewujudkan swa-deradikalisasi di NKRI. Pertama, pembenahan struktur pemerintahan, sikap pemerintah, dan pendidikan karakter pejabat untuk memberantas korupsi. Yang terakhir ini karena beberapa orang terjerumus kelompok radikal dan bercita-cita merombak NKRI lantaran putus asa dengan pemerintah dan mental pejabatnya yang suka korupsi dan hanya mementingkan perut sendiri.

Bersamaan dengan itu, platform digital harus diisi dengan konten yang mempromosikan perdamaian, toleransi, dan hubulwatan. Kontennya harus menarik dan mudah diakses, sehingga dapat menarik minat seseorang yang rentan terhadap swa-radikalisasi. Masyarakat harus dibuat kenal atau terdidik dalam membaca potensi radikalisasi dan inisiatif untuk menghindarinya. Mereka harus resisten dan berpendirian kuat dalam kontra-radikalisasi.

Intinya, radikalisasi diri adalah ancaman nyata yang berusaha mendekonstruksi NKRI dan harus dilawan. Dalam upaya tersebut, swa-deradikalisasi mesti dioptimalisasi sebagai piranti utama melawan swa-radikalisasi. Swa-deradikalisasi mesti membuat masyarakat selamat dari radikal-terorisme dan menemukan jalan menuju persatuan dan kesatuan. Swa-deradikalisasi memang ambisius, tetapi kemungkinannya juga besar jika upayanya maksimal.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post