Harakatuna.com – Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober menjadi momentum bersejarah yang perlu direfleksikan oleh anak muda. Pada upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Jawa Timur, misalnya. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memberikan anugerah pemuda pelopor kepada anak muda Jawa Timur. Mereka anak muda yang sudah melakukan gerakan di daerahnya di berbagai bidang, mulai dari agama, pendidikan, hingga sosial budaya. Di berbagai platform media sosial, kita bisa membaca berbagai kontekstualisasi sejarah Hari Sumpah Pemuda, berikut berbagai peran pemuda yang bisa kita lakukan hari ini untuk bangsa Indonesia.
Namun, salah satu fenomena yang beberapa waktu belakangan ini cukup membuat geram adalah sebuah video pendek berisi pembakaran buku yang ditulis oleh Najwa Shihab, cukup ramai. Komentar para pengguna TikTok membuat kita tidak habis pikir. Berbagai serangan, kecaman, ancaman, hingga caci-maki dilontarkan oleh para pengguna TikTok kepada sosok jurnalis yang terkenal tersebut.
Fenomena penyerangan terhadap jurnalis ini, berbanding terbalik dengan pengguna X yang mengutuk keras berbagai akun TikTok. Jika kita melihat anak muda di akun TikTok, pesimisme terhadap masa depan Indonesia sangat tinggi. Namun, optimisme terus tumbuh ketika melihat masih banyak anak muda yang aware untuk melakukan gerakan sosial dan di platform lain, masih banyak sekali anak muda yang kritis. Bagaimana menyikapi hal ini?
Buzzer dan Potret Pemecah-Belah Bangsa
Salah satu hal yang dimiliki oleh media sosial adalah, kita tidak pernah tahu bahwa akun yang digunakan oleh seseorang dengan sebuah nama, akun real atau fake account. Di sinilah istilah buzzer semakin populer semenjak banyaknya akun media sosial yang terus memprovokasi untuk menggiring suatu isu/opini tertentu agar pengguna media sosial berbondong-bondong untuk membahas topik tersebut.
Jika dalam aplikasi TikTok, sebetulnya sangat berbanding terbalik dengan Twitter ataupun Instagram, yang penggunanya lebih bisa melihat fakta dengan bijak. Penggiringan opini yang buruk (tidak sesuai fakta) oleh kelompok tertentu pada platform Twitter, justru tidak akan berdampak besar dibandingkan dengan TikTok. Hal ini juga menunjukkan bahwa ciri-ciri pengguna TikTok adalah kelompok masyarakat yang memiliki literasi rendah dibandingkan dengan penggguna Twitter.
Argumen di atas berdasarkan riset yang dilakukan Reuters Institute pada tahun 2023, dengan melibatkan 93 ribu responden dari 46 negara, termasuk Indonesia. Hasil riset menyebutkan bahwa, netizen yang aktif menggunakan X memiliki reputasi sebagai kelompok yang pandai dibandingkan dengan pengguna lainnya, khususnya TikTok. Sebanyak 49% dari pengguna X memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Faktor inilah yang membuat pengguna X dianggap lebih cerdas dibandingkan dengan pengguna media sosial lainnya.
Jika melihat Pemilu tahun 2024 yang sudah berlangsung pada Februari lalu, popularitas pasangan Prabowo-Gibran sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden sangat besar pada aplikasi TikTok. Melalui musik singkat dan tagline “gemoy”, mereka mampu memperbanyak massa, sehingga tidak bisa dipungkiri, faktor inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa rakyat banyak memilih pasangan tersebut.
Jumlah pengguna TikTok di Indonesia, menurut laporan firma riset Statista, tercatat sebanyak 113 juta per April 2023. Dengan banyaknya jumlah tersebut, Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan pengguna TikTok terbesar di dunia. Dari sinilah kita memahami bahwa, aplikasi TikTok adalah platform yang sangat ciamik bagi para buzzer untuk menghantam generasi bangsa, memecah-belah ataupun melakukan pembungkaman terhadap suatu kelompok, baik masyarakat sipil, pers ataupun kelompok lainnya.
Anak Muda Wajib Kritis!
Melihat fenomena yang terjadi beberapa waktu belakangan ini, kita tetap harus memiliki optimisme yang tinggi bahwa Indonesia akan menjadi Indonesia Emas tahun 2045, bukan Indonesia cemas. Oleh karena itu, sikap kritis yang masih dimiliki oleh sebagian kelompok atau anak muda, wajib terus disebarkan melalui berbagai media sosial, sebagai konter agar masa depan Indonesia tidak suram. Masih banyak generasi Indonesia yang melakukan berbagai gerakan sosial untuk berdampak kepada masyarakat. Kelompok ini harus terus bersuara di media sosial agar bisa melawan buzzer dan anak muda yang tidak memiliki pikiran kritis.
Memperbanyak membaca, baik membaca buku, isu sosial ataupun masalah sosial yang terjadi di Indonesia, sangat penting bagi anak muda agar tidak menjadi kelompok yang mudah diadu domba. Pikiran kritis akan membantu seseorang untuk melihat kondisi sosial dengan sikap bijak melalui analisis yang matang dan tidak terprovokasi oleh kelompok tertentu. Jadilah generasi cerdas dan kritis, sebab masa depan Indonesia ada di tangan anak muda. Buzzer hanyalah kelompok yang dibayar untuk saling mengadu domba dan memecah-belah bangsa. Wallahu A’lam.








Leave a Comment