Suara Hati Emma’ (Bagian XXXII)

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.

29/03/2020

3
Min Read
Mengintip Senja Berdua - Khalilullah
Mengintip Senja Berdua - Khalilullah

On This Post

Sebelum sore menjelang, Fairuz pamit dari pesantren untuk pulang kampung. Tidak ingin mengintip senja yang berkejaran di bilik-bilik pesantren seperti yang ditunggu hampir setiap hari selama tiga tahun. Biarkan senja menceritakan kisah luka dengan sendirinya.

Begitu sampai di halaman rumah, Emma’ menakar jagung yang sedang dijemur. Fairuz dari kejauhan berlari sambil memanggil, “Emmaaa’”. Emma’ kaget melihat Fairuz pulang dengan menggendong ransel. Emma’ berdiri dan menyambut kedatangan anaknya. Fairuz memeluk Emma’ erat yang terasa hangat badannya karena disentuh terik matahari.

“Na’ Fairuz pulang,” ucapnya datar seakan tak mendengar perasaan anaknya yang sedang kabut.

“Emma’ tidak sedih, kan?” pertanyaan Fairuz membuat Emma’ bingung.

Melihat muka Fairuz kusut, Emma’ mengajak duduk di beranda rumah sembari berteduh. Emma’ melihat anaknya tidak seperti sebelumnya. Biasanya setiap ketemu selalu sumringah. Tapi, sekarang dia seakan berbeda.

“Na’ Fairuz kenapa?” tanyanya lembut. Kipas yang terbuat dari rakitan bambu diambil dan dikibas-kibaskan.

Fairuz menceritakan isi surat Diva yang dibacanya tadi pagi di warnet. Emma’ tiba-tiba diam. Tak berbicara. Tapi, mukanya tetap tidak berubah. Eppa’ belum tahu kedatangan anaknya, karena sedang keluar, entah ke mana mulai pagi.

“Sabar, Na’. Jodoh tidak akan ke mana.” Emma’ membesarkan hati Fairuz, sekalipun dengan rasa hati yang hancur. Karena, baru tahu setelah mendengar cerita anaknya, seorang menantu yang diharap-harapkan adalah putri Kyai besar.

Emma’ tetap tidak patah semangat setelah mendengar penolakan ini. Karena, budaya Madura sangat kuat menyangkut soal pernikahan, apalagi di tengah keluarga Kyai. Hampir seluruh Kyai Madura menjodohkan putranya dengan sesama putra Kyai pula, karena peribahasa “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” masih sangat kuat dipertahankan. Apalagi, kepercayaan keluarga Kyai terhadap hadis yang menyarankan dalam memilih jodoh hendaknya diperhatikan agama, nasab/keturunan, kekayaan, dan kecantikan/ketampanan.

“Fairuz telah membuat Emma’ dan Eppa’ sedih,” keluh Fairuz di depan Emma’ dengan mata berair.

“Emma’ tidak kecewa,” ucapnya pelan, “Na’ Fairuz sudah banyak membahagiakan Emma’. Emma’ bersyukur diberi karunia anak seperti Na’ Fairuz. Penurut. Patuh sama orangtua.”

Kata-kata Emma’ membuat Fairuz terobati. Emma’ memang tipikal perempuan yang tidak suka menuntut dan selalu menerima. Saat dahulu Eppa’ marah-marah karena Fairuz kesiangan dan tidak shalat Subuh, Emma’ hanya diam dan tidak ada perasaan dendam.

“Jodoh itu cerminan diri. Allah menginginkan Na’ Fairuz memperbaiki diri dulu, sehingga pada waktunya Allah akan kasih tanpa Na’ Fairuz minta.” Pesan Emma’ semakin terdengar bijak tak ubahnya motivator Merry Riana. Begitulah orangtua, termasuk ibu, tidak ingin anaknya sedih, malah ingin anaknya bahagia. Maka, di balik senyum orangtua kadang tergores luka yang perih. Demimu, Na’, batin Emma’.

Emma’ bahagia melihat anaknya mulai tersenyum dan mencium kening Emma’. Diusaplah ubun-ubun anaknya sambil berpesan, “Biarlah Emma’ yang tahu tentang masalah Na’ Fairuz dan Diva. Takut nanti Eppa’ naik emosi begitu mendengar cerita anaknya. Doa Emma’ tiada bertepi buat kebahagian Na’ Fairuz.”

Biasanya apabila emosi, Eppa’ langsung ketemu orang yang dimaksud dan menuntut carok. Karena, lebih baik, bagi Eppa’, mati daripada menanggung malu. Eppa’ tipikalnya keras, tapi teguh pendirian.

Emma’ memang gagal sekolah, tapi dalam menyikapi hidup, Emma’ tak ubahnya lulusan sarjana. Dia mampu menyulam sedih menjadi bahagia. Mengubah tangis menjadi senyum.

* Tulisan ini diambil dari buku novel “Mengintip Senja Berdua” yang ditulis oleh Khalilullah

Leave a Comment

Related Post