Harakatuna.com. Washington – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menuduh Iran mendukung sejumlah kelompok teroris, termasuk Taliban dan al Qaeda, dengan memperkuat penunjukan Iran sebagai negara sponsor terorisme terkemuka di dunia. Tuduhan ini disampaikan dalam sebuah pernyataan oleh Juru Bicara Departemen Luar Negeri Timmy Bruce pada Senin (31/3/2025).
Dalam konferensi pers tersebut, Bruce menyebut Taliban sebagai kelompok teroris dan mengkritik Iran atas dukungannya terhadap kelompok tersebut serta kelompok bersenjata lainnya, seperti Hizbullah, Hamas, Houthi, dan al Qaeda. “Korps Garda Revolusi Islam Iran sendiri telah ditetapkan sebagai organisasi teroris asing, dan banyak pemimpin rezim Iran juga telah ditetapkan sebagai teroris,” ungkap Bruce.
Bruce lebih lanjut menyatakan, “Rezim Iran selalu memusuhi Amerika Serikat serta sekutu dan mitra kami. Rezim ini mendukung jaringan teroris di seluruh kawasan, yang menjadi ancaman bagi stabilitas internasional.”
Pernyataan ini muncul sebagai bagian dari upaya berkelanjutan Amerika Serikat untuk mengecam dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok yang terlibat dalam terorisme dan destabilisasi di kawasan Timur Tengah. Iran sendiri telah lama dikelompokkan oleh AS sebagai negara sponsor terorisme, dengan fokus pada dukungan terhadap berbagai organisasi yang terlibat dalam kekerasan ekstrem.
Selain itu, Bruce menegaskan kembali posisi Presiden Donald Trump terhadap ambisi nuklir Iran, yang sebelumnya sudah ditegaskan dalam berbagai kesempatan. “Presiden Trump telah menegaskan bahwa Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir. Seperti yang dikatakan Menteri Rubio, kami mengharapkan bahwa di bawah kepemimpinan Donald Trump, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir,” ujar Bruce. Ia juga mengimbau Iran untuk menghentikan eskalasi nuklir, pengembangan rudal balistik, serta kampanye militer regional yang mengancam stabilitas kawasan, selain menghentikan penindasan terhadap rakyatnya.
Komentar Bruce ini datang di tengah ketidakjelasan yang terus berlanjut mengenai kebijakan pemerintahan Trump terhadap Afghanistan dan Taliban. Meski menyebut Taliban sebagai kelompok teroris, baru-baru ini delegasi AS mengunjungi Kabul dan mengadakan pertemuan dengan pejabat Taliban. Hal ini memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan keterlibatan diplomatik AS dengan Taliban.
Para analis menganggap kunjungan ini sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk menormalisasi hubungan dengan Taliban, meskipun pemerintah AS belum memberikan penjelasan resmi mengenai strategi jangka panjangnya terhadap kelompok tersebut. Bulan lalu, JD Vance, Wakil Presiden di bawah pemerintahan Trump, mengkritik Taliban dengan menyebut mereka sebagai “kelompok teroris paling berbahaya di dunia” dalam pidatonya kepada pasukan AS di Greenland. Vance juga mengecam pengambilalihan peralatan militer Amerika oleh Taliban setelah penarikan pasukan AS dari Afghanistan pada tahun 2021.
Meskipun ada sejumlah pernyataan tegas dari pejabat AS, Washington masih belum secara resmi mengumumkan kebijakan komprehensif terhadap Taliban. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang keterlibatan AS di masa depan, serta bagaimana pemerintahan Trump akan mengelola hubungan dengan kelompok yang dianggap sebagai ancaman terorisme global ini.








Leave a Comment