Harakatuna.com – Siska Nur Azizah, nama yang pernah tercatat dalam catatan sejarah sebagai salah satu mantan narapidana terorisme, kini menjadi simbol perjalanan panjang dari kekeliruan menuju pemahaman yang lebih damai dan moderat. Nama Siska mencuat setelah keterlibatannya dalam penyerangan Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) di Depok pada tahun 2018. Kejadian tersebut menjadi titik hitam dalam perjalanan hidupnya, namun juga menjadi titik balik yang membuka ruang bagi perubahan besar dalam dirinya. Seiring berjalannya waktu dan proses deradikalisasi yang dijalani, Siska memilih untuk menempuh jalan yang berbeda, jauh dari radikalisasi yang dulu ia anut.
Latar belakang Siska Nur Azizah sebagai seorang eks napiter mencerminkan perjalanan hidup yang penuh dengan kebingungannya di masa lalu. Sebelum terlibat dalam tindakan radikal, Siska seperti banyak individu lainnya, menjalani kehidupan biasa. Namun, dunia yang mengelilinginya mengubah arah pandangannya, membawanya ke dalam lingkaran ekstremisme yang tidak hanya merusak dirinya, tetapi juga berdampak pada orang-orang di sekitarnya. Tindakan yang ia lakukan pada tahun 2018, penyerangan Mako Brimob, merupakan cerminan dari pemahaman agama dan politik yang keliru, sebuah pemahaman yang menyesatkan dan memanfaatkan agama sebagai kedok untuk meraih tujuan tertentu.
Setelah menjalani proses hukum, Siska mulai memasuki fase yang lebih reflektif dalam hidupnya. Di penjara, Siska berkesempatan mengikuti program-program deradikalisasi yang diprakarsai oleh pihak-pihak yang peduli terhadap upaya rehabilitasi mantan napiter. Proses ini membuka matanya terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan, serta pemahaman yang lebih luas tentang nilai-nilai kedamaian dan kehidupan bersama dalam masyarakat. Berbagai sesi konseling, bimbingan agama, dan pendidikan sosial mulai memberikan pemahaman baru tentang Islam yang lebih moderat dan sesuai dengan ajaran yang sebenarnya.
Setelah menjalani masa hukuman dan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam, Siska merasa terpanggil untuk menyampaikan niatnya untuk kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada Juli 2024, Siska secara resmi menyatakan ikrar setianya kepada NKRI di Polres Ciamis, Jawa Barat. Ini adalah langkah yang sangat penting dalam proses rehabilitasinya, bukan hanya sebagai simbol, tetapi juga sebagai bukti bahwa ia benar-benar ingin memperbaiki dirinya dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Pada saat pernyataan ikrar tersebut, Siska dengan tulus menyatakan penyesalannya atas perbuatan masa lalunya. Ia mengungkapkan rasa malu dan kecewa terhadap dirinya sendiri, yang telah terjebak dalam pemikiran yang sempit dan merugikan banyak pihak. Penyesalan yang ia sampaikan bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi berasal dari hati yang benar-benar merasa bahwa masa lalunya tidak mencerminkan siapa dirinya yang sebenarnya. Ia menyadari bahwa tindakan yang ia lakukan telah merugikan banyak orang, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Selain penyesalannya, Siska juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pihak-pihak yang telah membantunya dalam proses pemulihan dan pemahaman kembali akan ajaran Islam yang sejati. Selama proses deradikalisasi, ia mendapatkan bimbingan yang tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga membuka mata Siska terhadap pentingnya kehidupan sosial yang damai. Melalui bimbingan ini, Siska akhirnya menemukan kedamaian dalam dirinya dan mulai menyadari bahwa tindakan kekerasan tidak pernah menjadi jalan yang benar.
Siska juga menekankan pentingnya dialog dan pendidikan dalam mencegah radikalisasi. Ia berharap agar pengalamannya bisa menjadi pembelajaran bagi mereka yang masih terjebak dalam pemikiran ekstrem. Pesannya jelas: pendidikan dan pemahaman yang benar adalah kunci untuk membebaskan diri dari pengaruh radikalisme. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak teman-temannya yang pernah sejalan dengannya untuk berpikir lebih rasional, membuka diri terhadap perspektif yang lebih luas, dan mencari solusi damai dalam menyelesaikan masalah.
Proses transformasi diri Siska juga menunjukkan pentingnya peran keluarga, masyarakat, dan negara dalam memberikan kesempatan bagi mantan napiter untuk berintegrasi kembali ke dalam masyarakat. Tanpa adanya dukungan yang kuat dari semua pihak, proses deradikalisasi akan menjadi lebih sulit. Siska menyadari betul bahwa untuk benar-benar bisa sembuh dan menjalani kehidupan yang baru, ia memerlukan lingkungan yang mendukung dan memberikan kesempatan bagi dirinya untuk membuktikan perubahan tersebut.
Siska kini berharap dapat menjadi contoh bagi generasi muda, terutama mereka yang mungkin terjebak dalam pemikiran radikal. Ia ingin membuktikan bahwa perubahan itu mungkin, bahwa seseorang bisa keluar dari kegelapan dan kembali menemukan cahaya. Dengan ikrar setia kepada NKRI, ia berkomitmen untuk menjalani hidup yang lebih damai, mencintai tanah air, dan berkontribusi positif untuk masyarakat sekitar.
Tidak hanya itu, Siska juga berharap agar masyarakat tidak melihat dirinya hanya dari masa lalu yang kelam, tetapi memberikan kesempatan untuk melihat perubahan yang telah terjadi. Ia menginginkan agar stigma terhadap mantan napiter bisa hilang seiring dengan perjalanan waktu, dan bahwa setiap individu yang berusaha berubah harus diberi ruang untuk membuktikan niat baik mereka.
Perjalanan hidup Siska Nur Azizah membuktikan bahwa manusia memiliki kapasitas untuk berubah. Dari seseorang yang pernah terjerumus ke dalam radikalisasi, ia kini berdiri sebagai pribadi yang ingin menyebarkan pesan damai dan moderat. Siska tidak hanya sekadar mengucapkan kata-kata, tetapi juga berusaha membuktikan bahwa ia bisa berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang lebih damai dan sejahtera.
Bagi Siska, ikrar setia kepada NKRI bukanlah akhir dari perjalanannya, tetapi awal dari babak baru yang penuh tantangan. Ia menyadari bahwa perjalanan ini tidak mudah dan penuh dengan ujian, tetapi dengan tekad yang kuat dan dukungan dari berbagai pihak, ia yakin bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. Ikrar yang ia ucapkan adalah komitmen untuk membangun kehidupan yang lebih harmonis dan damai, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakat.
Siska juga menyadari bahwa radikalisasi bukanlah masalah yang hanya bisa diselesaikan oleh individu semata, tetapi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai lembaga untuk mengedukasi generasi muda agar tidak terjebak dalam paham yang salah. Ia berharap agar proses deradikalisasi yang telah dijalaninya bisa menjadi model yang bisa diterapkan di berbagai daerah, membantu banyak orang untuk kembali ke jalan yang benar dan damai.
Kini, Siska Nur Azizah memulai kehidupan barunya dengan penuh harapan. Ia ingin menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Ikrar setianya kepada NKRI adalah janji untuk terus berjuang demi kedamaian, dan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih toleran dan berpadu dalam keberagaman. Semoga perjalanan hidupnya dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi siapa saja yang sedang berjuang melawan radikalisasi dan ekstremisme.









Leave a Comment