Single Shaming: Mengapa Pernikahan Kerap Jadi Tujuan Hidup Sebagian Orang?

Muallifah

05/10/2024

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Tren “Marriage is Scary” menjadi fenomena baru dalam kehidupan manusia modern. Cerita-cerita tentang ketakutan pernikahan, digambarkan oleh setiap pasangan dan menjadi alasan kehidupan generasi media sosial, untuk menunda menikah/memiliki pasangan. Meski demikian, perlu diimbangi juga pengetahuan tentang pernikahan dari berbagai sisi. Sebab bagaimana pun, media sosial tidak boleh menjadi standar kehidupan.

Argumen di atas juga dibuktikan dengan data pernikahan di Indonesia, yang semakin menurun dalam setiap tahunnya. Dilansir dari Badan Pusat Statistik, pada 2023, misalnya, jumlah pernikahan di Indonesia mencapai 1.577.255. Angka ini turun sekitar 128 ribu dibandingkan angka pernikahan di tahun 2022. Apabila seluruh laporan BPS direntangkan dalam 10 tahun terakhir, angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan sebesar 28,63 persen atau menyusut 632.791.

Mengapa penurunan angka pernikahan ini perlu disorot? Seperti yang kita ketahui bahwa, tingkat perceraian di Indonesia masih sangat besar karena berbagai faktor. Jika penurunan angka pernikahan ini berbanding lurus dengan kesiapan masyarakat Indonesia dalam menjalankan kehidupan rumah tangga, maka tren menunda pernikahan menjadi salah satu hal yang patut diapresiasi kepada anak muda Indonesia. Artinya, penurunan angka pernikahan di Indonesia harus dilihat dari berbagai sisi, agar pemerintah tidak serampangan dalam membuat program yang mendorong masyarakat Indonesia untuk segera menikah dan memiliki anak.

Di balik dari banyaknya fenomena yang dipaparkan di atas, mengapa masyarakat kita masih kerapkali mengucilkan orang-orang yang belum menikah? Pertanyaan “kapan menikah”, barangkali bagi sebagian orang adalah sebuah basa-basi atau pertanyaan template yang sering dilontarkan pada sebuah pertemuan. Namun di balik itu, nyatanya terdapat kebiasaan buruk yang dimiliki oleh masyarakat kita, untuk terus mengucilkan orang-orang belum menikah karena berbagai hal.

Single shaming merupakan suatu kondisi di mana seseorang dipermalukan atas status lajang/tidak memiliki pasangan. Masyarakat menganggap bahwa, orang yang lajang berstatus lebih rendah dibandingkan dengan orang yang sudah menikah. Single shaming ini, kerapkali dialami oleh perempuan, karena masyarakat memiliki batas umur tertentu, untuk menetapkan perempuan harus menikah/harus memiliki pasangan. Biasanya, perempuan yang sudah berumur 30 tahun ke atas, akan tetapi belum menikah, merasa dikasihani oleh masyarakat karena dianggap gagal dalam menjalani kehidupan.

Artinya, prestasi/capaian hidup setinggi apa pun yang dimiliki oleh seorang perempuan, jika belum memiliki pasangan/menikah, masyarakat masih menganggapnya sebuah kegagalan. Mengapa demikian? Ini karena masyarakat hidup pada budaya patriarki yang kerapkali merugikan perempuan. Meski demikian, single shaming ini juga dialami oleh laki-laki yang belum punya pasangan. Namun, anggapan masyarakat pada laki-laki/perempuan yang sudah sukses (karir bagus), akan berbeda satu sama lain.

Pernikahan dan Tujuan Hidup

Sebagian masyarakat, menganggap bahwa pernikahan adalah tujuan hidup. Padahal, pernikahan dan kehidupan rumah tangga adalah bagian dari perjalanan hidup yang akan dilewati oleh seseorang jika memilih untuk memiliki pasangan. Pasca menikah/menjalankan rumah tangga, kehidupan terus berjalan. Kita akan tetap menjadi diri sendiri dengan berbagai konsekuensi kehidupan yang dipilih, seperti menjadi orang tua atau memiliki untuk tidak memiliki anak. Artinya, tidak elok menjadikan pernikahan sebagai tujuan hidup, sedangkan pasca pernikahan kehidupan masih sangat panjang untuk melakukan berbagai hal demi kebermanfaatan kita sebagai manusia melalui kemampuan yang kita miliki.

Pilihan menjadi lajang atau tidak menikah dengan berbagai alasan yang melatarbelakangi, tidak boleh dipermalukan. Kita sebagai masyarakat perlu untuk terus berupaya menghilangkan budaya tidak sopan (single shaming). Barangkali orang yang masih lajang sedang menjadi tulang punggung keluarga, sehingga tidak elok bagi kita untuk mempermalukan dirinya karena belum menikah atau lajang.

Bisa jadi, orang yang belum menikah memiliki trauma berat tentang pernikahan. Artinya, tidak elok pula bagi kita menyuruh seseorang untuk segera menikah atau mempermalukannya karena status lajang. Oleh karena itu, menghargai atas status lajang seseorang berapa pun umurnya, bisa dikatakan sebagai salah satu basic manner dalam hubungan manusia modern.  

Leave a Comment

Related Post