Serial Pengakuan Eks Napiter (CC-III): Baihajar Tualeka, Perakit Bom yang Menjadi Perekat Perdamaian

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.

19/07/2024

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Sudah tak terhitung jumlahnya narapidana teroris (napiter) yang kembali ke jalan yang benar; bertobat dan pro-NKRI. Selain Ali Imron dan Nasir Abbas, ada seorang perempuan eks napiter yang kini benar-benar kembali ke pangkuan NKRI, yaitu Baihajar Tualeka (seterusnya cukup disebut “Bai”). Berikut cerita awal mula perjalanan Bai sampai bertobat.

Bai adalah perempuan yang lahir dari keluarga Muslim pada 4 Februari 1974 di Desa Pelauw, wilayah utara Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah. Dia merupakan anak kelima dari sembilan bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai seorang pegawai negeri sipil (PNS), sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.

Sang ayah membawa Bai dan keluarganya untuk tinggal di Papua sejak kecil. Di sana dia mengenyam pendidikan sekolah dasar di SD 1 Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Pada 1992, Bai memasuki Universitas Pattimura, Ambon, Jurusan Budidaya Pertanian, Program Studi Ilmu Tanah. Dia sempat mengikuti organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di kampus dan juga aktif di Lembaga Dakwah Kampus (LDK).

Ketika masuk semester tujuh, Bai mengikuti sebuah organisasi Islam yang eksklusif dan tidak terbuka terhadap pandangan kelompok-kelompok lain. Kurang lebih tujuh bulan lamanya dia bergabung di organisasi tersebut. Akibatnya, Bai terlibat dalam perakitan dan peledakan bom molotov bersama beberapa pejuang dari kubu Muslim ketika pertama kali konflik Ambon pecah pada 1999.

Bom tersebut diledakkan di beberapa tempat seperti pojok-pojok pasar, jalan raya, atau titik mana saja di mana kelompok lawan berada. Bai tidak takut resiko, seperti mati terkena ledakan bom atau sejenisnya, karena dia sudah terdoktrin sebuah ideologi bahwa kematian yang datang saat berjihad lebih bermakna karena kematian seperti itu sudah “dijamin” memperoleh surga. Seruan mati syahid ini sering didengarnya ketika dia mulai terlibat sebagai perakit bom.

Bai terlibat dalam kelompok jihadis laki-laki dalam rentang waktu yang tidak begitu lama, yaitu sekitar satu hingga dua bulan. Setelah itu berhenti. Bai berhenti karena dua faktor: Pertama, dia melihat bahwa apa yang dilakukannya tidak lantas memberikan dampak lebih baik bagi kelompok Muslimnya. Kedua, salah satu teman perempuannya sesama perakit bom meninggal dunia dan tidak ada satu pun yang bertanggung jawab.

Sebagai bentuk penebusan dosa sosialnya, Bai berusaha terlibat aktif dalam sejumlah program penguatan kapasitas yang diinisiasi Komnas Perempuan pada tahun 2000. Salah satu inisiatif yang kuat waktu itu di Komnas Perempuan adalah Gerakan Pe­rempuan Peduli (GPP), yang diinisiasi masing-masing oleh tokoh perempuan Islam dan Kristen, yakni Pendeta Etta Hendriks dan Yul Latucosina (istri wakil gubernur yang tengah menjabat saat itu).

Tujuan Komnas Perempuan yang ditekuni oleh Bai adalah menggerakkan kelompok perempuan agar mengupayakan perdamaian, membujuk suami dan anak-anak mereka agar tidak ikut berkonflik. Bai merupakan salah satu perempuan yang dilibatkan dalam kerja-kerja GPP. Sejak 2001 hingga saat ini, GPP adalah mitra LAPPAN untuk terus berupaya untuk meningkatkan ketahanan diri masyarakat Maluku agar tidak mudah terprovokasi oleh segala bentuk pemicu konflik di kemudian hari.

Sebagai penutup, perjalanan hidup Bai hendaknya dijadikan pelajaran bagi siapa pun yang membacanya. Agar bangsa ini tidak terjebak dalam bujuk rayu terorisme. Sebab, sebagaimana yang diungkapkan Bai, terorisme tidak membawa dampak yang positif sedikit pun. Malahan menghadirkan petaka dengan kerusakan lingkungan dan terganggunya keselamatan jiwa. Jelas tindakan terorisme semacam itu bertentangan dengan ajaran Islam yang melakukan kerusakan di muka bumi dan membunuh jiwa.[] Shallallahu ala Muhammad.

*Tulisan ini disadur dari cerita eks napiter Baihajar Tualeka yang dimuat di media online alif.id

Leave a Comment

Related Post