Serial Pengakuan Eks Napiter (CC-II): Motivasi Utama Eks Napiter Choirul Ikhwan Keluar dari Ideologi Ekstrem

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.

12/07/2024

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Narapidana teroris (napiter) banyak dijumpai di Indonesia. Di antara mereka ada yang masih keukeuh dengan ideologinya dan ada yang sudah hijrah dengan kembali ke NKRI. Kembali ke NKRI adalah bukti bahwa mereka meninggalkan ideologi ekstremis yang cukup berbahaya.

Pada tulisan ini saya coba ceritakan napiter yang sekarang sudah hijrah. Dialah Choirul Ikhwan (yang akrab disapa Irul dan berikutnya digunakan sebutan “Irul”). Irul sempat menjadi buronan dan masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Polri dari tahun 2009 hingga 2011.

Irul mengalami situasi penuh pergolakan hidup. Bahkan berat badannya turun drastis. Buktinya, seminggu setelah tertangkap, karena makan enak, berat badannya naik jadi 62 kilogram. Dia merasa lega ketika tertangkap. Pergolakan hidup yang dirasakan Irul tentu berkenaan dengan doktrin-doktrin terorisme yang dia terima bertentangan dengan norma yang dianut sebelumnya.

Irul pun merasa tidak nyaman karena selalu bertentangan dengan pandangan umum masyarakat. Lambat laun, dia mulai berpikir ulang tentang tujuannya selama ini. Terlebih, dia juga memutuskan untuk melepaskan diri dari keluarganya serta mengkafirkan mereka, termasuk kedua orang tuanya. Dia juga harus meninggalkan tiga anak kesayangannya demi bergabung dengan kelompok teror.

Doktrin yang diterima Irul memang cukup kuat mencengkeram pikirannya, sehingga susah menolaknya. Doktrin ini membisikkan bahwa tindakannya yakni aksi-aksi teror akan membawanya ke surga, meskipun harus meninggalkan keluarga. Beruntungnya, Irul akhirnya memilih untuk kembali ke keluarganya. Bagi Irul, ini termasuk hidayah yang Tuhan hadiahkan kepadanya.

Motivasi yang paling besar untuk keluar dari cengkeraman ideologi terorisme adalah keluarga. Bagaimana Irul bisa mengorbankan semua itu namun ternyata yang dia jalani itu salah. Ternyata dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, ternyata justru bertentangan. Pada saat ini Irul masih mampu berpikir logis bahwa doktrin terorisme dengan iming-iming surga adalah omong kosong belaka.

Ketika kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan doktrin terorisme, Irul memilih untuk berdakwah dengan melakukan deradikalisasi. Pada suatu kesempatan Irul berpesan bahwa salah satu ciri ideologi ekstrem adalah menolak demokrasi, seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya. Irul bahkan melarang keluarganya untuk mengikuti Pemilu. Demokrasi diklaim sebagai produk orang kafir.

Sampai di sini, sudah kelihatan bahwa ideologi ekstrem bertentangan dengan demokrasi yang dijadikan pedoman di negara Indonesia. Maka, berhati-hatilah jika menerima informasi dari atau berguru kepada orang yang anti-demokrasi. Sebaiknya, jauhi orang seperti itu agar peristiwa Irul tadi tidak terulang kembali kepada bangsa ini.[] Shallallahu ala Muhammad.

*Tulisan ini disadur dari cerita eks napiter Choirul Ikhwan yang dimuat di media online aida.or.id

Leave a Comment

Related Post