Harakatuna.com – Perayaan HUT RI ke-79 akan dibagi di dua tempat. Pertama, akan dirayakan di IKN, Kalimantan Timur. Kedua, di Istana Merdeka, Jakarta. Perayaan ini menurut banyak orang menjadikan bengkaknya anggaran. Namun menurut Jokowi adalah wajar.
Banyak pihak mengecam seremonial besar-besaran HUT RI ke-79 ini. Ini karena, perayaan tersebut mengikis rasa keadilan. Di saat rakyat sedang dilanda gelombang PHK dan turunnya daya beli, bahkan berada di jurang kemiskinan dan masih banyak yang kelaparan, negara malah menghambur-hamburkan anggaran hanya untuk sesuatu yang sifatnya seremonial. Bayangkan saja, sewa mobil sehari dengan harga 25 juta!
Hilang Rasa Keadilan
Kemensetneg telah meneken 100 unit mobil dengan sewa 25 juta itu untuk keperluan operasional dan penjemputan tamu VVIP negara di IKN. Tamu-tamu ini sepenuhnya hanya untuk melihat pesona proyek ambisius satu orang yang tidak berbau kolonial. Namun demikian, rakyat Kalimantan dilarang untuk mengikuti. Di Jakarta juga tidak kalah mewah. Persiapan mulai dari dekorasi, konsumsi, hingga uang saku pejabat dan insentif bagi bintang tamu juga sudah disiapkan.
Perayaan tahun ini, menurut banyak pihak kelewat batas. Negara seperti tidak mengenal skala prioritas. Uang rakyat dipakai hanya untuk perhelatan HUT kemerdekaan, di tengah banyak warga negara yang kelaparan. Menurut data BPS Kaltim, jumlah penduduk miskin di Kaltim per Maret 2024 mencapai lebih dari 221 ribu orang. Ini baru di Kaltim, belum di tempat lain. Kabarnya, warga lokal di sekitar IKN masih belum mendapatkan dana kompensasi atas pembebasan tanah miliknya.
Banyak orang melihat perhelatan ini terlalu dipaksakan. Yang dipikirkan bukan pada persoalan bagaimana rasa empati kepada masyarakat yang sedang kesulitan ekonomi, tetapi lebih ke pertarungan politik.
Kalau kita melihat data, para penguasa dalam 5 tahun terakhir kekayaannya naik drastis. Begitu juga pengusaha. Artinya, ekonomi Indonesia hanya muter di dua entitas ini. Misalnya, penguasa membuat acara di hotel, makan di restoran mewah, juga berlibur tempat-tempat wisata mewah yang notabene pemilik modal.
Berfoya-Foya?
Bagaimana nasib rakyat kecil? Rakyat kecil hanya melihat tayangan di televisi dan media sosial soal kekayaan mereka. Rakyat kecil tergilas dalam persoalan ekonomi. Bahkan rakyat menengah ke atas juga mendapatkan dampak dari penangan ekonomi yang tidak memiliki skala prioritas ini. Akibatnya, mereka banyak yang sakit dan depresi.
Hari ini masyarakat sangat butuh pertolongan negara. PHK massal di mana-mana terjadi. Hasil panen alam juga mengalami nasib tragis. Makanan tambah menipis. Negara malah menyuruh rakyatnya untuk menghemat atau tidak makan beras. Bagi saya ucapan pejata ini tentu makin menyakiti hati rakyat.
Para penguasa memakai mobil bermewah-mewahan. Bahkan mewah dalam seremonial HUT RI. Sedangkan rayat nyata-nyata sedang membutuhkan pertolongan negara tetapi tidak digubris sama sekali. Inilah ironi di negeri zamrud khatulistiwa ini. Seakan penguasanya lebih senang menari-nari di atas penderitaan rakyatnya sendiri.
Esensi Merdeka
Merdeka di atas penderitaan bangsanya sendiri buat apa? Makna merdeka seharusnya bisa mengentaskan kemiskinan dan penderitaan rakyat. Merdeka seharusnya bisa menghilangkan mental kolonial dan penjajah. Kita bisa dikatakan merdeka andaikan bisa berprestasi dan kerja nyata dalam meningkat daya saing umat, bukan sekedar seremonial yang penuh dengan pencitraan semata.
Realitas ini sungguh memiriskan hati umat Islam. Makanya, para pegiat khilafah selalu mengkritik perhelatan HUT RI kali ini. Mereka dikesankan serakah, suka berfoya-foya, tidak amanah. Apakah selayaknya salah? Ada benarnya juga.
Namun demikian, kita harus menaruh hati pada kepentingan rakyat. Kita harus mencari cara bagaimana bisa menghilangkan kesusahan rakyat dan untuk kemaslahatan umat. Kita juga harus bisa menuntun pengambilan kebijakan agar implementasi dan hasilnya sesuai dengan tujuan utama mengurus urusan umat. Ini harus dilakukan karena Pancasila memang mengajarkan itu. Bukan mengajarkan kebijakan penyelewengan yang penuh kesia-siaan. Merdeka!








Leave a Comment