Serangan AS ke Fasilitas Nuklir Iran Picu Kecaman Global: “Langkah Militer yang Bisa Picu Perang Regional”

Ahmad Fairozi, M.Hum.

22/06/2025

3
Min Read
Serangan AS ke Fasilitas Nuklir Iran Picu Kecaman Global: "Langkah Militer yang Bisa Picu Perang Regional"

Harakatuna.com. Teheran – Langkah militer Amerika Serikat yang menyerang fasilitas nuklir Iran menuai gelombang kecaman dari berbagai pihak internasional. Presiden AS Donald Trump mengklaim serangan tersebut merupakan upaya mencegah ancaman nuklir dari Teheran. Namun, banyak pihak menilai tindakan itu justru memperburuk situasi dan mengikis kepercayaan terhadap jalur diplomasi.

“Langkah ini diambil demi melindungi dunia dari potensi ancaman nuklir. Iran sudah terlalu lama bermain api,” ujar Trump dalam pernyataan resmi dari Gedung Putih.

Namun, pemerintah Iran bereaksi keras, menuding tindakan Washington sebagai bentuk pengkhianatan terhadap proses damai yang sedang dibangun. “Serangan ini merupakan pukulan telak bagi diplomasi dan upaya rekonsiliasi yang telah kami upayakan bersama mitra internasional,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran dalam konferensi pers di Teheran.

Sejumlah analis menyoroti keterlibatan Israel dalam mendorong serangan tersebut. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut-sebut sebagai aktor utama yang mendorong keterlibatan AS dalam konflik yang berpotensi meluas.

“Netanyahu telah berhasil menyeret Amerika ke dalam konflik terbuka dengan Iran. Ini bukan hanya persoalan nuklir, tapi juga strategi jangka panjang yang berisiko memicu perang regional,” ungkap Prof. Mehran Kamrava, pakar pemerintahan dari Universitas Georgetown Qatar, dalam wawancara dengan Al-Jazeera.

Menurut Kamrava, banyak warga Iran meyakini motif Israel jauh lebih luas daripada sekadar menghentikan program nuklir. “Publik Iran melihat pola yang sama seperti yang terjadi di Libya, Irak, dan Afghanistan pasca intervensi AS. Mereka percaya Netanyahu tidak hanya ingin melumpuhkan fasilitas nuklir, tapi juga melemahkan dan memecah-belah Iran secara keseluruhan,” tambahnya.

Kritik Tajam dari Akademisi Barat: Serangan yang Seharusnya Bisa Dihindari

Dari kalangan akademisi Barat, kritik juga bermunculan. David Philips, akademisi Universitas Oxford dan mantan penasihat senior di Departemen Luar Negeri AS, menyayangkan tindakan militer tersebut yang dinilainya bisa dihindari.

“Kedua belah pihak sebelumnya hampir mencapai kesepakatan damai. Tapi Netanyahu berhasil memaksa AS untuk bertindak militer, sebagai bagian dari agenda jangka panjangnya,” ujar Philips kepada media Inggris.

Stephen Zunes, Direktur Studi Timur Tengah di Universitas San Francisco, memperingatkan bahwa Iran memiliki berbagai opsi untuk membalas, dan situasi ini dapat berdampak luas.

“Iran memiliki kapabilitas rudal dan drone yang dapat menjangkau sekitar 40.000 warga Amerika yang berada di kawasan. Jika mereka memutuskan untuk menyerang Armada Laut AS di Teluk Persia, dampaknya akan sangat besar, termasuk terhadap stabilitas ekonomi global,” tegas Zunes dalam pernyataan tertulis.

Pemerintah Iran menyatakan tengah mempertimbangkan langkah-langkah balasan yang “proporsional dan strategis”. Meski belum diungkapkan secara terbuka, banyak pihak memperkirakan Teheran akan menargetkan aset dan kepentingan AS di kawasan.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di dunia internasional. Para diplomat menyerukan de-eskalasi segera, dengan harapan agar krisis ini tidak berkembang menjadi konflik berskala besar yang dapat mengguncang stabilitas regional dan global.

Leave a Comment

Related Post