Seorang Penulis yang Menulis dengan Kesakitan dan Penderitaannya

Juli Prasetya

31/05/2025

5
Min Read
Penulis Menulis

On This Post

Dengan kata-katalah dan bukan dengan penderitaannya seorang penulis mengarang buku. Kita tidak pernah menaruh penderitaan kita ke dalam buku, dan demikian pula kita tidak menaruh model di atas kanvas; kita mendapat ilham dari penderitaan kita, dan penderitaan itu tetaplah penderitaan. Kita barangkali menghirup secercah perasaan lega karena telah menempatkan diri di atas penderitaan kita agar dapat mengisahkannya, tetapi begitu sebuah buku telah selesai ditulis, penderitaan itu kembali seperti semula.

(Jean Paul Sartre)

Harakatuna.com -Kita boleh jadi akan berdebat sengit mengenai pernyataan Sartre di atas. Namun sepanjang pengalaman saya menulis, penderitaan dan kesakitan-kesakitan yang saya alami dalam hidup, itu menjadi bahan bakar terbesar saya dalam menulis. Itulah mungkin semacam spirit dasar yang pokok dalam kepengarangan saya, tentang kesakitan dan penderitaan yang kemudian menjadi bensin untuk proses kepenulisan saya.

Ini tidak jauh dengan apa yang dirasakan oleh Ahmad Tohari, satu-satunya pengarang legendaris dari Banyumas. Pengarang Ronggeng Dukuh Paruk ini dalam proses kelahiran calon novelnya diawali dengan kegelisahan, rasa getir, sedih, dan kepedihan yang luar biasa. Bagaimana ia menyaksikan kekejaman di depannya. Ia menyaksikan bagaimana orang-orang yang dituduh PKI dibunuh di depan mata kepalanya sendiri. Itu yang pertama.

Lalu pemicu kedua ia menulis Ronggeng Dukuh Paruk adalah karena ia tidak bisa menunggu lagi, bagaimana tidak selama bertahun-tahun tidak ada penulis yang berani menuliskan kekejaman itu. Ada rasa tertekan di dalam dadanya, ada sesuatu yang mengganjal jika ia tidak menuliskan peristiwa keji itu, ada sesuatu yang akan meledak dan jebol dari pedalamannya. Lalu saat ia mendengar cerita dari seorang lelaki tua, seorang saksi hidup satu-satunya bukak kelambu yang masih hidup.

Salah satu fragmen paling ikonik dalam novel RDP. Maka tepat di titik itu pula, apa yang selama ini menggedor dan mendobrak hatinya untuk menulis tidak bisa ditahan lagi. Maka sejak saat itu terjadilah proses kelahiran Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dinihari, Jantera Bianglala.

Setiap penulis memang memiliki proses kreatif yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Saya mengamini apa yang dikatakan oleh Sartre di awal tulisan ini, ketika penderitaan adalah penderitaan, ia tidak bisa hilang meskipun sudah dituliskan di dalam sebuah karya katakanlah. Namun Sartre juga harus ingat, bahwa kenikmatan dan rasa lega ketika penderitaan dan kegetiran hidup itu dituangkan dalam karya, itu juga menjadi semacam joussance, tekstasi, kenikmatan yang bisa kita alami lewat tulisan.

Di sana ada kenikmatan emosi, kenikmatan intelektual, dan bahkan kenikmatan tentang perbincangan tentang kompleksitas perasaan kita sendiri sebagai seorang manusia. Dan itu jugalah yang dirasakan Tohari, saat ia berhasil menyelesaikan novelnya, Ronggeng Dukuh Paruk. Ada rasa lega di sana, ada beban berat yang baru saja diturunkan.

Saya percaya di luar sana ada beberapa penulis dalam proses kreatifnya menulis dan menghasilkan karya dengan cara “menyakiti dirinya sendiri”. Ini kalau saya boleh menyebutnya sebagai semacam masokis kreativitas, bagaimana mereka memancing inspirasi dengan pedihnya patah hati, misalnya. Maka apakah bisa kita menyebutnya sebagai seorang penulis yang mencari ide dan mengasah kreativitasnya dengan menulis dan kemudian menjual kesedihan dan kepedihannya sendiri?

Lalu bagaimana jika si penulis ini memang hidup dari kesedihan dan kepedihannya, apakah kemudian ia akan dianggap sebagai seorang penulis jelek karena cara ia mencari inspirasi dan menggarap tulisannya itu? Padahal boleh jadi mungkin penulis dengan jenis seperti ini adalah jenis penulis yang melankolis dan perasa, sampai begitu perasanya sehingga ia memiliki berlimpah perasaan kesedihan dan kepedihan yang begitu kuat itu lalu ia mengolah kesedihan dan kepedihannya itu sampai di titik tertentu, sehingga ia bisa hidup sekaligus menghidupi kepedihan dan kesedihannya. Ia bisa memanfaatkan kesedihan dan kepedihan itu menjadi amunisi sekaligus senjatanya dalam menulis.

Segala sesuatu yang tengah dan telah tertulis menjadi sebuah tulisan, entah itu tulisan kesedihan dan kepedihan, bukankah itu sama berharganya dengan seluruh perasaan dan pengalaman perasaan manusia itu sendiri? Dengan demikian si penulis bisa melakukan apapun yang ia mau dengan perasaan itu, dan bonusnya ia  bahkan bisa bertahan hidup dari sana,

Jika kita membahas tentang kesedihan dan kepedihan, bagaimanapun kita telah menyaksikan berbagai macam kesedihan kepedihan dan penderitaan, tapi sebagian dari kita justru menolak untuk mencicipi pengalaman itu. Jika demikian ini adalah pengalaman dan perasaan yang belum teruji, dan perasaan yang belum teruji adalah perasaan yang tak layak untuk dimiliki. Jika itu kita tahbiskan atau kita analogikan sebagai kesedihan misalnya, maka kesedihan yang tak teruji dan tidak terbuktian, maka itu adalah kesedihan yang tak layak untuk dijalani atau dimiliki.

Ernets Hemingway mengatakan bahwa kesejahteraan ekonomi dan kesehatan yang terjaga baik, merupakan situasi yang kondusif untuk menulis; bahwa salah satu kesulitan utama dalam menulis adalah menyusun kata dengan baik; bahwa ketika menulis menjadi pekerjaan berat maka ada baiknya membaca kembali buku-buku karangan sendiri, agar selalu ingat bahwa menulis itu memang berat

Ya kita bisa sangat-sangat bersepakat dengan itu. Betapa Hemingway memperhatikan sekali kondisi finansial dan kesehatan seorang penulis, bahwa seorang penulis yang memiliki kenyamanan dan berkecukupan itu selalu lebih baik dalam menulis, ketimbang penulis-penulis yang hidupnya kelaparan, terjebak dalam himpitan ekonomi, kemelaratan, dan kemiskinan.

Tapi pada akhirnya ini semua adalah perihal pilihan, pilihan yang masih bisa terus kita perdebatkan, sepanjang hayat masih dikandung badan, dan mungkin saya masih ingin tetap keras kepala memilih jalan penderitaan dalam menulis, sebagaimana yang dikatakan oleh Proust. Kebahagiaan bermanfaat bagi tubuh, tapi kesedihanlah yang mengembangkan kekuatan pikiran. Eh, tapi ngga tahu nanti.

Leave a Comment

Related Post