Harakatuna.com – Di banyak majelis, kita sering mendengar bahwa seorang mukmin sejati “tidak terguncang oleh pujian maupun celaan manusia”. Kalimat itu sering dipakai sebagai tolok ukur kedewasaan rohani, hati yang jernih, mantap, dan tidak mudah terombang-ambing oleh penilaian manusia. Namun pertanyaan yang lebih jujur kadang terabaikan: Bagaimana seseorang mencapai titik itu? Apakah dengan menekan semua emosi? Dengan mengabaikan rasa sakit dan rasa senang? Atau dengan memaksa diri untuk “tidak peduli”? Banyak orang mencoba lewat jalan itu, dan tidak sedikit yang akhirnya rapuh secara batin.
Mitos Supresi Emosi: Jalan yang Menghancurkan, Bukan Mencerahkan
Ada anggapan lama bahwa kesalehan berarti mematikan emosi. Seolah-olah semakin sedikit seseorang merasakan, semakin tinggi derajat spiritualnya. Tetapi pandangan ini nyaris tidak ditemukan dalam karya ulama klasik.
Dalam Thibb al-Qulub, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah menegaskan bahwa hati manusia memiliki kehidupan, penyakit, dan kesembuhan seperti tubuh. Emosi bukan untuk dimatikan, melainkan dipahami dan diarahkan agar jiwa tidak membeku.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyerupakan nafs seperti hewan tunggangan. Jika dibiarkan liar, ia menyeret pemiliknya. Jika ditekan terlalu keras, ia bisa memberontak. Al-Ghazali menekankan bahwa jalan yang benar adalah tadbir, yaitu mengelola, bukan menghancurkan. Jiwa tidak dibuat dingin dan hampa, tetapi matang dan seimbang.
Karena itu, menekan emosi bukanlah jalan menuju kekuatan spiritual. Justru hal itu sering menimbulkan kelelahan batin, kecemasan, dan rasa hampa. Upaya untuk “sempurna” berubah menjadi penyiksaan terhadap jiwa.
Self-Love: Fondasi yang Hilang dalam Banyak Diskursus Spiritual
Self-love sering disalahpahami sebagai egoisme, narsisme, atau kesombongan. Padahal dalam perspektif Islam, self-love bisa menjadi pondasi iman yang sehat.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang harus memiliki cinta diri yang sehat sebelum dapat mencintai orang lain. Jika seseorang menghina atau meremehkan dirinya sendiri, merasa tidak berharga atau rendah dari semua orang, lalu bagaimana ia mampu memberi cinta yang tulus kepada orang lain?
Self-love bukan menempatkan diri di atas orang lain, tetapi menghargai jiwa sebagai amanah Allah. Ia berarti memahami batas, menghormati proses, serta menjauhkan diri dari kebencian terhadap diri sendiri, sesuatu yang jelas bertentangan dengan rasa syukur.
Pujian dan Cacian sebagai Informasi, Bukan Musuh
Banyak yang mencoba menjadi hamba yang “sempurna” dengan cara menekan diri, mematikan rasa, dan menutup hati. Alih-alih membawa kepada maqam yang lebih tinggi, upaya itu malah membuat mereka terisolasi, kehilangan kepercayaan diri, dan terjerat dalam rasa bersalah tanpa akhir. Kesalehan tanpa self-love berubah menjadi beban, bukan kedamaian.
Dalam pandangan yang lebih dewasa, pujian bukan racun dan cacian bukan pedang. Keduanya hanya informasi, rezeki dalam bentuk pelajaran. Seorang mukmin yang matang mampu melihatnya dengan objektif.
Jika pujian layak, ia menerimanya dengan syukur dan tetap rendah hati.
Jika pujian tidak pantas, ia tersenyum dan tidak tinggi hati.
Jika cacian mengandung kebenaran, ia menerimanya sebagai koreksi dan memperbaiki diri.
Jika cacian adalah kebohongan, ia tidak tergoyahkan.
Ketenangan seperti ini tidak lahir dari penolakan rasa, tetapi dari stabilitas identitas batin. Dari hati yang penuh, bukan hati yang kosong. Bukan karena mati rasa, melainkan karena terlindungi dan terarah.
Keteguhan Batin Bukan Kekosongan, tetapi Integrasi
Dengan self-love dan manajemen batin yang sehat, seseorang mampu menyikapi pujian tanpa terbang dan menyikapi celaan tanpa runtuh. Ia tidak hidup dari tepukan tangan dan tidak mati oleh omongan orang. Ia memiliki rumah batin, tempat pulang ketika badai datang.
Dari keadaan ini tumbuh ketulusan. Ia berbuat baik karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau takut dikritik. Ikhlas tumbuh dari kemantapan identitas. Seseorang mengenal siapa dirinya, siapa Penciptanya, dan untuk siapa ia hidup.
Mencapai Maqam Tinggi Tanpa Menghancurkan Jiwa
Sering kita dengar bahwa untuk naik derajat spiritual, seseorang harus melupakan dunia, menjadi keras terhadap diri, atau mengasingkan diri secara batin. Tetapi realitas menunjukkan bahwa spiritualitas sejati justru muncul dari pengakuan terhadap kemanusiaan kita, dengan segala rasa, luka, dan kelemahannya.
Spiritualitas yang sehat memerlukan:
1. Kesadaran bahwa jiwa bisa sakit dan butuh perawatan.
2. Keberanian untuk menerima luka, bukan menyangkali.
3. Self-love sebagai pijakan, bukan dosa.
4. Ketegasan batin agar tidak mudah terombang-ambing.
5. Niat yang jernih, yaitu hidup untuk Allah, bukan untuk penilaian manusia.
Dengan begitu, iman tumbuh dari integrasi, bukan dari penolakan diri. Hati yang sehat bisa merespons pujian dan celaan dengan bijak. Ia berjalan dengan tenang, tanpa mencari validasi dan tanpa takut pada penolakan.
PenutupSpiritualitas bukan tentang menjadi kurang manusiawi. Bukan tentang memadamkan rasa atau memaksa diri menjadi batu.
Spiritualitas sejati adalah integrasi. Menerima diri sebagai makhluk Allah, merawat jiwa dari luka, dan membangun identitas yang teguh. Self-love bukan dosa. Ia adalah bentuk syukur dan penghormatan terhadap amanah.
Dari self-love itu tumbuh iman yang kokoh, amal yang ikhlas, dan hati yang damai. Semoga tulisan ini menjadi cermin bagi siapa pun yang merasa ingin suci tetapi kehilangan diri. Semoga kita berjalan di jalan maqam yang dibangun dari cinta, ketenangan, dan keikhlasan.









Leave a Comment