Sekularisme: Ideologi Jaringan Koruptor

Ayik Heriansyah

25/08/2025

3
Min Read
Sekularisme

On This Post

Harakatuna.com – Indonesia tak lagi sekadar darurat korupsi, ia sedang dikepung oleh jaringan koruptor yang rapi, sistematis, dan berlapis. Dulu, korupsi dilakukan oleh individu-individu serakah yang beraksi sendirian.

Kini, ia dijalankan oleh kelompok-kelompok yang beroperasi dari balik meja kementerian dan lembaga. Mereka bukan sekadar mencuri, mereka merancang pencurian sebagai bagian dari sistem.

Dan bahayanya, jaringan ini bisa lebih cepat menghancurkan negara daripada kelompok radikal teror bersenjata. Jika terorisme melubangi dinding luar NKRI, maka korupsi merusak fondasi dari dalam.

Apa ideologi mereka? Bukan komunisme. Bukan ekstremisme. Tapi sekularisme yaitu paham yang memisahkan Tuhan dan agama dari urusan negara, pemerintahan, birokrasi dan administrasi.

Mereka percaya Tuhan ada, yakin tentang kehidupan akhirat, namun semua itu urusan pribadi. Kantor bukan tempat Tuhan bicara. Jam kerja bukan waktu Tuhan untuk mengatur.

Mereka tidak ateis. Mereka salat, puasa, bahkan naik haji. Pergi ke gereja. Ikut kebaktian dan misa. Dan membaca doa-doa harian di rumah. Sayangnya, saat duduk di kursi birokrasi, mereka tanggalkan semua nilai itu.

Seolah-olah Tuhan hanya relevan di masjid, di gereja, di pura dan tempat ibadah lainnya, bukan di ruang-ruang rapat. Seolah-olah malaikat pencatat amal cuti saat mereka menandatangani proyek fiktif.

Bagi mereka, Tuhan terlalu besar untuk mengurus tetek-bengek anggaran. Padahal, Tuhan bisa saja memutus urat tangan mereka saat hendak menandatangani dokumen-dokumen yang mengarah kepada tindakan koruptif.

Tuhan tidak melakukannya. Karena Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemaaf. Ia memberi tenggat waktu. Memberi ruang untuk sadar. Untuk bertobat.

Tenggat waktu itu tidak selamanya. Dunia bukan tempat pembalasan. Di akhirat, semua akan ditagih. Yang jujur akan diberi kenikmatan yang tak terbayangkan. Yang curang akan disambut dengan siksa yang tak tertahankan.

Tuhan memang tidak mengatur detail birokrasi. Ia telah memberi prinsip: kejujuran, amanah, tanggung jawab. Kitab suci, sabda Nabi, dan penjelasan para ulama sudah cukup menjadi kompas moral. Tapi kompas itu sering ditinggalkan di laci, digantikan oleh kalkulasi keuntungan pribadi.

Masjid dan mushala di kantor-kantor pemerintah seharusnya menjadi pusat pembinaan jiwa aparatur. Jangan hanya jadi tempat singgah salat dzuhur. Di sanalah seharusnya nilai-nilai keimanan, adab, dan akhlak ditanamkan.

Jika kita ingin memutus jaringan koruptor, kita harus mulai dari jiwa pejabat dan aparat. Dari kesadaran bahwa jabatan adalah amanah, bukan alat memperkaya diri dengan cara-cara ilegal.

Masjid dan mushala serta tempat ibadah lainnya di kementerian dan lembaga harus dihidupkan dengan kajian-kajian yang memperkokoh iman. Sebagai pusat pembinaan pejabat dan aparat yang beriman dan berintegritas.

Karena korupsi bukan soal hukum semata. Ia persoalan hati. Hati yang bersih tak akan tega mengkhianati rakyat.

Leave a Comment

Related Post