“Bumi Manusia”, sebuah judul film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh santrawan Pribumi Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Film ini menceritakan kisah cinta pemuda Pribumi Minke dan gadis keturunan Eropa dan Pribumi Annelies. Percintaan mereka berdua tidak selalu berjalan mulus, namun harus menghadapi kolonialisme Belanda yang melihat Pribumi sebagai orang rendah dan tidak beradab.
Kebenaran tetaplah kebenaran. Prinsip seperti inilah yang mendorong Minke, Annelies, dan ibunya Nyi Ontosoroh melawan ketidakadilan Belanda yang membedakan manusia sebatas kasta, suku, dan ras. Keresahan demi kerasahan datang silih berganti, sehingga perlawanan jalan satu-satunya untuk menyadarkan mereka bahwa semua manusia sama. Tidak benar membedakan manusia karena persoalan suku dan seterusnya. Karena kemuliaan seseorang itu diukur dari kebaikan hatinya dan keramahan sikapnya.
Kendati, ending ceritanya kisah cinta Minke dan Annelies harus kandas karena kalah melawan kolonialisme Belanda. Cucuran air mata mengalir deras tak kuasa mereka bendung. Hanya ratap tangis melihat sang kekasih harus meninggalkan Pribumi sekaligus meninggalkan Minke seorang diri. Hati menjerit dan memberontak atas tindakan kolonial yang tidak mengenal sifat manusiawi dan tidak menyadari bahwa masing-masing manusia punya hati yang butuh dikasihani dan punya hak yang harus dipenuhi.
Berangkat dari ceritanya yang menarik dan menggambarkan potret Indonesia sebelum masa kemerdekaan, penting film ini dihayati oleh masyarakat Indonesia. Sekarang masyarakat banyak bersyukur hidup dapat menghirup kebebasan dari penjajahan. Tidak lagi masyarakat menjadi babu di negerinya sendiri. Tidak lagi masyarakat direndahkan di tanah kelahirannya sendiri. Kemerdekaan ini adalah berkat perjuangan para pahlawan yang telah mendahului mereka.
Selain boomingnya film yang disutradarai Hanung Bramantyo tersebut, terdapat sebuah ceramah Ustadz Abdus Shomad (UAS) yang menyebutkan bahwa di dalam salib itu ada setan dan jin kafir saat menjawab pertanyaan seseorang yang hadir pada majlis taklimnya. Pernyataan UAS ini terkesan kontroversial, sehingga sebagian oknum menyebutkan ustadz kondang ini telah menista agama Kristen. Benarkah UAS terjerembab dalam kubangan penistaan agama seperti yang dituduhkan kepada mantan gubernus DKI Jakarta Ahok tempo dulu?
Menyebutkan sosok setan yang bersemayam di dalam simbol Salib secara tidak langsung melihat agama Kristen rendah seperti rendahnya setan dibandingkan manusia. Penyebutan setan atau jin itu memiliki konotasi negatif alias buruk. Buktinya, seorang yang marah mengumpat dengan nada keras: “Sentan!” Perkataan ini menghadirkan makna bahwa sikap dan kelakuan orang yang dimaksudnya tak ubah setan yang senang berbuat keburukan.
Setan dalam beberapa kitab suci agama-agama, termasuk dalam Al-Qur’an sendiri, digambarkan sebagai makhluk yang tidak bakal merasakan nikmatnya surga. Setan sudah dipastikan akan masuk ke dalam neraka, karena sikap sombong tidak mematuhi perintah Allah, yakni sujud kepada Nabi Adam. Ketidakpatuhan setan merupakan sikap tercela karena tidak tahu berterima kasih kepada Sang Pencipta yang dengannya tercipta seluruh alam semesta dengan sempurna.
Klaim UAS atas simbol Salib yang di dalamnya terdapat setan secara tidak langsung UAS menolak pluralitas negara Indonesia yang merangkul beragam agama, termasuk agama Kristen, sebagai agama yang memiliki kebenaran. Tidak benar hanya membenarkan satu agama yang dipeluknya dan menyalahkan agama lain. Karena, kebenaran agama tidak diukur dari syariat yang diterapkan, namun dilihat dari akidah yang dipercayai. Agama apapun, baik Islam maupun non-Islam, selagi mempercayai keesaan Tuhan tetaplah benar di sisi Tuhan yang Maha Esa. Agama itu hanyalah syariat atau jalan yang membantu manusia menuju Tuhan. Ingat, bahwa jalan menuju kepada-Nya tidak hanya satu, tetapi banyak. Silahkan tempuh sesuka kalian.
Sesungguhnya bila diamati secara pelan-pelan kalimat UAS tentang setan di dalam simbol Salib telah menistakan agama Kristen sebagai agama yang diakui kebenarannya di negeri ini. Karena sikap itu, UAS hendaknya meminta maaf atas perbuatannya dan menerima proses hukum yang akan berlangsung. Dan, saya melihat sikap UAS tak ubahnya kolonialisme Belanda yang sempat menjajah Indonesia dengan cara merendahkan masyarakat Pribumi karena faktor suku, ras, dan agama. Saya khawatir kehadiran UAS bukan menjadi pencerah Indonesia, tetapi provokator yang merewind masa silam yang pahit dan menyakitkan.
Sebagai penutup, tayang dan boomingnya film “Bumi Manusia” sesunggungnya menjadi kritik terhadap kelompok garis keras, termasuk UAS, yang dengan halus menjajah masyarakat Pribumi Indonesia dengan menyulut api permusuhan yang berakibat pada pecahnya persatuan yang telah dibangun dengan perjuangan berdarah-darah oleh pahlawan Indonesia. Seharusnya UAS memperbanyak piknik menghayati film “Bumi Manusia” agar dakwah yang disampaikannya terkesan demokratis, bukan fanatis.[] Shallallah ala Muhammad.







