Secangkir Inspirasi dengan Seteguk Kata; Sebuah Refleksi Literasi

Binti Khabibatur R. A

16/08/2025

5
Min Read
Kata

On This Post

Harakatuna.comNgopi bukan hanya sebuah tongkrongan, namun juga sebuah inspirasi untuk meluapkan segala ide yang tertuang dalam sebuah pikiran yang belum tersalurkan dengan sebuah kata. Kala itu, pagi menjelang siang aku duduk di sebuah coffee daerah Yogyakarta. Aku memilih di pojok sebelah kiri dengan tempat yang sunyi.

Sebelum memulai untuk menulis aku pun memesan cooffe dengan varian yang tentu best seller. Coffee dengan perpaduan susu yang creamy dan expresso dengan bandingan yang sesuai takaran. Ketika barista menyeduhkan coffee tersebut, aroma latte di coffee yang sangat khas membuat lidah tak sabar untuk mencicipi sesruput coffee yang begitu creamy saat diteguk.

Setelah itu, aku duduk di kursi dengan meja kotak, yang hanya cukup untuk satu laptop. Kemudian aku mencicipi coffee tersebut dengan perlahan dan menikmatinya dengan memulai sebuah tulisan yang tertuang dalam pikiran.

Dalam benakku berpikir, bahwa ngopi ternyata tidak hanya sekedar menenangkan pikiran, namun juga memberi inspirasi yang sangat bermakna pada seseorang, guna menuangkan ekspresinya dalam sebuah tulisan. Sama halnya dengan coffee yang saya pesan, Everyday latte bukan sekadar coffee bubuk instan yang dituang dalam cup. Ia diolah dengan prosedur dan kualitas exspresso secara pilihan.

Begitu pun juga dengan menulis, seseorang mengira bahwa menulis hanya duduk di depan laptop yang terbuka dengan mengetik di atas word yang berwarna putih. Dengan itu, tentu ide tidak instan dalam pikiran yang hanya dituangkan. Namun juga pengolahan kata, kalimat, paragraf yang difiltrasi dalam pikiran seorang author. Setiap tegukan coffee yang selalu memberi ide untuk menulis di atas word yang masih kosong.

Adapun ide dalam menulis itu, harus difilter dengan pilihan yang benar-benar bagus dan mudah dipahami dalam tulisan. Jika dalam dunia per-coffee-an, tentu coffee yang dipilih dengan kualitas yang tinggi untuk menghasilkan racikan coffee  yang istimewa. Begitu pun dengan tulisan yang akan ditulis harus memilih ide yang bagus dan isi yang berkualitas. Tulisan yang kuat, tentu terlahir dari ide yang matang.

Dalam menemukan ide, terkadang saya tidak seketika dalam menulis. Namun, terkadang saat keadaan sunyi, terkadang saat makan, terkadang di saat berkendara di jalan, terkadang saat melihat suatu fenomena yang relevan, bahkan di saat akan tidur. Seketika itu ide tiba-tiba muncul, sesuai dengan apa yang saya pikirkan saat itu.

Hal tersebut akan membuat tulisan terasa bernyawa, dan memiliki partikel-partikel dalam tubuh yang utuh. Hal tersebut tentu diawali dengan rasa ingin tahu, rasa yang telah dialami, dan hal yang masih dipertanyakan. Begitu pun dengan pemilihan biji kopi yang dipilih akan menghasilkan coffee yang memiliki makna di setiap tegukannya.

Setelah pemilihan biji kopi tersebut, hal yang dilakukan ialah dengan menggiling kopi untuk menjadi bubuk yang beraroma khas. Sebuah tulisan ketika mengolah ide, akan dituangkan dalam bentuk kalimat serta paragraf yang dapat dinikmati oleh pembaca. Ketika itu, mulailah dengan memainkan clipboard delete berulang kali. Karena saya ketika menulis itu, dengan memastikan kalimat yang cocok dan tidak. Hal itu, akan menghasilkan tulisan lebih nikmat untuk dibaca.

Coffee yang telah selesai dalam proses penggilingan, maka akan dituang untuk diseduh dengan metode pilihan. Hal ini tentu membutuhkan tahap konsentrasi yang tinggi, dalam menuangkan antara coffee dan susu creamy. Hal tersebut perlu membuat bandingan agar Everyday latte terasa istimewa dan nendang. Dengan demikian, dalam dunia kepenulisan membutuhkan konsentrasi yang tinggi ketika pada tahap proses menyusun kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Di sinilah perlu proses untuk melahirkan logika, kalimat yang senada dan narasi yang sesuai agar menyentuh pikiran pembaca.

Tulisan yang bermakna dan bernyawa tentu tidak bisa ditulis sekali duduk, namun jika pikiran tidak lagi ke-distract, maka tulisan akan selesai saat itu, akan tetapi belum sampai tahap finishing. Masih terdapat tahap yang paling penting yakni revisi. Dalam dunia coffee, ketika seorang barista dalam tahap mencicipi coffee tidak seperti orang meminum air putih dengan sekali tegukan atau bahkan beberapa tegukan.

Namun, ketika mencicipi coffee tentu perlu meraskan, apa kurangnya dalam racikan bandingan kopi tersebut. Sebagaimana halnya dengan menulis, ketika sudah selesai perlu yang namanya tahap revisi, di mana ia perlu membaca ulang, menyesuaikan setiap kalimatnya bahkan terdapat paragraf yang perlu diperbaiki. Dalam hal ini, revisi bukan suatu hal yang gagal, namun proses dalam penyempurnaan tulisan yang menjadi utuh dan kuat.

Dalam dunia per-coffee-an barista tidak perlu tergesa-gesa dalam membuat racikan coffee yang istimewa, tentu harus disesuaikan secara prosedur. Begitu pun dalam dunia kepenulisan. Seorang penulis tidak perlu tergesa-gesa dalam menulis. Karena untuk menghasilkan suatu yang istimewa tentu harus bertahap dan melalui prosedur yang sesuai.

Ketika kita tahu tulisan itu sampai pada pembaca, maka seorang yang membaca tentu ada yang tidak setuju dengan tulisan kita, namun ada juga senang dengan tulisan tersebut. Tentu seseorang akan berpikir tentang tulisan tersebut, dapat memahami dan mungkin tulisan tersebut membuat berpikir seorang pembaca. Seperti secangkir coffee yang tentu akan dikenang dengan rasanya yang melekat di akhir tegukannya, begitu juga dengan tulisan yang dikenang karena makna yang telah tersampaikan.

Dunia tentang kepenulisan dan per-coffee-an, tentu keduanya telah mengajarkan untuk saling sadar dalam melalui tahapan sebuah “proses” dan tentu tidak tergesa-gesa dalam menghasilkan sesuatu yang istimewa dan dapat dinikmati.

Gajah mati meninggalkan gadingnya

Manusia mati, meninggalkan nama

Maka kenanglah namamu yang tidak hanya tertulis dalam batu nisan, namun kenanglah dalam tulisan yang bisa bermanfaat bagi orang-orang.

Leave a Comment

Related Post