Bicara tentang radikalisme Islam modern, tentu tak akan lepas dari Sayyid Qutb. Arus pergolakan pemikiran Islam memang melahirkan sejumlah pemikir keras. Mulai dari Abdullah ibn Muljam, Ibnu Taimiyyah, tapi semuanya akan merujuk pada Sayyid Qutb jika bicara soal aksi kelompok teror Islam di zaman modern ini.
Kecewa dengan Nasser yang dibantu untuk menggulingkan Raja Farouk dalam kudeta tak berdarah, Ikhwanul Muslimin Mesir melakukan serangkaian aksi. Puncaknya pada 26 Oktober 1954 malam. Ketika Nasser berpidato, sejumlah anggota IM melancarkan aksi penembakan ke Nasser. Aksi tersebut gagal, dan Nasser membalas brutal.
Enam anggota IM yang terlibat langsung plot dieksekusi segera. Ribuan anggota, termasuk pemimpinnya, Sayyid Qutb, dipenjara. IM diberangus.
Hanya, ketika Nasser berpikir telah melenyapkan IM dan idenya, dia salah. Secara organisatoris, IM mungkin remuk, tapi secara gagasan, ia makin liar. Pertentangan yang semula rivalitas politik akibat kekecewaan IM yang melihat Nasser membawa Mesir ke arah sosialisme dan Pan Arabisme, alih-alih hukum sharia, membuat lahirnya satu gagasan ekstrem dalam dunia Islam yang akan terasa hingga saat ini. Di seluruh belahan dunia.
Produktivitas dalam Penjara
Ketika di dalam penjara, Qutb menyelundupkan tulisan-tulisan berupa pemikirannya ke luar. Pada 1964, terbitlah Ma’alim fi al Tariq. Buku yang berisi kumpulan-kumpulan pemikiran Qutb. Buku ini bukan buku biasa. Ia seperti manifesto apokaliptik. Mungkin selevel dengan du contract social-nya Rosseau, communist manifesto-nya Marx, dan what is to be done-nya Lenin. Lengkap dengan konsekuensi berdarahnya.
Qutb memulainya seperti ini. “Umat manusia berada pada jurang dekadensi. Manusia tak hanya terancam oleh bencana nuklir, tapi juga oleh kekosongan nilai. Dunia Barat telah jatuh ke hawa nafsu, dan Marxisme telah gagal. Pada situasi yang kritis ini, kebangkitan umat Islam tak akan terelakkan lagi”.
Kemudian, Qutb melakukan apa yang telah dilakukan banyak pemikir klasik lainnya. Yakni, membagi dunia dalam dua kelompok. Kelompok muslim dan jahiliyyah.
Yang jahiliyyah itu juga termasuk kelompok Islam moderat. Muslim yang berserah pada nilai-nilai bukan Islam dan mendasarkan diri pada hukum yang bukan dari Allah, maka mereka itu taghut, dan diperangi. Inilah dasar pemikiran yang menjadi landasan bagi kelompok teror Islam melakukan takfiri.
Pemikiran ini juga mendasari bahwa tugas seorang muslim adalah untuk berjihad memulihkan keadilan sosial dan mendirikan pemerintahan berdasarkan hukum Allah. Maka, pandangan hitam putih ini menjadi basis dari dasar ideologi semua kelompok teror modern sekarang ini.
Qutb juga jelas-jelas menyebutkan bahwa orang kulit putih Amerika dan Eropa adalah musuh nomor satu kita. Mereka menghancurkan kita sementara kita mengajarkan kepada anak-anak kita tentang nilai-nilai mereka. Selama ini kita telah mengembik pada mereka, di saat bersamaan ketika mereka memperbudak kita”. Pengalaman Qutb saat dua tahun kuliah di Colorado state college selama dua tahun menebalkan perasaan tertindas itu.
“Saudaraku, jangan ragu. Maju terus. Tak perlu menoleh kiri-kanan. Melihatlah ke atas. Ke Surga yang menanti,” demikian propagandanya.
Eksekusi Sayyid Qutb yang Mencekam
Ketika Qutb digantung pada 1966, ada seorang pemuda murid didiknya yang memandang dengan tragis dan penuh dendam. Dia adalah Ayman Al Zawahiri. Begitu mentornya tewas, pemuda 15 tahun tersebut mendirikan sebuah organisasi bawah tanah yang mengusung ideologi Qutb, dab menamakan kelompoknya Al-Jihad.
Serangkaian aksinya di Mesir memang cukup fenomenal. Tapi tak mampu menggulingkan rezim, hanya menggoyangnya. Rezim yang kemudian membalas dengan tak kalah sengitnya. Akibatnya, ruang gerak Zawahiri dan kelompoknya makin terisolir di Mesir.
Untunglah, Afghanistan menyediakan palagan baru pada 1990 an. Kelompok Mujahidin yang diback up CIA bertarung melawan rezim Najibullah yang didukung Sovyet. Palagan ini kemudian menarik banyak kelompok militan Islam dari seluruh dunia.
Termasuk Zawahiri. Di sinilah dia bertemu dengan Osama bin Laden, pria Arab Saudi sederhana, punya visi jihad, punya uang berlimpah, tapi belum punya jaringan dan infrastruktur kelompok Islam radikal yang matang.
Ini seperti botol ketemu tutup. Bin Laden menyediakan sumber daya, sementara Zawahiri menyediakan backbone organisasi berikut petarung-petarungnya. Diantaranya adalah petarung-petarung dari Indonesia seperti Ustadz syawal, ustadz Anis Yusuf, Abu Fida, Ali Ghufron, Imam Samudera, dan Ali Imron.
Begitu Najibullah berhasil digulingkan, Al-Qaeda lahir dan kemudian memulai apa yang dinamakan jihad global.
Selanjutnya yang terjadi adalah sejarah. Aksi teror besar terjadi. Serangan 9/11 yang meruntuhkan menara WTC, Bom Bali I. AS menyerang balik, dan apa yang dilakukan justru makin menyuburkan radikalisme.
Bin Laden terbunuh, Zawahiri naik ke tampuk pimpinan Al-Qaeda. Al-Baghdadi menolak berbaiat, dan mendirikan ISIS. Kelompok teror yang dianggap paling brutal sekaligus paling teroganisir di muka bumi ini. Bahkan, Al-Qaeda sendiri mereka perangi karena dianggap tak sejalan dengan mereka. Situasi menjadi makin kompleks dengan banyaknya kepentingan politik yang bermain di sana.
Dan kita tahu, di Indonesia, kita mengalami hal yang sama. Memang dengan skala yang lebih kecil. Tapi jika tak waspada, bukan tak mungkin keruwetan di Timur Tengah berpindah ke sini. Keruwetan ideologi radikal, yang ditunggangi oleh kepentingan politik, adalah bahaya paling besar untuk sebuah negara.
* Kardono Ano Setyorakhmadi








