Resep Agar Tulisan Bernilai

Irna Maifatur Rohmah

01/11/2025

4
Min Read
Tulisan Bernilai

On This Post

Harakatuna.com – Menulis adalah terapi dan obat. Menulis adalah cara paling mudah untuk memperpanjang memori manusia. Menulis adalah cara untuk mencapai keabadian, versi manusia. Penulis boleh mati, tapi tulisan abadi, seperti Mbah Pram, Pramudya Ananta Toer. Dalam pendidikan Islam, menulis adalah salah satu cara untuk mengikat ilmu. Yes. Nulis itu banyak banget manfaatnya.

Semua bisa nulis. Yes. Tapi kalau semua bisa nulis, kita perlu punya ciri khas dan value agar beda dari yang lain. Biarpun receh, sepele, tapi punya satu hal yang bisa bikin orang yang baca, “oh iya ya” sambil garuk-garuk kepala yang nggak gatal.

Untuk sampai sana, kita perlu tidak hanya perlu menulis dan menulis. Namun perlu strategi atau resep agar tulisan yang dihasilkan bagus. Let’s enjoy reading with us.

Banyakin bacaan. Betul. Kita perlu banyak-banyak membaca apa pun. Baik buku fiksi, non fiksi, jurnal, koran, paper, pengumuman, baliho, kemasan snack, maupun lainnya. Pokoknya baca yang kita suka genrenya dulu. Nanti bakal ingin sendiri buat baca hal lain. Misalnya sudah biasa baca fiksi, nanti bisa nambah genre misalkan non-fiksi, dan lainnya.

Jangan terpaku pada genre. Tapi yang penting baca saja. Nggak harus buku. Artikel bebas di banyak media online juga membantu banget kok. Not bad. Kenapa sih harus banyak membaca? Nih, aku kasih tahu ya. Kunci dari tulisan itu kan, diksi. Makin banyak bacaan makin banyak juga diksi yang didapat.

Pasti ada kalanya “pengen deh, masukin diksi ini, biar keren sedikit.” It’s normal. Dengan membaca juga kita bisa mendapat jenis tulisan dan value-nya. Kalau ingin yang serius baca ini, kalau lagi santai baca yang di sana, kalau cuma ngilangin gabut baca itu saja. Feel-mu akan dapet dan tahu sasaranmu siapa. So, enjoy your reading.

Reset, kita perlu mencari kebenaran dari beberapa pihak. Misalkan mau mengangkat tema A, maka cari pembahasan lain yang masih satu tema. Baik itu dari artikel, jurnal, video, maupun podcast. Kuatkan ide kita dengan tulisan atau pendapat yang lain. Kalau kita punya teman atau relasi yang paham akan tema itu, its ok buat dimintai pendapatnya. Cari kebenaran-kebenaran di lapangan. Jadi, yang kita tulis bisa dibuktikan kebenarannya. Bukan hanya opini dari diri sendiri.

Reliable, kutip dengan benar. Kalau mengambil dari tulisan orang lain, jangan pernah salah kutip. Itu nunjukin pribadi kita, lho. Penulis itu dilihat dari tulisannya. Tanggung jawabnya di tulisan ya ada pada kutipan-kutipan yang diambil. Gunakan kalimat yang sopan. Misalkan, “meminjam istilah dari …..” atau “berdasarkan …..” dan lainnya. Itu etika dalam menulis. Jangan asal copy paste ya gaes ya.

Reflecting, cari beberapa sudut pandang akan tema yang sedang diangkat. Ya. Namanya juga hidup, pasti setiap isu ada berbagai sudut pandang yang harus dihargai. Buat tulisan juga perlu menimbang sudut pandang juga. Kalau di fotografi ada angel di tulisan juga sama. Ada angel tulisan. Jadi kita mau ngarahin pembaca ke mana.

Dari satu isu, cari angel yang paling menarik. Atau angel yang orang lain tuh nggak kepikiran buat ngangkat. Tentunya, angel itu yang dibutuhkan di masyarakat kita. Sehingga tulisan kita bisa menjembatani orang lain untuk berpikir dan memahami tema tersebut.

Write. Kuncinya di sini. Tulis. Mulailah menulis. Tulisan tidak akan jadi tulisan kalau nggak mulai ditulis. Mau jadi tulisan ya harus ada fase menulisnya. Percuma kalau cuma di notice saja tapi nggak ditulis. Tulis apa pun yang saat itu muncul di pikiran kita. Di fase ini tombol backspace haram hukumnya. Sudah, biarin saja mengalir. Nanti ada saatnya proof reading. Kamu baru ngepas-ngepasin mana yang perlu ditambah atau mana yang dirasa tidak perlu.

Nah, nulis yang nggak sekadar nulis juga butuh proses. Kita perlu mengikhtiari dengan hal-hal tadi selain berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pokoknya menulis itu menyenangkan dan membuat hati kita lega. Paling tidak untuk pribadi, keresahan itu hilang satu persatu. Buat orang lain mungkin akan mengamini atau ada yang merasa bahwa ada validasi akan apa yang sedang dirasakan atau dialaminya.

Leave a Comment

Related Post