Refleksi Hardiknas: Selamatkan Lembaga Pendidikan dari Wahabisme!

Ahmad Khairi

02/05/2024

5
Min Read
pendidikan wahabisme

On This Post

Harakatuna.com – Selamat Hari Pendidikan Nasional. Apa yang perlu direnungi dari Hardiknas kali ini? Apakah hanya seremonial pasang twibbon belaka? Harusnya tidak. Sesuai tagline yang diusung, yakni “Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar”, Hardiknas 2024 mesti menjadi momentum refleksi bersama tentang apa yang harus dibenahi—tidak hanya apa yang sudah tercapai. Merdeka belajar itu mesti tepat sasaran. Jangan sampai ia justru menjadi celah indoktrinasi Wahabisme.

Untuk diketahui, Wahabi di Indonesia—yang mengeklaim diri dengan identitas palsu: Salafi—sudah punya puluhan lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Selain LIPIA yang terkenal sejak lama sebagai wadah wahabisasi, Wahabisme juga punya puluhan pesantren di seluruh daerah. Semua pesantren milik Wahabi diproyeksikan untuk menyebarkan Wahabisme di dunia pendidikan, mulai dari jenjang sekolah menengah hingga universitas.

Misalnya, Ma’had Ali bin Abi Thalib Surabaya, Islamic Center Ibnu bin Baz Bantul, Ma’had Al-Ukhuwah Sukoharjo, Ma’had Imam Syafi’i Banyuwangi, Ma’had Assunnah Tasikmalaya, Ma’had Ali Imam Syafi’i Cilacap, Ma’had Abu Huroiroh Mataram, Ma’had Madinatul Qur’an Bogor, Ponpes Annajiyah Bandung, Ma’had Hidayatunnajah Bekasi, Ma’had Ibnu Hajar Jakarta Timur, Ma’had Ummahatul Mu’minin Jakarta Pusat, Ma’had Al-Furqon Pekanbaru, Ma’had Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Balikpapan, Pondok Pesantren Imam Syafi’i Aceh, dan lainnya.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional dengan ciri khas lokalitas Indonesia dibajak total. Kampus sebagai wadah intelektual tingkat tinggi juga sudah mulai dijamah dan dirasuki paham-paham Wahabi. Artinya, pada Hardiknas kali ini, patut untuk kita melakukan refleksi: mengapa pendidikan bangsa tengah digerogoti Wahabisme? Bagaimana menanganinya? Ini mesti dicari solusinya, karena paham-ideologi Wahabi itu sangat berbahaya untuk generasi bangsa.

Doktrin Radikal Wahabi

Menurut Nur Khalik Ridwan, Wahabi merupakan paham puritanisme yang kompleks baik secara historis maupun agenda ideologi. Wahabisme, misalnya, punya klaim pembenaran atas pembunuhan sesama Muslim. Dalam konteks takfir mu’ayyan, pengafiran terhadap personal, Muhammad bin Abdul Wahhab menulis satu bantahan yang ditujukan kepada Sulaiman bin Abdul Wahhab, yang di dalamnya memberikan legitimasi dan pengabsahan untuk membunuh sesama umat Islam.

Hal tersebut dikategorikan pendiri Wahabi sebagai takfir mu’ayyan yang ditujukan kepada para pelaku bid’ah. Menurut mereka, ahli bid’ah itu boleh bahkan harus dibunuh. Bagi pengikut Wahabi, taat terhadap para syekh, Ali bin Abi Thalib, bahkan terhadap Nabi adalah syirik dan kesesatan. Pilihannya dua: pelakunya disuruh bertaubat (istitabah) atau akan dibunuh. Namun pada saat yang sama, Wahabisme menuhankan para ideolog dan dedengkot Wahabi itu sendiri.

Muhammad bin Abdul Wahhab, sang dedengkot Wahabi mengatakan, “Orang yang menyeru Nabi atau wali dan ucapan lainnya itu harus di-istitabah, kemudian bila telah taubat maka diterima dan bila tidak maka dibunuh.”

Keradikalan doktrin Wahabi—yang sekaligus menegaskan kesesatan berpikir mereka—adalah berusaha melawan sesuatu yang dianggap “ghuluw” dengan cara “ghuluw” pula. Mereka benci dengan orang yang berselawat untuk Nabi apalagi bersenandung syair cinta kepada Rasulullah karena dianggap berlebihan (ghuluw). Tetapi di waktu bersamaan, mereka melakukan ghuluw lain yang jauh lebih brutal, yaitu menghalalkan darah sesama Muslim.

Ide membunuh pelaku bid’ah, menurut doktrin Wahabi, ada dua tingkatan, yaitu di-takfir mu’ayyan, dituduh murtad, kemudian dibunuh. Para pengikut Wahabi selanjutnya mempertahankan ide-ide seperti itu dalam doktrin pendidikan mereka. Dalam pendidikan Wahabisme di Indonesia, takfir mu’ayyan disebarkan secara masif sebagai langkah pembenaran atas pembunuhan bagi Muslim yang dianggap telah melakukan bid’ah, baik dengan cara aksi teror maupun lainnya.

Dengan demikian, pendidikan Indonesia benar-benar berada dalam ancaman serius. Wahabisme tidak hanya mengajarkan intoleransi antarumat atau eksklusivisme keberagamaan, tetapi juga memantik terorisme. Artinya, jika doktrin radikal Wahabi dibiarkan merasuki dan menguasai lembaga pendidikan, generasi masa depan bangsa ini akan menjadi teroris yang brutal dan menghalalkan pembunuhan antarwarga negara. Ironi.

Awasi Lembaga Pendidikan!

Pendidikan merupakan fondasi utama untuk membentuk karakter dan nilai-nilai masyarakat. Karenanya, lembaga pendidikan tidak boleh terpengaruh paham radikal-ekstrem, termasuk Wahabisme yang dapat mengancam toleransi dan persatuan masyarakat. Puritanisme Wahabi adalah biang propaganda ideologi radikal-intoleran, sehingga lembaga pendidikan yang terpengaruh Wahabisme akan menjadi sumber pemecah-belah masyarakat dan perusak toleransi antarumat.

Dalam konteks itulah, pengawasan lembaga pendidikan dari jeratan Wahabisme sangat krusial untuk menjaga integritas dan idealisme sistem pendidikan. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat wajib secara kolaboratif memantau dan mengidentifikasi adanya potensi pengaruh paham Wahabi dalam kurikulum, buku teks, dan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah. Semua lini pendidikan mesti diawasi bersama.

Terdapat sejumlah langkah konkret yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan lembaga pendidikan dari kungkungan Wahabisme. Pertama, penguatan pengawasan dan evaluasi terhadap kurikulum dan materi pelajaran di seluruh lembaga pendidikan. Setiap jenjang pendidikan harus dipastikan tidak mengandung unsur-unsur radikal, intoleran, dan eksklusivisme. Kedua, sebagai terusan dari yang pertama, ialah mainstreaming Islam wasatiah di lembaga pendidikan.

Ketiga, pembinaan bagi guru dan staf sekolah-kampus tentang kontra-radikalisasi dan kontra-wahabisasi. Keempat, partisipasi aktif untuk monitoring aktivitas dan program-program dengan memberikan mekanisme pelaporan bagi mereka yang melihat adanya tanda-tanda Wahabisme di lembaga pendidikan. Partisipasi ini mencakup seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali. Sebab, indoktrinasi Wahabisme bisa menimpa siapa, kapan, dan di mana saja.

Dengan upaya-upaya tersebut, generasi muda akan terselamatkan dari indoktrinasi ideologi radikal Wahabi. Pada saat yang sama, pendidikan akan tetap menjadi sarana memperkuat toleransi dan moderasi dalam keberagamaan jika di dalamnya yang menjadi prinsip utama adalah multikulturalisme. Ini adalah investasi jangka panjang dalam membangun masa depan yang lebih harmonis dan stabil bagi Indonesia. Segera selamatkan pendidikan Indonesia. Selamat Hardiknas.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post