Ratusan Purnawirawan Israel Desak Donald Trump Dorong Gencatan Senjata di Gaza

Ahmad Fairozi, M.Hum.

13/05/2025

3
Min Read
Ratusan Purnawirawan Israel Desak Donald Trump Dorong Gencatan Senjata di Gaza

On This Post

Harakatuna.com. Washington – Lebih dari 550 purnawirawan militer dan pejabat intelijen Israel, bersama keluarga para tahanan Israel di Gaza, mendesak mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menggunakan pengaruhnya guna mendorong gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Mereka juga menyerukan pembentukan kesepakatan pertukaran tahanan seiring memburuknya kondisi kemanusiaan akibat konflik berkepanjangan.

Dilansir dari Quds News Agency dan laporan Clash Report, Selasa (13/5/2025), para mantan pejabat tinggi dari Tentara Pertahanan Israel (IDF), Mossad, Shin Bet, serta Kementerian Luar Negeri Israel menyampaikan pernyataan bersama yang meminta Trump memanfaatkan kunjungan diplomatiknya ke Timur Tengah untuk memfasilitasi langkah terobosan.

“Kami percaya bahwa perang ini telah melampaui tujuan awalnya dan kini membahayakan keselamatan para tahanan Israel yang masih ditahan di Gaza,” tulis mereka dalam surat terbuka.

Para tokoh tersebut tergabung dalam kelompok Commanders for Israel’s Security (CIS), sebuah organisasi yang terdiri dari mantan pejabat militer dan keamanan nasional Israel. Mereka menilai bahwa kelanjutan agresi militer justru berisiko merusak hubungan strategis dengan mitra-mitra regional, termasuk mengancam proses normalisasi dengan Arab Saudi.

“Alih-alih memperkuat posisi Israel, perang ini berisiko menghancurkan aliansi regional yang rapuh dan merusak peluang diplomatik yang selama ini dibangun,” ujar Mayjen (Purn.) Matan Vilnai, mantan Wakil Kepala Staf IDF.

Desakan terhadap Trump datang di tengah meningkatnya tekanan publik di dalam negeri. Ribuan warga Israel dalam beberapa hari terakhir menggelar aksi protes di luar Kedutaan Besar Amerika Serikat dan kediaman Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menuntut dihentikannya operasi militer agar proses negosiasi pertukaran tahanan dapat dilakukan.

“Pemerintah tidak bisa terus mengabaikan seruan rakyat. Kita berbicara tentang nyawa warga Israel yang saat ini menjadi tawanan. Inilah saatnya diplomasi harus dikedepankan,” tegas Brigjen (Purn.) Ephraim Sneh, mantan Wakil Menteri Pertahanan.

Dalam surat tersebut, mereka juga memuji peran Donald Trump dalam menciptakan kesepakatan normalisasi antara Israel dan negara-negara Arab saat menjabat sebagai Presiden AS. Mereka meyakini Trump masih memiliki pengaruh yang kuat untuk mendorong dialog damai.

“Kami percaya Anda, Tuan Trump, memiliki kredibilitas di kawasan ini. Anda dapat menjadi sosok yang menjembatani perbedaan dan mendorong solusi damai, terutama dalam isu sensitif seperti pertukaran tahanan,” bunyi salah satu kutipan surat tersebut.

Mantan pejabat lainnya yang turut menandatangani seruan ini antara lain Mayjen (Purn.) Danny Yatom (mantan Kepala Mossad), Laksamana (Purn.) Ami Ayalon (mantan Kepala Shin Bet), dan Duta Besar (Purn.) Jeremy Issacharoff (mantan utusan Israel untuk Jerman).

Trump dijadwalkan melakukan kunjungan ke Timur Tengah dalam waktu dekat, termasuk kemungkinan pertemuan dengan para pemimpin regional di Doha, Qatar. Kota ini juga menjadi titik penting karena salah satu tentara Israel-Amerika yang dibebaskan, Edan Alexander, dijadwalkan melakukan kunjungan ke sana bulan ini.

Para mantan pejabat Israel berharap kunjungan tersebut dapat menjadi momentum diplomatik untuk mengakhiri konflik dan membawa pulang para tahanan yang masih berada di Gaza.

Leave a Comment

Related Post