Ramadhan sebagai Momentum Deradikalisasi Hati

Harakatuna

19/02/2026

5
Min Read
Deradikalisasi Ramadhan

On This Post

Harakatuna.com – Ramadhan 1447 Hijriah telah tiba. Sejak subuh, udara seakan berbeda: pelan, tenang, seolah dunia sedang diminta menurunkan volumenya. Suara tadarus mulai menggema, sementara di jalanan para pekerja telah lalu-lalang ke tempat kerja. Ramadhan memang selalu menghadirkan atmosfer yang sulit dijelaskan dengan logika semata, seperti musim spiritual yang membuat manusia sejenak berhenti dari kerasnya kehidupan sehari-hari, kembali murni sebagai ‘hamba’.

Tapi, benarkah Ramadhan itu melembutkan hati seorang Muslim? Tiba-tiba banyak beribadah, suka berbagi, dan sedikit kekerasan terjadi. Jawabannya tidak semudah iya atau tidak. Sekalipun bulan mulia ini ladang pahala, penting dicatat juga bahwa kita tengah hidup di era ketika kekerasan tidak selalu muncul dalam bentuk fisik, tetapi tumbuh melalui jari, ketikan, yang berisi prasangka dan sikap yang memandang orang lain sebagai musuh.

Polarisasi umat, fanatisme kelompok, dan narasi radikal tetap eksis, bukan? Ia berkelindan dengan segala kebaikan yang biasanya banyak dilakukan di bulan Ramadhan. Radikalisasi tetap berlangsung, meskipun caranya boleh jadi lebih soft. Maka, Ramadhan tidak cukup dipahami sekadar sebagai ritual ibadah personal, melainkan momentum deradikalisasi hati manusia. Pada bulan ini, segala aspek keradikalan kita harus dibuang, disterilisasi, dan disembuhkan.

Sebagian dari Anda boleh jadi akan berkata, “ini mengada-ada”. Namun, perlu diketahui, radikalisme itu tidak lahir dari ideologi semata. Ia berakar dari kondisi batin yang keras, tertutup, dan kehilangan kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain. Ideologi sebatas alat pembenaran; sumber sejatinya ialah hati yang nir-empati. Dunia dipandang hitam-putih, kelompok lain dianggap ancaman, dan merasa dirinya paling benar, itulah pangkalnya. Spiritualitas yang dangkal itu biang keroknya.

Di situlah puasa menemukan makna substansialnya. Puasa merupakan latihan radikal untuk menahan ego, belajar bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan untuk menyerang, melainkan kemampuan untuk ‘mengendalikan diri’. Puasa itu meruntuhkan kesombongan, memaksanya merasakan keterbatasan, dan mengingatkan bahwa setiap orang, tanpa kecuali, pernah rapuh. Puasa adalah antidot dari sikap merasa superior yang notabene bahan bakar utama radikalisme.

Ramadhan juga menghidupkan kembali empati sosial yang kebanyakan mati di kehidupan modern. Rasa lapar bukan sekadar ujian fisik, melainkan pengalaman eksistensial yang mengorelasikan kita dengan penderitaan orang lain. Dalam keadaan lapar, idealnya, kita akan mudah memahami mengapa kemiskinan adalah realitas struktural yang membutuhkan solidaritas. Sedekah, zakat, dan berbagi menjelma sebagai ekspresi alami dari hati yang telah dilunakkan; tidak keras, tidak radikal.

Empati itulah yang bisa menjadi lawan efektif bagi ideologi radikal. Tak ada radikalisme yang bisa tumbuh dalam hati yang sensitif, atau peka, dengan merasakan penderitaan orang lain. Kita dibuat mampu melihat orang lain sebagai ‘sesama manusia’, bukan ‘simbol identitas’ yang perlu dimusuhi dan diserang jika berbeda. Radikal-terorisme itu hadir di hati orang yang nuraninya mati. Empati teroris itu mati, sehingga mereka merasa sedang melakukan kebaikan padahal sedang meneror.

Yang ironis, di era sekarang, Islam kerap direduksi jadi identitas politik yang memperkeras batas antara ‘kita’ dan ‘mereka’, membunuh empati yang merasakan kesamaan kita dengan mereka sebagai ‘hamba’. Jika tidak ditafakuri, Ramadhan akan terjebak jadi rutinitas seremonial tanpa daya transformasi sosial. Puasa dijalankan, tetapi mindset radikal tetap menyala. Tadarus berlangsung, tetapi narasi teror terus berseliweran. Masjid ramai, tetapi solidaritas sosial lemah.

Fenomena semacam itu menegaskan satu fakta: Ramadhan belum mampu menderadikalisasi hati kita. Ritual ke-Ramadhan-an kita sepenuhnya tidak memiliki dimensi spiritual, dan justru berjalan berdampingan dengan radikalisme. Padahal, jika ditelaah mendalam, Ramadhan itu mengandung pesan yang anti-radikalisme. Ramadhan adalah bulan rahmat, pengampunan, dan kasih sayang. Naif sekali jika seseorang tetap radikal dan ekstrem pikiran dan perilakunya di bulan ini.

Tak ada bulan lain dalam kalender Islam yang sedemikian menekankan pentingnya memaafkan, menahan amarah, dan memperbaiki hubungan sosial. Bahkan, puasa yang disertai dengan kemarahan dan permusuhan dianggap kehilangan esensinya—tersisa lapar semata. Artinya, Ramadhan secara teologis memang dirancang sebagai mekanisme untuk melembutkan dan menderadikalisasi kita. Seradikal apa pun kita, bulan ini adalah momentum penyembuhannya.

Deradikalisasi paling mendasar itu dimulai dari transformasi batin individu. Negara bisa membubarkan organisasi teror, aparat bisa menangkap para teroris, dan regulasi bisa membatasi diseminasi ideologi radikal. Namun semua itu hanya menyentuh permukaan jika hati kita, sebagai Muslim, tetap diselimuti kekerasan, kebencian, dan segala ekstremitas. Tanpa transformasi batin, radikalisme akan selalu eksis, bahkan sekalipun semua kelompok teror dihancurkan.

Ramadhan menawarkan pendekatan untuk mengubah manusia dari dalam, melalui disiplin spiritual, pengendalian diri, dan pembiasaan empati. Ramadhan merupakan bulan ibadah sekaligus proses rekonstruksi moral umat. Dari seseorang yang hatinya lembut, lahirlah relasi sosial yang erat; dari hubungan yang erat, tercipta ruang publik yang harmonis; dan dari harmoni ruang publik, radikalisme kehilangan taji dan radikalisasi tidak akan lagi laku.

Karena itu, Ramadhan tidak boleh berhenti pada perubahan perilaku semata. Bulan mulia ini mesti menjadi momentum untuk membangun kesadaran baru bahwa musuh terbesar kita adalah pikiran-pikiran radikal dan ekstrem dalam diri kita sendiri. Jika hati kita mampu dididik untuk menjadi empatik, sabar, dan terbuka, maka deradikalisasi tidak lagi menjadi proyek yang menakutkan, melainkan proses alami dari spiritualitas yang sehat berkat Ramadhan yang mulia.

Dengan demikian, makna terdalam Ramadhan ialah kemenangan melawan kecenderungan kita untuk berperilaku radikal atau menjadi korban radikalisasi. Ramadhan adalah pengingat tahunan bahwa Islam hadir untuk memanusiakan manusia, menyelamatkan kita dari kesesatan radikalisme, ekstremisme, apalagi terorisme. Ramadhan merupakan bulan di mana kita diberi kesempatan untuk kembali belajar menjadi hamba utuh yang saling berkasih dan merahmati sesama.

Harakatuna mengucapkan, “Selamat menunaikan ibadah puasa 1447 Hijriah”. Semoga Ramadhan kali ini membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik, terhindar dari radikalisasi dan segala wujud radikal-terorisme yang merusak Islam dan memecah-belah bangsa. []

Leave a Comment

Related Post