Ramadhan di Era Distraksi: Puasa dari Notifikasi, Bukan Sekadar Menahan Lapar

Harakatuna

19/02/2026

4
Min Read
Ramadhan di Era Distraksi: Puasa dari Notifikasi, Bukan Sekadar Menahan Lapar

Harakatuna.com – Ramadhan 1447 Hijriah telah di depan mata. Umat Islam di berbagai penjuru dunia menyambut bulan suci ini dengan penuh sukacita. Lazimnya, setiap Muslim menyusun daftar target ibadah yang hendak ditunaikan selama bulan penuh ampunan, seperti melaksanakan shalat tarawih, mengkhatamkan Al-Qur’an, memperbanyak sedekah dan infak, hingga menjaga kedisiplinan sahur. Namun demikian, terdapat satu hal yang kerap luput dari perhatian, yakni komitmen untuk “berpuasa” dari kebisingan notifikasi digital.

Selama ini, umat Islam telah terbiasa menahan lapar dan dahaga selama kurang lebih 13 jam. Akan tetapi, belum tentu mampu menahan diri untuk tidak membuka notifikasi telepon genggam selama satu jam, bahkan beberapa menit saja. Di era teknologi yang semakin canggih, pelaksanaan ibadah puasa tidak hanya menuntut pengendalian diri di dunia nyata, tetapi juga penguasaan diri di ruang digital, termasuk dalam menjaga pandangan dan aktivitas jari di media sosial.

Ramadhan di Tengah Gelombang Distraksi

Pada masa kini, distraksi menjadi tantangan utama dalam menjaga kekhusyukan ibadah. Bukan lagi semata rasa lapar, haus, atau kantuk, melainkan derasnya arus notifikasi, pesan singkat yang terus berdatangan, serta linimasa media sosial yang seakan tidak pernah berakhir. Situasi ini mendorong respons serba cepat dan tuntutan eksistensi yang berkelanjutan.

Kehadiran Ramadhan sejatinya merupakan momentum jeda untuk menyeimbangkan dimensi sosial dan spiritual dalam kehidupan manusia. Ramadhan tidak hanya mengajarkan pengendalian diri dari kebutuhan fisik, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menata ulang aktivitas duniawi. Sering kali, yang mengalami kelelahan bukanlah tubuh, melainkan pikiran yang terus-menerus menerima rangsangan. Puasa semestinya menjadi sarana pengendalian diri. Namun, makna kendali tersebut menjadi dipertanyakan apabila setiap beberapa menit tangan secara refleks menggulir layar gawai.

Puasa Digital sebagai Dimensi Pengendalian Diri

Makna shaum selayaknya diperluas, tidak hanya sebatas menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari berbagai bentuk distraksi. Menahan lisan dari ucapan kotor dan sia-sia menjadi kurang bermakna apabila jari masih aktif menyebarkan komentar negatif atau ujaran kebencian di ruang digital.

Rasulullah saw. bersabda:

“لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ”

Artinya: “Puasa bukan hanya untuk menahan diri dari makan dan minum. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan yang sia-sia dan perbuatan keji.” (HR. Ibnu Hibban)

Hadis tersebut menegaskan bahwa hakikat puasa bukan sekadar pengendalian fisik dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa juga berarti menahan diri dari al-laghu, yaitu perkataan sia-sia, ghibah, dan kebohongan, serta dari ar-rafats, yakni segala bentuk perbuatan maksiat yang menyimpang dari tuntunan syariat.

Dalam konteks kekinian, pengendalian tersebut relevan untuk diterapkan di ruang digital. Bayangkan apabila waktu setelah shalat Subuh tidak langsung diisi dengan membuka media sosial, menjelang berbuka tidak dihabiskan untuk menelusuri promosi dan diskon, serta malam hari tidak larut dalam tontonan yang kurang bermanfaat. Dengan demikian, ketenangan dan fokus dalam beribadah dapat lebih terjaga.

Puasa digital bukan berarti menolak teknologi. Sebaliknya, ia mengajarkan penggunaan teknologi secara proporsional. Perangkat digital dapat dimanfaatkan untuk aktivitas positif, seperti membaca Al-Qur’an atau mengikuti kajian daring. Permasalahan muncul ketika notifikasi dari berbagai platform justru menyita perhatian dan mengalihkan seseorang dari aktivitas produktif. Dalam hal ini, jeda menjadi sebuah kemewahan yang semakin langka di tengah riuhnya dunia maya.

Antara Keheningan dan Panggung Virtual

Di tengah maraknya konten dakwah digital, terdapat ironi yang patut direnungkan. Bulan yang identik dengan ketenangan justru beriringan dengan algoritma media sosial yang semakin agresif. Linimasa dipenuhi video tausiyah singkat, kutipan motivasi, hingga kompetisi kebaikan yang berpotensi berubah menjadi panggung virtual.

Situasi tersebut dapat memunculkan pertanyaan reflektif: apakah ibadah yang dilakukan benar-benar diniatkan untuk meraih ridha Allah Swt., atau sekadar mencari pengakuan dan validasi sosial? Ramadhan sejatinya mengajak pada keheningan batin, sementara media sosial kerap mendorong ekspresi performatif. Di sinilah letak ujian yang tidak selalu disadari.

Mengatur Ulang Perhatian di Bulan Suci

Puasa merupakan proses pembiasaan menuju jiwa yang lebih bersih. Ia menjadi sarana penyucian diri dengan melatih pengendalian emosi, menjaga lisan dari ucapan yang tidak layak, serta menahan diri dari perbuatan tercela. Dalam konteks digital, pengendalian tersebut mencakup kemampuan menahan jari dari komentar yang tidak pantas atau kritik yang berlebihan.

Langkah sederhana dapat dimulai pada Ramadhan 1447 Hijriah ini, seperti menetapkan waktu bebas gawai, tidak membawa ponsel ke meja makan atau ke dalam masjid, serta menyediakan ruang hening setelah sahur dan tarawih. Notifikasi yang bersifat penting tetap dapat diperiksa, khususnya yang berkaitan dengan pekerjaan. Namun, tidak semua notifikasi harus segera dilihat dan direspons.

Puasa sejati mencakup pengendalian jasmani dan rohani. Bukan hanya perut yang memerlukan latihan menahan diri, tetapi juga perhatian dan kesadaran agar tidak terjerumus pada hal-hal yang membawa kemudaratan. Jika selama ini puasa dimaknai sebagai menahan diri dari makanan, maka sudah saatnya ia juga dimaknai sebagai latihan menahan diri dari kebisingan digital. Dalam keheningan itulah hati dapat kembali peka terhadap bisikan kebaikan dan nilai-nilai spiritual yang mendalam.

Oleh: Muna Khansa Mufidah (Alumnus Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Salatiga. Guru di Planet Education Klaten, Article writer di Kumparan, Kompasiana, dan Geotimes).

Leave a Comment

Related Post