Harakatuna.com. Jakarta — Ancaman radikalisme kini tak lagi hadir dalam bentuk ledakan bom di tempat umum. Di era digital, ideologi kekerasan menyusup lebih halus melalui media sosial, siaran daring, hingga transaksi digital yang sulit dilacak. Transformasi ini menuntut kewaspadaan baru, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meresponsnya dengan menggaungkan gerakan Siap Jaga Indonesia—sebuah seruan kepada seluruh elemen bangsa untuk bersatu melawan radikalisme melalui kesadaran kolektif.
Kepala BNPT, Komjen Pol. Eddy Hartono, menegaskan bahwa ancaman terorisme kini lebih canggih dan tak kasat mata. “Dulu, terorisme identik dengan serangan fisik. Kini, mereka menggunakan ruang digital untuk menyebarkan narasi kebencian. Satu klik bisa menjadi pintu masuk ideologi radikal,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Senin (15/7).
Di tengah era globalisasi, jaringan teror lintas negara memanfaatkan teknologi dan konektivitas untuk memperluas pengaruh. Namun, Indonesia menunjukkan ketangguhannya. Memasuki usia ke-15, BNPT terus menjadi garda terdepan dalam pencegahan terorisme, dengan mengedepankan strategi yang tidak hanya bersifat represif, tetapi juga humanis dan edukatif. “Perjalanan 15 tahun BNPT adalah wujud nyata dari sinergi dan kolaborasi pemerintah dengan partisipasi aktif masyarakat,” lanjut Eddy.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan tidak mungkin diraih hanya dengan pendekatan kekerasan. “Kami percaya bahwa pencegahan tidak hanya dilakukan dengan strategi, tetapi dengan hati yang ikhlas, melalui langkah edukatif dan pembinaan secara komprehensif,” katanya.
Sejak tahun 2023, Indonesia berhasil mencatatkan zero attack atau nihil serangan terorisme. Di balik prestasi ini, tersimpan kisah inspiratif: mantan narapidana terorisme (napiter) yang kini menjalani usaha halal, korban teror yang bangkit dari trauma, hingga komunitas yang memilih jalan damai meski pernah mengalami luka mendalam.
BNPT secara aktif mendampingi proses reintegrasi para eks napiter dan membangun jejaring perdamaian melalui kolaborasi dengan tokoh agama, komunitas lokal, dan organisasi masyarakat sipil. “BNPT akan terus hadir di tengah masyarakat, menjadi mitra yang solutif dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Eddy.
Psikolog forensik Dra. Reni Kusumowardhani, M.Psi., yang terlibat dalam program rehabilitasi eks napiter, menilai capaian zero attack sebagai kemenangan seluruh bangsa.
“Kita semua punya prestasi zero attack, dan ini bukan hanya keberhasilan BNPT, tetapi juga prestasi masyarakat dan bangsa Indonesia,” ucap Reni.
Kolaborasi Nasional dalam RAN PE
Keberhasilan Indonesia juga ditopang oleh pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE), yang melibatkan lintas sektor: dari aparat keamanan, guru, ulama, seniman, hingga pemuda lokal. Pendekatan RAN PE menekankan dialog dan pemberdayaan komunitas sebagai strategi utama dalam pencegahan ekstremisme.
Langkah ini terbukti efektif dalam memperkuat daya tahan masyarakat terhadap infiltrasi ideologi kekerasan. Pemerintah pun menyadari bahwa mencegah terorisme bukan hanya soal keamanan, melainkan juga tentang merawat kohesi sosial dan kepercayaan publik.
Namun demikian, ancaman belum sepenuhnya sirna. Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, mengingatkan bahwa dampak terorisme lebih luas dari sekadar korban jiwa.
“Terorisme bisa sangat menghancurkan, bukan hanya secara fisik dan ekonomi, tetapi juga dalam merusak kepercayaan sosial. Hal ini bisa menciptakan situasi dan dampak yang sangat sulit diatasi,” tuturnya.
Karena itu, pendekatan lintas batas dan kesadaran bersama menjadi mutlak dalam menghadapi radikalisme di era digital.
Gerakan Siap Jaga Indonesia menjadi wadah baru bagi masyarakat untuk berkontribusi aktif. BNPT mengajak seluruh warga, dari ruang kelas, masjid, media sosial, hingga meja makan keluarga, untuk menjadi bagian dari perjuangan melawan narasi kebencian.
Langkah sederhana seperti melaporkan konten radikal, mengedukasi keluarga tentang toleransi, atau membangun ruang dialog menjadi bagian penting dari visi Indonesia Emas 2045.
Indonesia telah membuktikan bahwa luka dapat disembuhkan dan yang patah bisa tumbuh kembali. Dengan menjaga pikiran, narasi, dan kemanusiaan, bangsa ini bersiap menjemput masa depan yang lebih damai.







Leave a Comment