Harakatuna.com – Selama dua dekade terakhir, diskursus tentang radikalisme selalu berfokus pada ideologi, jaringan organisasi, atau doktrin keagamaan tertentu. Namun, perkembangan teknologi digital menunjukkan bahwa radikalisasi tidak lagi semata-mata lahir dari ruang ideologis, melainkan juga dari arsitektur teknologi itu sendiri. Dalam konteks inilah muncul konsep yang semakin banyak dibahas dalam penelitian mutakhir: algorithmic radicalization atau radikalisasi algoritmik.
Radikalisasi algoritmik merujuk pada proses ketika sistem rekomendasi dan algoritma medsos secara tidak langsung mendorong pengguna menuju konten yang semakin ekstrem. Fenomena ini bukan terjadi karena platform secara eksplisit mempromosikan ideologi tertentu, melainkan karena logika dasar ekonomi platform: mengejar engagement yakni klik, komentar, share, dan waktu menonton.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa algoritma yang memprioritaskan popularitas dan keterlibatan pengguna dapat secara sistematis memperkuat polarisasi dan ekstremisme. Dalam sebuah studi eksperimental yang dipublikasikan di arXiv tahun 2025, para peneliti menemukan bahwa algoritma ranking yang berbasis popularitas dan personalisasi cenderung menaikkan posisi konten yang memicu keterlibatan tinggi, sementara pengguna dengan pandangan lebih ekstrem biasanya justru lebih aktif berinteraksi. Kombinasi tersebut membuat sistem secara otomatis mendorong pengguna menuju konsumsi konten yang semakin ekstrem.
Secara sederhana, algoritma tidak memiliki ideologi. Ia hanya mengikuti logika matematika: konten yang paling menarik perhatian akan ditampilkan lebih banyak. Masalahnya, dalam banyak kasus, konten yang paling menarik perhatian justru adalah konten yang provokatif, emosional, atau kontroversial. Akibatnya, konten moderat sering kalah bersaing dengan narasi yang lebih tajam dan ekstrem.
Dalam ekosistem digital seperti ini, radikalisasi tidak lagi selalu membutuhkan organisasi formal atau jaringan kaderisasi. Seorang pengguna bisa saja masuk ke lorong radikalisasi hanya karena mengikuti rekomendasi konten secara beruntun, fenomena yang sering disebut sebagai “rabbit hole effect” dalam studi media digital. Penelitian mengenai ekstremisme online bahkan menunjukkan bahwa komunitas digital mampu membentuk identitas ideologis baru melalui pola komunikasi yang berulang dan terstruktur di ruang virtual.
Fenomena ini bukan sekadar teori akademik. Investigasi jurnalistik terbaru menunjukkan bagaimana platform digital menjadi ruang subur bagi radikalisasi generasi muda. Di Asia Tenggara, misalnya, sejumlah remaja diketahui terpapar propaganda ekstrem melalui komunitas online yang memuliakan pelaku kekerasan dan menyebarkan simbol-simbol ideologi ekstrem.
Dengan kata lain, radikalisasi di era digital tidak lagi hanya diproduksi oleh manusia, tetapi juga oleh mesin yang mengatur arus informasi. Platform digital tidak menciptakan ideologi ekstrem, tetapi struktur algoritmiknya dapat mempercepat penyebaran dan normalisasi ideologi tersebut.
Inilah paradoks utama zaman platform: teknologi yang diciptakan untuk memperluas akses informasi justru dapat membangun ekosistem radikalisasi yang sangat efisien.
Kekalahan Moderasi
Untuk memahami bagaimana algoritma dapat mendorong radikalisasi, para peneliti mengembangkan kerangka algorithmic radicalization. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Tucker et al. (2024) dalam studi mereka tentang rekomendasi konten ekstrem di YouTube.
Mereka menjelaskan bahwa algoritma memiliki tiga mekanisme utama: personalization (personalisasi), amplification (amplifikasi), dan engagement optimization (optimasi keterlibatan). Ketiga mekanisme ini secara bersamaan dapat menciptakan jalur radikalisasi yang sistemik, bahkan tanpa keterlibatan manusia yang sengaja memprovokasi.
Mekanisme personalisasi membuat platform menampilkan konten sesuai minat pengguna, tapi minat itu ditafsirkan secara sempit oleh algoritma. Pengguna yang mulai menonton konten ideologis ringan akan secara cepat diarahkan ke konten lebih ekstrem.
Amplifikasi terjadi ketika konten yang paling banyak memicu interaksi (klik, komentar, share) diprioritaskan, sehingga narasi ekstrem mendapatkan visibilitas lebih tinggi daripada konten moderat. Sedangkan optimasi keterlibatan mendorong platform untuk terus “menyodorkan” konten yang membuat pengguna tetap berada di layar, yang sering kali berupa konten emosional, provokatif, atau sensasional.
Fenomena ini erat kaitannya dengan kapitalisme digital dan ekonomi perhatian. Seperti dijelaskan oleh Shoshana Zuboff (2019) dalam The Age of Surveillance Capitalism, platform digital mengubah perhatian pengguna menjadi komoditas. Konten ekstrem lebih efektif memicu keterlibatan, sehingga secara tidak langsung algoritma “mendukung” narasi yang berpotensi radikal karena itu menguntungkan secara ekonomi bagi perusahaan platform.
Akibatnya, konten moderat termasuk dakwah Islam yang menekankan toleransi, keseimbangan, dan rasionalitas selalu kalah dalam kompetisi algoritmik. Dalam konteks ini, moderasi ideologi menjadi kurang terlihat, karena tidak memicu interaksi intens seperti kemarahan, ketakutan, atau sensasi.
Miriam Metzger (2025) dalam penelitiannya di Journal of Digital Media & Policy menegaskan bahwa konten moderat yang bersifat edukatif atau persuasif cenderung memiliki tingkat engagement lebih rendah dibanding konten ekstrem, sehingga peluangnya untuk direkomendasikan secara algoritmik juga lebih rendah.
Konsekuensinya, para penggiat dakwah moderat menghadapi tantangan ganda: mereka bukan hanya bersaing dengan ideologi ekstrem, tetapi juga dengan logika sistem digital yang mendistorsi visibilitas konten. Algoritma tidak memihak nilai kebaikan atau kebenaran, tetapi memihak reaksi manusia yang paling emosional. Ini adalah salah satu dilema besar era informasi: kebaikan moderat bisa “tersingkir” karena kalah dalam perlombaan perhatian digital.
Upaya Mitigasi
Dampak radikalisasi algoritmik melampaui ranah individual dan menyentuh struktur sosial. Penelitian Lewis et al. (2024) menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap konten ekstrem dapat meningkatkan polaritas pandangan, intoleransi, dan potensi kekerasan simbolik pada pengguna muda.
Di banyak kasus, interaksi dengan komunitas online ekstrem juga memperkuat identitas kelompok yang tertutup, sehingga proses radikalisasi menjadi semakin sulit diintervensi. Fenomena ini semakin kompleks di negara-negara dengan penetrasi internet tinggi dan penggunaan media sosial yang masif, termasuk Indonesia.
Selain dampak sosial, radikalisasi algoritmik juga menimbulkan dilema teologis bagi dakwah Islam moderat. Konten yang bersifat toleran, edukatif, dan berbasis nilai universal sering kalah “perhatian” dibanding konten ekstrem yang emosional.
Gabriel Weimann (2025) dalam Terrorism and Political Violence menyebut bahwa algoritma “memprioritaskan narasi yang memancing respon cepat, bukan narasi yang membangun pemahaman mendalam.” Hal ini menjelaskan mengapa pesan moderat sering sulit menembus “gelembung digital” yang terbentuk di platform media sosial.
Untuk mitigasi, beberapa strategi bisa diterapkan. Pertama, regulasi platform digital yang menuntut transparansi algoritma dan pembatasan amplifikasi konten ekstrem, seperti yang sedang diuji coba di Uni Eropa melalui Digital Services Act (2023).
Kedua, literasi digital bagi pengguna, terutama remaja dan mahasiswa, untuk memahami bagaimana rekomendasi konten bekerja dan bagaimana menghindari “rabbit hole” radikalisasi. Ketiga, penguatan dakwah Islam moderat secara kreatif, memanfaatkan narasi visual, storytelling, dan komunitas online yang menarik engagement, agar pesan moderat dapat bersaing dalam attention economy.
Kesimpulannya, radikalisasi algoritmik adalah fenomena baru yang lahir dari interaksi manusia dan mesin, bukan sekadar ideologi. Platform digital tidak berniat menciptakan ekstremisme, tetapi logika algoritmik yang mengejar engagement secara tidak sadar mempercepat proses radikalisasi.
Era digital menuntut pendekatan baru: literasi kritis, regulasi cerdas, dan dakwah yang adaptif terhadap dinamika platform. Tanpa langkah-langkah ini, pesan moderat berisiko tersingkir, sementara ekstremisme mendapatkan ruang yang semakin luas, bukan karena kebenaran ideologinya, tetapi karena logika matematis algoritma.
Referensi
Tucker, J., et al. (2024). Algorithmic Radicalization in Social Media Platforms. arXiv:2510.24354
Metzger, M. (2025). Engagement and Extremism: Visibility of Moderate Content in Digital Media. Journal of Digital Media & Policy
Lewis, R., et al. (2024). Exposure to Online Extremism and Polarization. Computational Social Science Review
Weimann, G. (2025). Terrorism and Political Violence: Online Radicalization. Taylor & Francis
Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism. PublicAffairsarXiv:2501.04820 – Amplification and the Rabbit Hole Effect in Social Media









Leave a Comment