Harakatuna.com – Tidak ada yang instan di dunia ini. Bahkan membuat mi instan, kopi, dan susu sachet sekalipun. Ia tetap membutuhkan proses dalam pembuatannya, sampai kemudian disajikan di hadapan kita untuk kemudian dinikmati. Dalam konteks menulis, atau literasi, proses merupakan salah satu hal yang memegang peranan paling penting dan dominan, tanpa proses mustahil seorang penulis bisa berkembang dan belajar dari pengalamannya yang sudah-sudah.
Proses menjadi perwujudan paling nyata dari bagaimana nantinya seorang penulis berdiri di titik mana ia sekarang berada. Proses pulalah yang membentuk seorang penulis untuk menjadi penulis semenjana, atau penulis profesional yang sudah selesai dalam masalah ide dan teknik kepengrajinannya.
Proses ini pulalah yang menentukan bagaimana seorang penulis bisa dinilai bagaimana karyanya dari hari ke hari atau dari tahun ke tahun. Apakah ada peningkatan mutu, atau malah sebaliknya. Karena dari proses ini pula seseorang bisa melihat dengan gamblang bagaimana seorang penulis melakukan proses kreatifnya dengan jelas dan terang.
Proses memang terkadang mengkhianati hasil (sering bahkan), tapi bukan itu inti dari tulisan ini. Saya hanya ingin mengatakan tanpa melalui proses, mustahil seorang penulis bisa menulis dengan baik dan benar. Proses inilah yang benar-benar membedakan dan menentukan apakah seorang penulis itu benar-benar telah berkembang pesat atau tidak. Tidak jarang dari kita seringkali menganggap remeh apa yang disebut sebagai proses ini.
Banyak di antara kita yang menginginkan hasil instan tanpa mau bersusah payah dan bertungkus lumus dalam proses yang penuh perjuangan. Banyak yang ingin hasil maksimal tapi tidak mau berproses. Padahal bermimpi saja membutuhkan proses, tapi mengapa kebanyakan dari kita malah ingin hasil maksimal tanpa mau berusaha dan melalui proses yang berdara-darah itu, dalam konteks ini tentu saja proses kreatif seorang penulis.
Mengapa proses ini menjadi penting dalam laku kepenulisan? Karena ia tidak hanya akan menentukan apakah karya yang ia buat selama ini teruji atau tidak, tapi juga mental penulis itu sendiri. Proses yang berdarah-darah inilah yang akan membentuk seorang penulis secara karya dan mentalnya.
Seorang penulis yang melalui proses belajar, proses berlatih, proses meningkatkan kapasitas bacaan, proses menyerap nilai di kehidupan sosial, tentu akan sangat berbeda dengan seorang penulis yang hanya berbaring di kamar tanpa pernah membaca buku maupun membaca fenomena di dalam dirinya maupun di dalam masyarakatnya.
Hal ini tidak hanya akan menimbulkan perbedaan signifikan dalam kaitannya dengan bahan bacaan, kecakapan menangkap ide, kekayaan kosa kata dan pemilihan diksi yang kuat. Tapi juga sikap mental seorang penulis, apakah ia bisa tahan banting dengan proses yang sedang ia jalani sebagai seorang penulis, misalnya dalam hal ini ditolak penerbit atau media misalnya, atau yang lebih parah ditolak pembacanya.
Sikap seorang penulis yang dimatangkan oleh proses dan pengalaman tentu saja akan jauh berbeda dengan mereka yang tidak melalui proses yang berdarah-darah. Bagaimana sikap kita sebagai seorang penulis ketika dihadapkan pada realita, pembacaan seorang penulis terhadap fenomena di masyarakat, kepekaan seorang penulis yang dilatih dan dibenturkan dengan nilai di masyarakat. Semuanya merupakan proses dan jam terbang yang mesti dimiliki oleh setiap penulis.
Mengapa proses ini menjadi penting? Karena seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa tanpa proses seorang penulis hanya menjadi cangkang kosong yang tak memiliki pengalaman dan pengamatan hidup yang mumpuni. Terlebih ia juga tidak memiliki ketangguhan dan sikap mental yang kuat dibandingkan dengan penulis-penulis yang berproses dan ditempa oleh waktu dan hal-hal pahit yang pernah ia alami dalam hidup.
Hal ini juga akan berdampak pada karya yang akan ia hasilkan dari tangannya, dari kepalanya, dari hatinya. Karena semuanya memiliki keterkaitan dan kelindan yang benar-benar bisa dilacak keberadaan dan eksistensi antara satu dengan yang lain. Proseslah yang membedakan, tanpa proses mustahil seorang penulis tangguh akan terlahir.
Memang setiap orang atau bahkan setiap penulis memiliki proses yang berbeda-beda dalam laku kekaryaannya. Mereka tidak bisa dipukul rata, karena memang setiap proses kreatif seorang penulis itu berbeda-beda. Tapi yang bis akita lihat dan kita nilai kemudian adalah daya tahannya. Bagaimana seorang penulis yang bertahun-tahun terus menggeluti dunia kepenulisan yang mungkin tidak memberikan kepastian dan jaminan hidup misalnya. Ini membutuhkan semacam proses, nekat, dan kekeraskepalaan yang tak kenal ampun.
Proses akan selalu memegang peranan penting apakah seorang penulis itu bertumbuh atau tetap diam di tempat. Dan seorang penulis itu harus menikmati setiap proses yang tengah ia hadapi. Ia harus menikmatinya, dan syukur-syukur bisa mengambil pelajaran dari tiap proses perjalanannya dari awal ia belajar menulis hingga hari ini, yang tetap terus menulis, dan menulis. Karena bagaimana pun juga, memang begitulah proses menjadi seorang penulis.









Leave a Comment