Harakatuna.com – Pidato Prabowo Subianto dalam pembukaan Konferensi Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC) ke-19 di Jakarta beberapa hari lalu berhasil memukau ratusan delegasi dari 37 negara anggota OKI (Organisasi Kerja Sama Islam). Pidato tersebut dinilai sejalan dengan tema Konferensi Tingkat Tinggi Silver Jubilee MPR OKI yang mengangkat topik “Good Governance and Strong Institutions as Pillars of Resilience” (Tata Kelola yang Baik dan Lembaga yang Kuat sebagai Pilar Ketahanan).
Dalam pidatonya, Prabowo Subianto menekankan pentingnya keteladanan kepemimpinan melalui nilai-nilai moral dan keagamaan, dengan mencontohkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam sebagai fondasi ketahanan umat.
Kepiawaian Prabowo dalam menguraikan sejarah peradaban Islam dan menarik inspirasi darinya untuk memperkuat ketahanan dunia Islam terlihat saat ia menyebut nama-nama seperti Salahuddin Al-Ayyubi, Khalid bin Walid, Umar bin Khattab, dan Muhammad Al-Fatih. Penyampaian tersebut mendapat standing ovation dari para delegasi yang hadir.
Menurut Prabowo, untuk membangun tata kelola negara yang baik dan kuat, para pemimpin dunia Islam perlu meneladani sosok-sosok besar tersebut. Ia pun mengajak negara-negara OKI untuk bersatu dan belajar dari sejarah kepemimpinan Islam yang telah terbukti mampu menghadapi tantangan zaman.
Salahuddin Al-Ayyubi: Persatuan Umat sebagai Kekuatan Strategis
Prabowo memulai pidatonya dengan menyebut nama Salahuddin Al-Ayyubi, sosok yang menjadi simbol kejayaan Islam berkat kekuatan persatuan. Salahuddin, panglima besar dari Dinasti Ayyubiyah, dikenal karena keberhasilannya menyatukan umat Islam yang sebelumnya terpecah-belah pada masa Perang Salib.
Di tengah konflik politik dan sektarian di Timur Tengah, Salahuddin tampil sebagai pemimpin yang berhasil mempersatukan Sunni dan Syiah untuk membebaskan Baitul Maqdis dalam Pertempuran Hattin (1187 M). Prabowo menegaskan bahwa jika umat Islam ingin kuat dan bermartabat di kancah global, maka jalur utamanya adalah melalui persatuan. Dalam konteks kekinian, di mana dunia Islam dilanda konflik internal seperti ego sektoral dan polarisasi politik, pesan ini menjadi sangat relevan.
Meneladani Salahuddin, Prabowo mendorong agar para pemimpin Islam membangun koalisi strategis dan menjadikan solidaritas umat sebagai kekuatan diplomatik yang bermartabat. Hal ini dapat diwujudkan dengan memperkuat kerja sama di bidang ekonomi, budaya, dan politik untuk mempererat persatuan umat Islam secara global.
Khalid bin Walid: Ketegasan dan Loyalitas Tanpa Pamrih
Tokoh kedua yang disebut Prabowo adalah Khalid bin Walid (lahir 592 M), panglima perang legendaris pada masa Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin, yang dikenal dengan julukan “Pedang Allah yang Terhunus.” Dalam pidatonya, Prabowo menekankan bahwa Khalid adalah teladan pemimpin lapangan yang tidak hanya unggul dalam strategi militer, tetapi juga memiliki loyalitas tak tergoyahkan terhadap kebenaran.
Khalid adalah simbol ketegasan. Ia tidak ragu mengambil keputusan sulit di medan perang, tetapi juga tidak mencari pujian atau jabatan demi kepentingan pribadi. Bahkan ketika dicopot dari jabatan panglima oleh Khalifah Umar bin Khattab, ia tetap bertempur di garis depan tanpa sedikit pun menunjukkan protes. “Loyalitas dan pengabdian seperti inilah yang harus dimiliki pemimpin masa kini,” ujar Prabowo.
Melalui sosok Khalid bin Walid, Prabowo ingin menanamkan nilai-nilai keberanian, integritas, dan kesetiaan terhadap amanah—bukan terhadap kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, apalagi kekuasaan atau popularitas. Ini merupakan pesan moral bagi seluruh pemimpin Muslim: jangan berjuang demi nama, tapi berjuanglah demi umat dan demi masyarakat.
Umar bin Khattab: Keadilan sebagai Fondasi Kepemimpinan
Dalam lanjutan pidatonya, Prabowo menyebut Umar bin Khattab sebagai teladan utama bagi pemimpin yang menjunjung tinggi keadilan sosial dan moralitas publik. Umar dikenal sebagai khalifah yang hidup sederhana, tidak menciptakan jarak dengan rakyatnya, dan sangat tanggap terhadap penderitaan kaum miskin.
Umar juga tercatat dalam sejarah sebagai pembaharu sistem pemerintahan Islam—mulai dari pembentukan lembaga kehakiman, administrasi perpajakan, hingga pelaksanaan jaminan sosial. Prabowo menilai bahwa di tengah dunia yang dilanda ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan hukum, sosok seperti Umar sangat relevan untuk dijadikan cermin dan inspirasi.
“Tanpa keadilan, kekuasaan akan kehilangan legitimasi,” ujar Prabowo. Sebagai calon Presiden, ia menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan keadilan. Sebab kekuasaan tanpa keadilan hanya akan melahirkan pemberontakan, sedangkan keadilan yang konsisten akan membangun kepercayaan dan memperkuat persatuan.
Muhammad Al-Fatih: Visi Peradaban dan Kepemimpinan Inovatif
Terakhir, Prabowo menyebut Muhammad Al-Fatih—sang penakluk Konstantinopel—sebagai simbol dari kepemimpinan visioner dan inovatif dalam Islam. Al-Fatih mulai mempersiapkan penaklukan itu sejak usia muda, dengan disiplin ilmu yang tinggi, strategi militer yang matang, penguasaan teknologi modern, serta kedalaman spiritual dan keyakinan kepada Allah Swt.
Kemenangan Muhammad Al-Fatih bukan sekadar kemenangan militer, tetapi juga merupakan tonggak kemenangan peradaban. Ia membuktikan bahwa seorang pemimpin Muslim mampu membangun kota modern yang multikultural, toleran, dan berdaya saing tinggi.
Prabowo menggarisbawahi bahwa umat Islam tidak hanya harus tangguh secara militer, tetapi juga unggul dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan pembangunan peradaban. Dalam era digital dan lanskap geopolitik yang terus berubah, Prabowo menekankan pentingnya pemimpin Muslim memiliki visi global, kemampuan teknokratis, serta keberanian mengambil langkah-langkah besar—sebagaimana dilakukan oleh Al-Fatih pada abad ke-15.
Komitmen terhadap Solidaritas Palestina
Prabowo juga menyuarakan komitmen teguh negara Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan dan kedaulatan Palestina. Ia menegaskan bahwa rakyat Palestina saat ini tengah mengalami penderitaan yang luar biasa, dan dunia Islam tidak boleh berdiam diri. Dalam pidatonya yang lugas dan berani, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia tidak akan mundur satu langkah pun dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina.
Sikap ini mencerminkan bahwa pemikiran keislaman Prabowo tidak bersifat historis atau simbolik semata, tetapi juga praktis dan kontekstual—terutama dalam konteks diplomasi internasional. Solidaritas terhadap Palestina menjadi bagian penting dari etika Islam global yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan kemanusiaan universal.
Islam Wasathiyah: Jalan Tengah dalam Diplomasi dan Kepemimpinan
Salah satu poin penting lainnya dari pidato Prabowo adalah penekanannya terhadap konsep Islam Wasathiyah—Islam jalan tengah atau moderat. Dalam menghadapi tantangan dunia yang dipenuhi konflik, ekstremisme, dan polarisasi ideologi, Prabowo menyerukan agar umat Islam menjadikan toleransi, keseimbangan, dan kerja sama lintas bangsa sebagai prinsip utama dalam bertindak dan memimpin.
Ia memuji nilai-nilai Islam Nusantara yang selama ini menjadi contoh nyata dari praktik Islam yang damai, toleran, dan penuh kearifan lokal. Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa kekuatan umat Islam terletak bukan pada upaya memperuncing perbedaan, melainkan pada kemampuan untuk merangkul perbedaan, bukan memperuncingnya.
Membangun Kepemimpinan Islam yang Berintegritas
Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Konferensi Parlemen OKI ke-19 adalah lebih dari sekadar pernyataan politik. Ia merupakan ajakan reflektif untuk membangun kembali peradaban Islam melalui nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para tokoh besar umat Islam.
Dengan menyatukan gagasan persatuan ala Salahuddin, keberanian Khalid bin Walid, keadilan Umar bin Khattab, dan visi Muhammad Al-Fatih, Prabowo merumuskan arah baru kepemimpinan Islam di tengah dunia yang penuh tantangan. Kepemimpinan seperti inilah yang diharapkan bisa membawa umat Islam menuju masa depan yang bermartabat, kuat, dan adil.
Pokok-pokok pemikiran kepemimpinan strategis dengan mengambil filosofi dan inspirasi pada tokoh-tokoh besar Islam ala Prabowo Subianto ini digambarkan begitu komprehensif dalam buku Islam ala Prabowo Subianto: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam yang ditulis oleh Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Prof. Dr. Noor Achmad, Idrus Marham, Prof. Dr. Said Aqiel Sirodj, KH. Dr. Asad Said Ali, Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono, dan lain-lain.
Para tokoh besar ini berupaya mengupas gagasan kepemimpinan Islam modern ala Prabowo Subianto. Sebuah model kepemimpinan Prabowo Subianto yang menjadi cara Prabowo dalam menerjemahkan keimanan dan nilai-nilai spiritualnya dengan model kepemimpinan yang mengedepankan teladan, akhlak, keikhlasan, dan menjadikan kepentingan masyarakat dan bangsa di atas kepentingan apa pun.








Leave a Comment