Polri Ajak Masyarakat Tangkal Radikalisme di Tengah Tantangan Era Digital

Ahmad Fairozi, M.Hum.

31/05/2025

2
Min Read
Polri Ajak Masyarakat Tangkal Radikalisme di Tengah Tantangan Era Digital

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama memperkuat ketahanan terhadap penyebaran paham radikalisme dan terorisme, terutama di tengah arus deras informasi digital yang sulit terbendung. Ajakan tersebut disampaikan Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri, Kombes Pol Erdi A. Chaniago, dalam forum diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion/FGD) yang diadakan bersama berbagai elemen masyarakat, Jumat (30/5).

Dalam paparannya, Kombes Erdi menekankan pentingnya kesiapan masyarakat menghadapi tantangan di era digital, terutama dalam menyikapi pengaruh negatif dari dunia maya. “Kita jangan bermimpi kembali ke era konvensional. Sekarang adalah era digitalisasi, dan kita tidak bisa memusuhi perkembangan zaman. Yang perlu kita lakukan adalah mengikuti dan menyikapinya dengan bijak,” ujar Erdi di hadapan peserta FGD yang terdiri dari mahasiswa, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga tokoh pemuda.

Ia juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap pergeseran pola kenakalan remaja yang kini lebih banyak berasal dari interaksi digital di dalam kamar pribadi dibandingkan pengaruh lingkungan sosial. “Kenakalan anak-anak kita sekarang tidak lagi berasal dari teman atau lingkungan pergaulan. Justru, sumbernya ada di dalam rumah, di kamar mereka sendiri — melalui gadget dan akses internet yang tidak terkontrol,” jelasnya.

Dalam forum tersebut, Erdi mendorong para orang tua untuk lebih aktif mengawasi dan mendampingi anak-anak dalam menggunakan teknologi dan media sosial, mengingat sebagian besar aktivitas kehidupan saat ini telah berpindah ke ruang digital. “Gawai sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan, baik untuk urusan keluarga, pekerjaan, maupun aktivitas sosial. Karena itu, penting bagi kita untuk menggunakan teknologi secara bijak,” tambahnya.

FGD juga menghadirkan narasumber spesial, yakni Ustadz Muchtar Daeng Lau — mantan narapidana kasus terorisme yang kini aktif berdakwah dan mengedukasi masyarakat sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa. Dalam kesempatan itu, Ustadz Muchtar mengingatkan masyarakat akan pentingnya menyaring informasi sebelum membagikannya, terutama di media sosial, guna menghindari penyebaran hoaks dan paham yang menyesatkan.

“Saring sebelum sharing. Karena tanpa sadar, menyebarkan informasi tanpa sumber yang jelas itu bisa menambah dosa,” ujarnya.

Ia mencontohkan maraknya konten keagamaan yang keliru dan tidak berdasar, terutama yang disebarluaskan secara masif melalui grup media sosial. “Hadis-hadis yang belum tentu sahih sering kali beredar tanpa verifikasi. Dulu, orang mencari prestasi di lingkungan sekitarnya, tapi sekarang cukup unggah ke media sosial. Yang dicari hanya like, share, dan komentar,” imbuhnya.

FGD ini diharapkan menjadi wadah refleksi dan edukasi bersama dalam membangun daya tangkal masyarakat terhadap ideologi ekstrem, sekaligus memperkuat peran keluarga dan komunitas dalam menjaga generasi muda dari pengaruh radikal.

Leave a Comment

Related Post